Dukungan Meksiko dan Argentina Selamatkan Infantino dari Tekanan Global
Baca dalam 60 detik
- Federasi sepak bola Meksiko dan Argentina secara terbuka mendukung kepemimpinan Gianni Infantino di tengah krisis kepercayaan akibat rencana penjualan hak komersial Piala Dunia yang dibatalkan.
- Dukungan dari dua negara berpengaruh ini memecah blok oposisi yang dipimpin UEFA dan CONCACAF, memperkuat posisi Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA Maret mendatang.
- Meski mendapat kritik dari serikat pemain dan beberapa federasi Eropa, Infantino diprediksi tetap terpilih untuk periode keempat karena belum ada kandidat kuat yang menantangnya.

Dukungan politik yang signifikan datang untuk Gianni Infantino di tengah badai kritik yang menerpa FIFA. Federasi Sepak Bola Meksiko (FMF) dan Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) secara terpisah menyatakan sikap mendukung presiden FIFA tersebut, memberikan angin segar bagi pria asal Swiss itu menjelang pemilihan kembali pada Kongres FIFA di Maroko, Maret tahun depan.
Langkah FMF dan AFA ini menjadi kontras dengan gelombang penolakan yang muncul setelah FIFA membatalkan rencana kontroversial untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia. Rencana yang memicu kemarahan berbagai pihak itu telah mendorong UEFA dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) untuk menuntut pertanggungjawaban dan bahkan mengisyaratkan boikot terhadap kompetisi FIFA.
Ketegangan ini semakin memanas ketika Federasi Sepak Bola Kroasia, menyusul langkah serupa dari Inggris dan Albania, menarik dukungannya terhadap Infantino. Keputusan tersebut diumumkan setelah Kroasia melakukan evaluasi mendalam terkait perkembangan seputar Piala Dunia 2026 dan diskusi internal di tubuh federasi. Sementara itu, serikat pemain internasional FIFPRO dengan tegas menyebut proposal komersial itu bukan sekadar kegagalan tata kelola, melainkan "penyalahgunaan kekuasaan presiden yang mendalam".
Di tengah tekanan tersebut, dukungan dari Meksiko dan Argentina menjadi penyeimbang yang penting. FMF, yang menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2026, secara eksplisit memilih untuk berbeda pendapat dengan CONCACAF, konfederasi regionalnya sendiri. Dalam pernyataannya, FMF menegaskan tidak akan mengakui atau menyetujui proses apa pun yang diadakan di luar kerangka kelembagaan FIFA yang melibatkan 211 asosiasi anggota. Mereka juga menyerukan kelanjutan pembangunan sepak bola secara kolektif di bawah kepemimpinan Infantino.
Senada dengan FMF, AFA dalam suratnya kepada Infantino menyatakan dukungan penuh terhadap kerja FIFA selama sepuluh tahun terakhir. AFA memuji model tata kelola FIFA yang dinilai jelas, stabil, dan transparan. Meskipun mengakui bahwa proposal komersial tersebut menimbulkan lebih banyak ketidakpastian daripada kepastian dan terdapat kesalahan yang dibuat, AFA menegaskan bahwa jalan ke depan adalah terus bekerja di bawah kepemimpinan FIFA menjelang kongres tahun depan.
Di sisi lain, Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) mengeluarkan pernyataan yang menolak upaya penggulingan Infantino yang tidak melalui pemungutan suara seluruh 211 anggota. CONMEBOL juga menyuarakan keprihatinan atas "tindakan sepihak yang berulang kali dilakukan tanpa mengedepankan dialog", seraya menekankan pentingnya reformasi kelembagaan yang diperkenalkan FIFA lebih dari satu dekade lalu untuk meningkatkan transparansi.
FIFA sendiri telah meminta maaf kepada para anggotanya atas kesalahan seputar proposal komersial tersebut dan berjanji untuk meninjau proses yang menyebabkan kontroversi. FIFA menegaskan bahwa semua tindakan yang diambil terkait proposal tersebut telah sesuai dengan peraturan, dan kesalahan yang terjadi lebih pada proses dan komunikasi, bukan pelanggaran aturan tata kelola.
Bagi Indonesia, dinamika politik di FIFA ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar dan ambisi untuk tampil di pentas dunia, Indonesia berkepentingan terhadap stabilitas dan tata kelola FIFA yang baik. Dukungan dari negara-negara seperti Meksiko dan Argentina menunjukkan bahwa meskipun ada kritik, Infantino masih memiliki pijakan kuat di kawasan Amerika Latin. Hal ini bisa menjadi sinyal bahwa arah kebijakan FIFA ke depan, termasuk dalam pengembangan sepak bola global, tidak akan banyak berubah.
Dengan belum munculnya kandidat penantang yang jelas, Infantino tampaknya masih akan melenggang mulus menuju periode keempat. Namun, kritik yang dilontarkan FIFPRO dan sejumlah federasi Eropa meninggalkan pertanyaan besar: apakah dukungan yang ada saat ini cukup untuk meredam tuntutan reformasi yang lebih mendalam? Atau justru krisis ini akan menjadi pemicu bagi perubahan yang lebih fundamental dalam tubuh FIFA?



