Drone Rusia Buru Pedagang Pasar di Kherson, Ukraina: Bukti Baru Teror terhadap Warga Sipil
Baca dalam 60 detik
- Rekaman baru memperlihatkan drone FPV Rusia mengejar pedagang sayur di Kherson hingga meledak, melukai korban yang selamat.
- Pemerintah Ukraina mengecam aksi tersebut sebagai 'perburuan' sistematis terhadap warga sipil, menuntut respons internasional.
- Insiden ini menyoroti eskalasi serangan drone dalam perang yang telah berlangsung 4,5 tahun, dengan korban sipil meningkat.

Sebuah video yang beredar luas pada Selasa (4/8) memperlihatkan momen mencekam ketika sebuah drone FPV (first-person view) Rusia mengejar seorang pedagang sayur di pasar Kherson, Ukraina selatan, sebelum meledak di dekatnya. Insiden ini memicu kecaman keras dari pemerintah Ukraina yang menyebutnya sebagai 'perburuan' dan 'safari' yang disengaja terhadap warga sipil. Rekaman yang belum dapat diverifikasi secara independen itu memperlihatkan korban berusaha berlindung di balik kendaraan saat drone mendekat, kemudian meledak.
Korban, seorang pria berusia 52 tahun yang diidentifikasi sebagai Yuriy, selamat namun menderita luka ledakan, serpihan, dan gegar otak. Dalam video yang diunggah otoritas setempat, ia menceritakan, "Saya baru saja memasang payung dan mulai mengeluarkan krat... Istri saya juga ada di sana. Kami mendengar suara mendengung." Kepala Administrasi Militer Kota Kherson, Yaroslav Shanko, mengonfirmasi bahwa korban mengalami luka fisik namun selamat. Gubernur Kherson, Oleksandr Prokudin, menambahkan bahwa nyawa korban tidak terancam.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam keras insiden ini melalui akun X-nya, menyebutnya sebagai bukti bahwa "Rusia telah gila dan tentaranya menikmati membunuh dan menyiksa warga sipil." Ia menegaskan bahwa dunia harus melihat semua bukti ini. Menteri Luar Negeri Andriy Sybiga menyebut insiden itu sebagai "kejahatan perang Rusia yang biadab" dan menuntut kecaman serta keadilan internasional. Ombudsman Ukraina, Dmytro Lubinets, juga menyatakan bahwa video tersebut "menunjukkan taktik nyata Rusia - mengejar dan membunuh orang tak bersalah".
Kota Kherson, yang sebelum perang berpenduduk sekitar 280.000 jiwa, berada di bawah kendali Rusia dari Maret hingga November 2022. Kini, pasukan Rusia yang berposisi di seberang Sungai Dnieper rutin menyerang kota tersebut, terutama dengan drone. Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan peningkatan kematian warga sipil sepanjang tahun 2026, seiring perang yang telah berlangsung empat setengah tahun tanpa tanda-tanda kesepakatan damai. Rusia juga kerap menuduh Ukraina menargetkan warga sipil dengan drone di wilayah perbatasan.
Bagi Indonesia, konflik ini menjadi pengingat akan pentingnya hukum humaniter internasional dan perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata. Sebagai negara yang aktif dalam misi perdamaian PBB, Indonesia memiliki kepentingan untuk mendorong penyelesaian damai dan mengecam segala bentuk kekerasan terhadap non-kombatan. Serangan drone yang menargetkan warga sipil, seperti yang terjadi di Kherson, menunjukkan urgensi regulasi penggunaan senjata otonom dan drone dalam peperangan modern.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana komunitas internasional akan merespons eskalasi kekerasan ini. Apakah akan ada mekanisme akuntabilitas yang efektif, ataukah siklus kekerasan akan terus berlanjut? Yang jelas, setiap bukti seperti video ini menambah tekanan pada Rusia dan memperkuat tuntutan agar konflik segera diakhiri.



