Krisis FIFA: Wakil UEFA Desak Calon Presiden Baru Jadi Penjaga Sepak Bola, Bukan Kepentingan Politik
Baca dalam 60 detik
- Wakil Presiden UEFA, Laura McAllister, menegaskan presiden FIFA berikutnya harus mampu mempersatukan sepak bola dunia, bukan hanya mewakili kepentingan Eropa.
- Tekanan terhadap Gianni Infantino meningkat setelah rencana investasi Piala Dunia dibatalkan, memicu tuntutan reformasi tata kelola FIFA yang lebih transparan dan demokratis.
- Menjelang pemilihan presiden FIFA 2027, tantangan terbesar adalah menemukan kandidat yang kredibel dan didukung luas, serta mampu mengembalikan fokus pada nilai-nilai dasar olahraga.

Wakil Presiden UEFA, Laura McAllister, melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan FIFA saat ini. Ia menegaskan bahwa presiden FIFA berikutnya haruslah seorang "penjaga olahraga" yang mampu mempersatukan seluruh dunia sepak bola, bukan sekadar melayani kepentingan politik atau komersial segelintir pihak. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap presiden petahana, Gianni Infantino, pasca gagalnya rencana investasi Piala Dunia yang kontroversial.
Krisis internal FIFA semakin memanas setelah Dewan FIFA, dalam pertemuan di Rabat, Rabu lalu, secara resmi menyatakan dukungannya kepada Infantino. Mereka juga menyampaikan permintaan maaf kepada 211 asosiasi anggota atas kesalahan dalam penyusunan rencana investasi yang memicu reaksi keras dari berbagai federasi nasional. Sebagai bentuk konsiliasi, FIFA berjanji akan meninjau ulang proses pengambilan keputusan yang dinilai kurang transparan.
Namun, langkah FIFA untuk meredam krisis terbesar selama masa kepresidenan Infantino ini dinilai tidak akan menghentikan sorotan tajam terhadap tata kelola dan kepemimpinan organisasi. Terlebih, pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan pada 2027 semakin dekat. McAllister, dalam wawancara dengan Deutsche Welle, mengakui bahwa mencari penantang kredibel bagi Infantino bukanlah perkara mudah. Kandidat potensial harus mampu meraih dukungan dari seluruh anggota FIFA secara global, tidak hanya dari kawasan Eropa.
"Tidak semudah yang dibayangkan. Kandidat yang tepat harus memiliki tingkat dukungan yang memadai," ujar McAllister. "Ada begitu banyak politik di sekitar ini. Sangat penting untuk mendapatkan kandidat yang bisa mempersatukan seluruh dunia sepak bola, bukan hanya Eropa." Mantan kapten timnas wanita Wales ini juga menyoroti perlunya perubahan fundamental dalam budaya kepemimpinan FIFA. Ia mendesak agar sepak bola tidak lagi dijalankan oleh "kekuasaan feodal" atau individu tertentu, melainkan secara demokratis dan modern.
Komentar McAllister muncul di tengah pengawasan ketat terhadap Infantino setelah ia membatalkan rencana untuk membentuk anak perusahaan komersial dan menjual sebagian pendapatan Piala Dunia di masa depan kepada investor eksternal. Rencana ini mendapat tentangan keras dari dalam tubuh FIFA sendiri. Dalam wawancara terpisah dengan Reuters, McAllister menekankan bahwa transisi kepemimpinan FIFA harus diiringi dengan kembalinya nilai-nilai inti olahraga. "Sepak bola itu untuk semua orang, dari akar rumput hingga level elit. Ia bukan milik salah satu kelompok. Ia sama pentingnya bagi anak perempuan maupun laki-laki. Harus menjangkau setiap sudut dunia, termasuk negara-negara termiskin," tegasnya.
Bagi Indonesia, dinamika kepemimpinan FIFA memiliki implikasi langsung. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia berkepentingan terhadap tata kelola FIFA yang bersih dan transparan. Reformasi yang didesakkan McAllister dapat membuka ruang bagi suara negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam pengambilan keputusan global. Selain itu, stabilitas kepemimpinan FIFA juga berdampak pada alokasi dana pembangunan sepak bola di negara-negara berkembang, yang selama ini kerap menjadi sorotan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah FIFA benar-benar melakukan reformasi mendalam, atau hanya sekadar meredam gejolak sementara? Tekanan dari tokoh seperti McAllister menunjukkan bahwa tuntutan perubahan tidak akan surut. Jika FIFA gagal berbenah, bukan tidak mungkin kredibilitasnya semakin terkikis, dan muncul kandidat-kandidat baru yang siap menantang status quo. Apakah dunia sepak bola siap untuk perubahan yang sesungguhnya?



