Harga Daging Sapi Tembus Rp200 Ribu per Kilogram, BPS Catat Rekor Tertinggi
Baca dalam 60 detik
- Badan Pusat Statistik mencatat harga daging sapi di tingkat konsumen mencapai Rp200 ribu per kilogram, menembus rekor baru.
- Kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya permintaan menjelang hari besar keagamaan dan terbatasnya pasokan dari peternak lokal.
- Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah intervensi pasar untuk menstabilkan harga dan menjaga daya beli masyarakat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga daging sapi di pasar domestik menembus angka Rp200 ribu per kilogram, sebuah rekor baru yang memicu kekhawatiran akan melonjaknya inflasi pangan dan menekan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
Angka ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah pencatatan BPS, mengalahkan rekor sebelumnya yang bertengger di kisaran Rp190 ribu per kilogram. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan menjelang perayaan hari besar keagamaan, sementara pasokan dari peternak lokal masih belum mampu mengejar kebutuhan pasar. Para pedagang di sejumlah pasar tradisional di Jakarta dan sekitarnya mengeluhkan sepinya pembeli karena harga yang semakin tidak terjangkau.
Kondisi ini menjadi dilema bagi pemerintah. Di satu sisi, peternak lokal menikmati harga jual yang tinggi, namun di sisi lain konsumen harus merogoh kocek lebih dalam. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Daging Indonesia (APDI) menilai bahwa kenaikan ini bukan semata-mata karena permintaan musiman, tetapi juga akibat dari biaya produksi yang terus meningkat, terutama harga pakan ternak yang melonjak hingga 30 persen dalam setahun terakhir.
Fenomena ini juga menyoroti kerentanan rantai pasok daging sapi nasional yang masih bergantung pada impor untuk memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan. Fluktuasi nilai tukar rupiah dan kebijakan kuota impor yang berbelit-belit kerap menjadi pemicu ketidakstabilan harga di pasar domestik. Para ekonom memperkirakan, jika tidak segera diatasi, tekanan harga ini dapat mendorong inflasi pangan lebih tinggi dan menggerus daya beli masyarakat.
Pemerintah sebenarnya telah mengumumkan rencana untuk menambah kuota impor daging sapi dan membuka keran impor dari negara-negara seperti Brasil dan India. Namun, kebijakan ini menuai kritik dari kalangan peternak lokal yang khawatir akan membanjirnya daging impor yang lebih murah dapat mematikan usaha mereka. Di sisi lain, konsumen berharap agar harga dapat segera turun agar mereka bisa merayakan hari raya dengan tenang.
Menteri Pertanian telah menyatakan akan menggelar operasi pasar dan memastikan distribusi daging dari daerah sentra produksi ke pasar-pasar utama berjalan lancar. Namun, efektivitas langkah ini masih dipertanyakan, mengingat pada tahun-tahun sebelumnya intervensi serupa sering kali terlambat dan tidak tepat sasaran.
Ke depan, pemerintah perlu mencari solusi jangka panjang yang tidak hanya bersifat reaktif. Investasi pada peternakan modern dan perbaikan infrastruktur rantai dingin (cold chain) menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan menstabilkan harga dalam jangka panjang. Apakah pemerintah mampu keluar dari pola reaktif yang selama ini terjadi, atau akankah harga daging sapi terus menjadi momok bagi masyarakat setiap menjelang hari besar? Pertanyaan ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dijawab.



