Revolusi Buku Ajar Nasional: Prabowo Targetkan Perbaikan Materi hingga Fisik Buku
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pembaruan menyeluruh buku ajar nasional setelah menemukan sejumlah kekurangan saat inspeksi mendadak ke sekolah-sekolah.
- Pemerintah akan membandingkan buku pelajaran dalam negeri dengan negara tetangga, dengan fokus pada penguatan karakter, sains-teknologi, dan bahasa asing.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis memperkuat fondasi SDM Indonesia dalam menghadapi persaingan global, meski tantangan implementasi di lapangan masih terbentang.

Pemerintah tengah menyiapkan pembaruan besar-besaran terhadap buku ajar nasional, menyusul temuan langsung Presiden Prabowo Subianto saat meninjau sejumlah sekolah yang menunjukkan kualitas buku pelajaran masih jauh dari harapan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan bahwa evaluasi ini merupakan arahan langsung dari Kepala Negara untuk memperkuat fondasi pendidikan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, Teddy menjelaskan bahwa temuan tersebut berawal dari inspeksi mendadak yang dilakukan Prabowo. Saat memeriksa buku-buku pelajaran, Presiden mendapati banyak buku yang bahan fisiknya mudah rusak, bahkan sebagian sudah dalam kondisi tidak layak. Selain itu, ukuran huruf yang terlalu kecil membuat anak-anak, terutama siswa sekolah dasar, harus membaca dalam jarak yang sangat dekat—kondisi yang berisiko mengganggu kesehatan mata mereka.
"Beliau melihat satu per satu, dan ternyata banyak yang bahannya rapuh, ada yang sudah rusak, tulisannya kecil-kecil. Anak-anak SD jadi membacanya terlalu dekat, itu tidak baik," ujar Teddy menirukan kekhawatiran Presiden. Atas dasar itu, Prabowo memerintahkan pemeriksaan menyeluruh terhadap buku pelajaran dari jenjang SD hingga SMA.
Langkah berikutnya, pemerintah akan melakukan studi banding dengan buku ajar dari negara-negara tetangga. Perbandingan ini diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas materi dan penyajian buku pelajaran nasional. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menambahkan bahwa perhatian Presiden tidak hanya pada aspek fisik, tetapi juga pada substansi pembelajaran.
Setidaknya ada tiga prioritas utama yang ditekankan Prabowo: penguatan karakter kebangsaan, peningkatan kualitas pembelajaran sains dan teknologi—dengan matematika sebagai fondasi—serta penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, untuk menghadapi kompetisi global. "Untuk mengejar ketertinggalan di bidang sains dan teknologi, basic-nya adalah matematika. Sedangkan untuk kompetisi global, kemampuan bahasa asing menjadi perhatian utama," kata Prasetyo.
Selain aspek materi dan fisik, Presiden juga menginginkan buku ajar memiliki tampilan yang lebih menarik dan nyaman dibaca. Ukuran huruf yang lebih besar serta penggunaan bahan berkualitas menjadi syarat agar buku dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih panjang. Hal ini sejalan dengan upaya menciptakan ekosistem belajar yang lebih sehat dan efisien bagi siswa.
Menariknya, perhatian Prabowo terhadap dunia pendidikan tidak lepas dari kebiasaan membaca yang ditanamkan dalam keluarganya sejak kecil. Prasetyo menceritakan bahwa keluarga besar Presiden, yang akrab disapa Pak Mitro, mewajibkan anak-anaknya untuk membaca sejumlah buku setiap minggu dan membuat rangkuman yang kemudian disampaikan kepada orang tua. Tradisi ini kini ingin dihidupkan kembali di lingkungan pendidikan nasional.
"Sejak usia belia, keluarga Pak Mitro selalu mewajibkan putra-putrinya untuk setiap minggu membaca sekian buku, membuat rangkuman, dan menyampaikannya kepada orang tua. Itu cara mendidik yang kami koordinasikan dengan Kementerian Dikdasmen untuk mulai digalakkan lagi—gemar membaca dan wajib membaca bagi kita semua," imbuh Prasetyo.
Bagi Indonesia, langkah ini bukan sekadar perombakan buku teks. Ini adalah sinyal kuat bahwa pemerintah menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam membangun daya saing bangsa. Dengan membandingkan diri dengan negara tetangga, pemerintah mengakui bahwa masih ada ketertinggalan yang harus dikejar, terutama dalam bidang sains dan teknologi. Namun, pertanyaan besarnya adalah bagaimana kebijakan ini akan diterjemahkan di lapangan—mulai dari proses revisi kurikulum, pelatihan guru, hingga distribusi buku ke daerah terpencil.
Ke depan, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada konsistensi pemerintah dalam mengawal implementasinya. Apakah pembaruan buku ajar ini akan diikuti dengan peningkatan kualitas guru dan infrastruktur pendukung lainnya? Jika tidak, buku yang bagus pun tidak akan banyak berarti tanpa tenaga pendidik yang mumpuni dan lingkungan belajar yang mendukung.



