Duka Dua Negara: Vietnam Umumkan Masa Berkabung untuk Presiden Parlemen Laos
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Vietnam menetapkan dua hari berkabung nasional untuk menghormati mendiang Presiden Majelis Nasional Laos, Xaysomphone Phomvihane, yang wafat pada 8 Agustus di usia 70 tahun.
- Langkah ini menegaskan kedekatan historis Hanoi-Vientiane, di tengah dinamika geopolitik Asia Tenggara yang semakin kompleks.
- Momen ini menjadi ujian bagi regenerasi kepemimpinan Laos dan masa depan kemitraan strategis bilateral.

Hanoi, 10 Agustus 2026 โ Pemerintah Vietnam resmi mengumumkan dua hari berkabung nasional untuk menghormati kepergian Presiden Majelis Nasional Laos, Xaysomphone Phomvihane, yang wafat pada 8 Agustus lalu di usia 70 tahun. Keputusan ini diambil oleh Komite Sentral Partai Komunis Vietnam, Majelis Nasional, Presiden Negara, Pemerintah, dan Komite Sentral Front Tanah Air Vietnam sebagai bentuk duka mendalam atas jasa almarhum, sekaligus penegasan ikatan istimewa antara kedua negara.
Selama masa berkabung yang berlangsung pada 10โ11 Agustus, seluruh kantor pemerintahan di Vietnam, termasuk perwakilan diplomatik di luar negeri, diwajibkan mengibarkan bendera setengah tiang dengan pita duka. Aktivitas hiburan dan rekreasi publik juga dihentikan sementara. Ketentuan ini menunjukkan penghormatan resmi yang jarang diberikan, menandakan betapa pentingnya sosok almarhum dalam peta politik regional.
Xaysomphone Phomvihane bukan sekadar pejabat tinggi Laos. Ia adalah anggota Biro Politik Partai Revolusioner Rakyat Laos yang memiliki peran sentral dalam revolusi Laos, serta pembangunan pertahanan dan ekonomi negara. Lebih dari itu, ia menjadi arsitek utama dalam memelihara persahabatan istimewa, solidaritas khusus, kerja sama komprehensif, dan kohesi strategis antara Vietnam dan Laos. Kepergiannya dinilai sebagai kehilangan besar, tidak hanya bagi Laos tetapi juga bagi hubungan bilateral yang telah terjalin puluhan tahun.
Ketua Majelis Nasional Vietnam, Tran Thanh Man, langsung memimpin delegasi tingkat tinggi Partai dan Negara Vietnam ke Laos pada Minggu (10/8) untuk memberikan penghormatan terakhir. Langkah cepat ini menggarisbawahi prioritas hubungan khusus Hanoi-Vientiane di tengah perubahan lanskap geopolitik Asia Tenggara, di mana kedua negara kerap bersinergi dalam forum regional seperti ASEAN.
Bagi Indonesia, peristiwa ini memiliki resonansi tersendiri. Sebagai sesama negara ASEAN, Indonesia lazim menyaksikan bagaimana ikatan historis dan ideologis membentuk solidaritas antaranggota. Namun, yang patut dicermati adalah bagaimana proses suksesi kepemimpinan di Laos berjalan pasca-kepergian tokoh sentral seperti Xaysomphone. Stabilitas politik Laos akan berpengaruh pada dinamika kawasan, termasuk dalam isu konektivitas dan perdagangan lintas batas yang melibatkan Indonesia.
Para pengamat menilai bahwa masa berkabung ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi simbol ketahanan hubungan bilateral Vietnam-Laos yang telah teruji oleh waktu. Namun, pertanyaan yang muncul kemudian: akankah generasi penerus di kedua negara mampu mempertahankan keintiman hubungan ini di tengah tantangan global yang semakin kompleks? Atau justru momentum ini akan menjadi titik balik bagi Laos untuk membuka diri lebih luas terhadap mitra lain di kawasan?
Sejarah mencatat bahwa hubungan Vietnam-Laos selalu memiliki dimensi emosional yang kuat, lahir dari perjuangan bersama melawan kolonialisme. Kini, dengan kepergian salah satu penjaga api persahabatan itu, kedua negara dihadapkan pada ujian untuk meneruskan warisan tersebut. Bagi Indonesia, pelajaran yang bisa dipetik adalah pentingnya menjaga hubungan bilateral yang berlandaskan saling pengertian dan solidaritas, bukan sekadar kepentingan pragmatis sesaat.


