Suplemen Arginin Berpotensi Perkuat Imun Lawan Kanker dan Virus, Studi pada Hewan Menjanjikan
Baca dalam 60 detik
- Studi Rockefeller University menunjukkan arginin, asam amino murah, dapat meningkatkan kemampuan sistem imun mengenali sel kanker dan sel terinfeksi virus pada model tikus.
- Pemberian suplemen arginin pada tikus terbukti mengecilkan tumor usus besar serta memperbaiki prognosis infeksi influenza dan SARS-CoV-2, membuka peluang terapi tambahan berbiaya rendah.
- Para ahli mengingatkan bahwa hasil ini masih perlu validasi uji klinis pada manusia, dan konsumsi arginin dosis tinggi tidak disarankan tanpa pengawasan medis, terutama bagi penderita penyakit ginjal atau hati.

Riset terbaru dari Rockefeller University mengungkap bahwa ketersediaan asam amino arginin dalam tubuh dapat memengaruhi cara sistem imun mengenali dan menyerang sel kanker maupun sel yang terinfeksi virus. Dalam percobaan pada tikus, peningkatan kadar arginin berkorelasi dengan pengecilan tumor dan perbaikan luaran infeksi virus, menjadikan suplemen murah ini kandidat pendamping terapi yang menjanjikan—meski masih menunggu pembuktian pada manusia.
Arginin, yang banyak ditemukan pada daging, ikan, produk susu, kacang-kacangan, dan polong-polongan, selama ini dikenal sebagai penyusun protein dan pendukung fungsi imun, aliran darah, serta penyembuhan luka. Namun, pada kondisi seperti kanker dan infeksi COVID-19, ketersediaannya justru menurun drastis. Enzim arginase yang diproduksi sel imun aktif memecah arginin, sehingga tubuh kekurangan bahan baku penting ini. Tim peneliti yang dipimpin Sohail Tavazoie, MD, PhD, ingin menelusuri apakah penurunan ini secara langsung melemahkan respons imun.
Analisis data awal menunjukkan arginin menjadi salah satu asam amino yang paling konsisten berkurang pada jaringan tumor dan paru-paru tikus yang terinfeksi influenza atau SARS-CoV-2. Untuk menguji hubungan sebab-akibat, para peneliti membatasi arginin pada sel kanker kolorektal manusia dan tikus, serta sel melanoma, payudara, lambung, dan pankreas. Hasilnya, pembatasan arginin menurunkan kadar protein MHC-I—molekul yang berperan sebagai penanda bagi sel T CD8 untuk mengenali sel abnormal. Akibatnya, sel kanker yang kekurangan arginin menampilkan lebih sedikit antigen dan lebih sulit dibunuh oleh sel imun.
Yang menarik, ketika arginin dikembalikan setelah 24 jam pembatasan, kadar MHC-I pulih dalam hitungan jam. Peneliti menemukan bahwa kekurangan arginin menyebabkan ribosom berhenti saat memproduksi MHC-I, sehingga rantai protein tidak terselesaikan. Pada model tikus, pemberian diet kaya arginin menghasilkan tumor kolorektal yang lebih sedikit dan lebih kecil, sementara pembatasan arginin justru meningkatkan jumlah tumor. Suplementasi juga menurunkan penurunan berat badan dan kematian pada tikus yang terinfeksi influenza, bahkan ketika diberikan satu hari setelah infeksi. Pada tikus dengan SARS-CoV-2, suplementasi mengurangi penurunan berat badan, kadar virus, dan kerusakan paru.
Meski hasil ini menggembirakan, para ahli mengingatkan agar tidak terburu-buru mengonsumsi suplemen arginin secara berlebihan. Anton Bilchik, MD, PhD, ahli bedah onkologi dari Providence Saint John's Cancer Institute, menilai studi ini menyoroti peran arginin yang menarik dan berpotensi penting karena murah dan mudah didapat. Namun, ia menekankan bahwa dosis 10 gram per hari mungkin berisiko bagi penderita penyakit ginjal atau hati, dan konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional sangat disarankan. “Pasien sebaiknya tidak meresepkan sendiri suplemen seperti arginin dengan harapan meningkatkan imunitas atau memperbaiki hasil kanker sampai data manusia yang lebih definitif tersedia,” ujarnya.
Senada, Jagdish Khubchandani, PhD, MPH, profesor kesehatan masyarakat di New Mexico State University, menegaskan bahwa penelitian ini dilakukan pada model hewan yang sangat terkontrol dan berfokus pada kondisi antivirus dan antitumor tertentu. “Tanpa uji coba pada manusia, temuan ini memiliki nilai yang kecil,” katanya. Ia juga menyoroti bahwa orang dengan penyakit kardiovaskular, ginjal, atau hati, serta ibu hamil, sebaiknya tidak mengonsumsi dosis tersebut tanpa pengawasan medis. Khubchandani mengingatkan bahwa terlalu banyak diet dan suplemen yang sebagian besar tidak berguna, sehingga uji pada manusia harus menjadi langkah berikutnya.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka peluang besar. Dengan biaya arginin yang relatif murah dan mudah ditemukan dalam makanan sehari-hari, suplemen ini berpotensi menjadi terapi tambahan yang terjangkau bagi pasien kanker dan penyakit infeksi, terutama di negara berkembang. Namun, regulasi ketat dan uji klinis lokal diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya pada populasi Indonesia yang beragam. Pertanyaan yang muncul: akankah uji klinis pada manusia segera dilakukan, dan bagaimana respons regulator di Indonesia terhadap potensi suplemen ini?



