Harga Minyak Menguat Tipis di Tengah Ketegangan Hormuz: Iran Beri Sinyal Tak Mudah Berdamai
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent dan WTI naik tipis pada Senin, tetapi kenaikan tertahan oleh sikap Iran yang menuntut kompensasi AS sebelum membuka kembali Selat Hormuz.
- Selat Hormuz yang mengangkut seperlima minyak dunia masih belum beroperasi normal, sementara serangan Houthi ke kilang Saudi Aramco menambah risiko pasokan.
- Analis memperkirakan harga minyak akan tetap volatil, dengan potensi penurunan jika negosiasi berhasil, namun risiko eskalasi geopolitik masih membayangi.

Harga minyak mentah dunia kembali bergerak naik pada perdagangan Senin (10/8), ditopang harapan akan dibukanya kembali Selat Hormuz. Namun, laju kenaikan itu tertahan setelah Iran menegaskan bahwa Amerika Serikat harus memenuhi sejumlah tuntutan, termasuk kompensasi atas serangan yang dilancarkan Washington, sebelum jalur air strategis tersebut bisa kembali dilalui kapal tanker.
Brent crude tercatat menguat 67 sen atau 0,8 persen ke level 84,22 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 54 sen atau 0,7 persen menjadi 78,72 dolar AS per barel. Padahal, pekan lalu kedua patokan harga tersebut sempat anjlok lebih dari 7 persen setelah muncul spekulasi bahwa Iran dan Oman hampir mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang sebelum konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari lalu mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, pada Minggu (9/8) menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman memang sudah dalam tahap akhir. Namun, ia menegaskan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali jika Washington memenuhi syarat-syarat lain, termasuk membayar kompensasi atas serangan yang meluas ke wilayah Iran. Araqchi juga menegaskan bahwa Iran tidak akan memulai perundingan dengan AS selama Washington masih melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni lalu.
Sikap tegas Teheran ini membuat pasar berada dalam posisi gamang. Di satu sisi, ada optimisme bahwa solusi diplomatik akan segera tercapai, tetapi di sisi lain, ketidakpastian masih tinggi. Analis SEB Research menilai bahwa meskipun selat tersebut pada dasarnya masih tertutup, harga minyak yang bertahan di kisaran 80โ85 dolar AS per barel mencerminkan harapan akan adanya penyelesaian dalam waktu dekat.
Ancaman terhadap pasokan juga datang dari kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran. Mereka mengklaim telah menyerang kilang minyak Saudi Aramco di Jazan pada Minggu. Serangan ini terjadi hanya dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan sekutu Sunni, Turki dan Pakistan, sebagai respons terhadap meningkatnya ketidakstabilan regional akibat perang AS-Israel melawan Iran yang beraliran Syiah.
Di sisi lain, perusahaan minyak nasional Uni Emirat Arab (UAE), ADNOC, mengungkapkan bahwa 15 kapalnya telah diserang saat melintasi Selat Hormuz sejak konflik dimulai. Angka ini menunjukkan betapa rawan jalur pelayaran tersebut, yang menjadi urat nadi pasokan energi global.
Bagi Indonesia, dinamika harga minyak ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga akan membebani anggaran subsidi energi dan berpotensi mendorong inflasi. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini, terutama dalam menyusun asumsi makro APBN. Jika harga minyak terus bertahan di atas 80 dolar AS, beban subsidi BBM dan listrik bisa membengkak, memaksa pemerintah untuk mencari sumber pendanaan tambahan atau menyesuaikan kebijakan energi.
Para analis memperingatkan bahwa volatilitas akan terus berlanjut. Sugandha Sachdeva, pendiri SS WealthStreet, sebuah lembaga riset di New Delhi, mengatakan bahwa kemajuan signifikan menuju pemulihan pelayaran tanpa hambatan dapat menekan harga minyak, sementara kegagalan negosiasi atau gangguan pasokan baru dapat dengan cepat menghidupkan kembali premi risiko geopolitik. Pasar tampaknya masih menunggu kepastian, dan setiap perkembangan dari negosiasi Iran-Oman akan menjadi penentu arah harga dalam beberapa pekan ke depan.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah AS bersedia memenuhi tuntutan Iran, atau justru eskalasi baru akan terjadi? Jawabannya tidak hanya akan menentukan arah harga minyak, tetapi juga stabilitas pasokan energi global dan dampaknya terhadap perekonomian negara-negara berkembang seperti Indonesia.



