Alexia Putellas: Dari La Masia ke London City, Ratu Sepak Bola Spanyol yang Tak Pernah Puas
Baca dalam 60 detik
- Pemain terbaik dunia dua kali itu resmi bergabung dengan London City Lionesses, menandai transfer terbesar dalam sejarah WSL.
- Kepindahan ini mengorbankan Liga Champions, tetapi Putellas menegaskan ambisinya untuk terus berkembang di liga yang lebih kompetitif.
- Debutnya melawan Manchester United pada 4 September akan menjadi sorotan global, sekaligus ujian adaptasi di lingkungan baru.

Alexia Putellas, dua kali peraih Ballon d'Or dan kapten Barcelona yang membawa timnya meraih gelar Liga Champions Wanita keempat pada Mei lalu, kini memulai babak baru di London City Lionesses. Kepindahan ini disebut-sebut sebagai transfer terbesar dalam sejarah Women's Super League (WSL), menandai perubahan besar bagi pemain yang selama 14 tahun membela klub masa kecilnya.
Dalam konferensi pers perdananya di Maidstone, Putellas mengaku sedikit gugup menghadapi media Inggris, tetapi dengan cepat menunjukkan sisi humornya. Ia bercanda tentang masih belajar "bahasa sepak bola" dan mengaku belum terbiasa dengan budaya Inggris, termasuk sarapan khas yang menurutnya aneh karena ada kacang panggang. Meski demikian, ia menegaskan komitmennya untuk memberikan segalanya bagi klub barunya.
Perjalanan Putellas dimulai dari Mollet del Valles, Catalonia, di mana ia tumbuh dengan menonton pertandingan Barcelona di Nou Camp. Idolanya adalah Andres Iniesta, Rivaldo, dan Ronaldinho. Ia sempat menjalani pendidikan di La Masia, akademi terkenal Barcelona, namun harus pindah ketika tim putrinya dibubarkan. Setelah singgah di Espanyol dan Levante, ia kembali ke Barca pada 2012 dan mengukir sejarah dengan 38 trofi, termasuk 10 gelar liga dan empat Piala Eropa.
Keputusan Putellas untuk hengkang ke London City, klub independen yang baru berkembang, tentu mengejutkan banyak pihak. Ia rela melepas kesempatan bermain di Liga Champions demi tantangan baru. "Saya ingin menemukan batas kemampuan saya," ujarnya. Pelatihnya, Eder Maestre, bahkan menyebut Putellas seperti pelatih kedua di lapangan karena kemampuannya membaca permainan dan memberi instruksi lewat umpan-umpan yang bermakna.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perpindahan Putellas menjadi sinyal bahwa liga-liga Eropa, khususnya WSL, semakin kompetitif dan mampu menarik bintang-bintang dunia. Ini juga menunjukkan bahwa pemain top tidak hanya mencari uang atau trofi, tetapi juga tantangan baru dan pengembangan diri. Putellas sendiri mengaku setelah cedera ACL yang membuatnya absen di Euro 2022, ia menikmati setiap momen dan selalu ingin belajar hal baru.
Meski harus beradaptasi dengan kehidupan baru di London—mencari apartemen, belajar mengemudi, dan menghadapi lalu lintas—Putellas tetap fokus pada target utamanya: membawa London City meraih kemenangan. Ia mengaku sudah mendapat peringatan dari teman-temannya di WSL bahwa liga ini keras dan akan ada banyak tekel keras. Namun, ia siap menghadapinya dengan semangat juang yang tinggi.
Kehadiran rekan setim asal Spanyol seperti Jana Fernandez dan Mapi Leon membantunya beradaptasi lebih cepat. Putellas juga dekat dengan Keira Walsh, mantan rekan di Barcelona, meski rencana makan malam mereka harus ditunda. Di luar lapangan, ia mulai menikmati budaya Inggris, meski mengaku tidak suka kacang panggang dan masih belajar bahasa slang seperti "innit".
Dengan segala kerendahan hati, Putellas menegaskan bahwa ia tidak ingin dianggap sebagai ratu. "Saya hanya ingin menjadi diri sendiri dan membantu tim ini berkembang," katanya. Pertanyaannya, apakah ia mampu membawa London City bersaing di papan atas WSL? Atau justru kepindahan ini menjadi langkah mundur bagi kariernya? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: dunia akan menyaksikan debutnya dengan penuh antisipasi.



