Final Piala Presiden: Polrestabes Bandung Kerahkan 1.380 Personel, Titik Rawan Konvoi Bobotoh Dipetakan
Baca dalam 60 detik
- Polrestabes Bandung mengerahkan 1.380 personel gabungan untuk mengantisipasi konvoi Bobotoh usai final Piala Presiden 2026.
- Pengamanan dipusatkan di kawasan rawan seperti Dago, Sulanjana, dan flyover yang biasa menjadi titik kumpul suporter.
- Langkah ini menyoroti tingginya risiko gangguan keamanan yang menyertai euforia sepak bola di Indonesia.

Kepolisian Resor Kota Besar Bandung menyiagakan 1.380 personel gabungan untuk mengantisipasi potensi konvoi dan kerumunan massa Bobotoh, pendukung Persib Bandung, usai laga final Piala Presiden 2026 melawan Persebaya Surabaya yang berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis malam. Langkah ini diambil sebagai upaya preventif menjaga keamanan dan ketertiban di Kota Bandung pasca pertandingan yang dinanti-nantikan tersebut.
Kepala Bagian Operasi Polrestabes Bandung, AKBP Asep Saepudin, menegaskan bahwa seluruh personel akan disebar di titik-titik strategis. "Kami menyiagakan kekuatan penuh untuk mengantisipasi konvoi dan potensi kerumunan massa pasca pertandingan final nanti malam. Seluruh personel disebar di titik strategis agar situasi Kota Bandung tetap aman," ujarnya di Bandung, Kamis. Pernyataan ini menggarisbawahi keseriusan aparat dalam menghadapi euforia suporter yang kerap berujung pada kemacetan hingga tindakan anarkis.
Pengamanan tidak hanya difokuskan di sekitar stadion, tetapi juga di sejumlah kawasan yang menjadi langganan berkumpulnya suporter. Beberapa titik yang menjadi perhatian khusus meliputi pusat kota, Jalan Ir. H. Djuanda (Dago), Jalan Sulanjana, serta sejumlah flyover. Area-area ini secara historis menjadi tempat berkumpulnya massa saat Persib meraih kemenangan, sehingga rawan terjadi penyumbatan arus lalu lintas dan potensi gesekan antar pendukung.
Dari total personel yang diterjunkan, sebanyak 1.005 personel berasal dari internal Polrestabes Bandung, terdiri dari satuan fungsi operasional dan jajaran Polsek. Selain itu, Polda Jawa Barat turut memberikan dukungan dengan mengerahkan 137 personel gabungan dari Direktorat Samapta dan Satuan Brimob. Kehadiran pasukan elite ini menandakan antisipasi terhadap kemungkinan eskalasi situasi yang lebih serius.
Selain pengamanan fisik, aparat juga menyiapkan tim patroli bergerak seperti Tim Prabu dan tim perintis. Tim ini bertugas melakukan patroli, memberikan imbauan kepada masyarakat, serta mengambil langkah cepat apabila terjadi gangguan keamanan dan ketertiban. Kehadiran tim bergerak ini diharapkan mampu mempercepat penanganan jika terjadi insiden di lapangan.
AKBP Asep Saepudin mengimbau para pendukung Persib dan masyarakat yang hendak merayakan hasil pertandingan untuk tetap mematuhi aturan lalu lintas dan tidak melakukan aksi yang membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya. "Kami mengimbau para pendukung untuk tetap tertib dan merayakan hasil pertandingan secara bijak demi kebaikan bersama," tambahnya. Imbauan ini menjadi penting mengingat seringkali euforia kemenangan berujung pada aksi konvoi yang mengganggu ketertiban umum.
Langkah pengamanan ekstra ini mencerminkan pola penanganan yang konsisten dari kepolisian dalam setiap pertandingan besar yang melibatkan Persib. Namun, pertanyaannya, apakah pengamanan semacam ini akan mampu sepenuhnya meredam potensi kerusuhan? Atau justru dibutuhkan pendekatan yang lebih holistik, seperti edukasi kepada suporter dan penegakan hukum yang tegas, untuk menciptakan budaya mendukung yang lebih dewasa di Indonesia?



