Kepala Puskesmas di Kandal Dicopot Usai Video Pertolongan Pertama Viral: Etika Medis Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Gubernur Kandal, Kuoch Chamroeun, mencopot Chhun Phally dari jabatan kepala Puskesmas Setbo menyusul video viral penanganan pasien remaja yang memicu kontroversi.
- Video yang memperlihatkan tindakan pertolongan pertama kepada gadis 17 tahun itu memicu tuduhan pelecehan dan pertanyaan tentang prosedur medis yang benar.
- Dinas Kesehatan Provinsi Kandal tengah menyelidiki kasus ini; jika terbukti ada pelanggaran, sanksi administratif hingga tuntutan hukum bisa dijatuhkan.

Gubernur Provinsi Kandal, Kuoch Chamroeun, mengambil langkah tegas dengan memberhentikan Chhun Phally dari jabatannya sebagai kepala Puskesmas Setbo. Keputusan ini diumumkan pada Selasa (4/8) melalui surat perintah administratif yang berlaku efektif seketika, hanya sehari setelah video yang memperlihatkan Phally memberikan pertolongan pertama kepada seorang pasien perempuan berusia 17 tahun viral di media sosial dan memicu gelombang kritik publik.
Video yang direkam oleh kerabat pasien untuk memberi kabar kepada anggota keluarga lain justru menyebar luas dan menimbulkan perdebatan sengit. Banyak warganet menilai cara Phally menangani pasien tidak sesuai prosedur medis yang berlaku, bahkan sebagian menuding tindakan tersebut melewati batas dan melanggar martabat pasien. Meski surat perintah gubernur tidak menyebutkan alasan spesifik, keputusan ini jelas merupakan respons atas tekanan publik yang semakin besar.
Pasien yang diketahui mengalami kejang dan kesulitan bernapas itu dibawa ke Puskesmas Setbo dalam kondisi darurat. Keluarganya berharap rekaman tersebut dapat menjadi dokumentasi kondisi pasien, tetapi yang terjadi justru sebaliknya: video itu menjadi bahan perbincangan hangat di ruang maya dan memicu pertanyaan besar tentang etika tenaga kesehatan di Kamboja.
Dinas Kesehatan Provinsi Kandal langsung bergerak dengan membentuk tim investigasi. Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kiem Piseth, menegaskan bahwa penyelidikan akan fokus pada kepatuhan prosedur medis dan potensi pelanggaran etika. โKami sedang menyelidiki kasus ini. Jika ditemukan bukti pelanggaran atau pelecehan seksual, responsnya tidak hanya sanksi administratif, tetapi juga bisa berujung pada tindakan hukum,โ ujarnya dalam pernyataan resmi.
Di tengah desakan publik, Phally akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia bersikeras bahwa niatnya murni untuk menyelamatkan nyawa pasien dalam situasi darurat. โSaya dengan tulus meminta maaf kepada publik dan keluarga pasien jika tindakan saya selama pertolongan darurat menimbulkan kesalahpahaman. Saya tidak punya niat melecehkan atau berperilaku tidak pantas. Tujuan saya satu-satunya adalah menyelamatkan nyawanya,โ kata Phally dalam pernyataannya.
Insiden ini membuka kembali diskusi tentang etika profesi di sektor kesehatan Kamboja. Banyak pihak menyerukan penguatan perlindungan terhadap martabat dan privasi pasien, sekaligus memastikan tenaga kesehatan memiliki pelatihan yang memadai dalam prosedur kegawatdaruratan. Pertanyaan mendasar yang mengemuka: apakah protokol medis di Kamboja sudah cukup jelas mengatur batasan tindakan darurat, dan bagaimana memastikan kepatuhan di lapangan?
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi cermin penting. Di tengah upaya transformasi layanan kesehatan, insiden serupa bisa saja terjadi di dalam negeri jika pengawasan etika dan pelatihan tenaga medis tidak diperkuat. Ombudsman dan organisasi profesi seperti IDI (Ikatan Dokter Indonesia) perlu terus mendorong standar pelayanan yang humanis dan akuntabel, terutama dalam situasi darurat yang rawan salah tafsir.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas Kamboja belum mengumumkan hasil investigasi atau keputusan lanjutan terhadap Phally. Publik menunggu apakah kasus ini akan berakhir pada sanksi administratif atau berlanjut ke ranah hukum. Yang jelas, insiden ini telah menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya keseimbangan antara tindakan medis cepat dan penghormatan terhadap hak pasien.



