Pencarian Korban Longsor Broad Peak Terhambat Cuaca Buruk: Delapan Jenazah Ditemukan
Baca dalam 60 detik
- Operasi pencarian 10 pendaki yang tewas tertimbun salju di Broad Peak terhambat cuaca ekstrem, helikopter tak bisa diterbangkan.
- Delapan jenazah telah ditemukan tim darat, tiga di antaranya berhasil dievakuasi; Nirmal Purja, legenda pendakian, termasuk korban.
- Pemerintah Pakistan berkoordinasi dengan kedutaan asing untuk melanjutkan evakuasi, sementara komunitas pendaki dunia berduka.

Operasi pencarian dan evakuasi jenazah sepuluh pendaki yang menjadi korban longsoran salju di Broad Peak, gunung tertinggi ke-12 di dunia, masih berlangsung meski cuaca buruk memaksa tim darat bekerja tanpa dukungan udara. Pemerintah regional Gilgit-Baltistan, Pakistan, menyatakan helikopter yang disiagakan belum dapat diterbangkan hingga tengah hari karena kondisi cuaca tidak memungkinkan.
Longsoran yang terjadi Kamis lalu itu menewaskan pendaki dari Nepal, Oman, Pakistan, China, Inggris, dan Amerika Serikat. Alpine Club of Pakistan menyebut peristiwa ini sebagai salah satu bencana pendakian paling mematikan di negara tersebut. Tim darat telah menemukan delapan jenazah, dan setidaknya tiga di antaranya berhasil diturunkan dari gunung pada Sabtu.
Di antara korban tewas terdapat Nirmal Purja, pendaki asal Nepal yang pernah menjadi tentara Inggris dan dikenal luas dengan julukan Nims Dai. Purja terkenal setelah memecahkan rekor pendakian delapan puncak tertinggi dunia dalam waktu singkat. Perusahaan ekspedisinya menyatakan dunia kehilangan salah satu tokoh terbaik dalam dunia pendakian.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga para korban. Ia juga secara khusus mengenang pendaki Pakistan, Sohail Sakhi, yang turut gugur. Dar memuji keberanian dan dedikasi tim penyelamat yang bekerja tanpa lelah, serta menegaskan komitmen Pakistan untuk melanjutkan operasi pencarian dengan koordinasi erat bersama kedutaan Nepal, Oman, Inggris, dan Amerika Serikat.
Bencana ini menyoroti risiko ekstrem yang dihadapi pendaki di pegunungan tinggi, terutama di kawasan Karakoram yang dikenal dengan cuaca tidak menentu dan medan berbahaya. Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan dalam ekspedisi pendakian, mengingat semakin banyak pendaki Tanah Air yang menaklukkan puncak-puncak dunia. Meski tidak ada korban dari Indonesia, komunitas pendaki lokal turut berduka dan menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga.
Operasi pencarian masih terus berlanjut, dengan tim darat berjuang melawan kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Pertanyaan yang menggantung: apakah jenazah korban lainnya dapat segera dievakuasi, dan bagaimana dampak tragedi ini terhadap industri pendakian di Pakistan yang selama ini menjadi daya tarik wisata petualangan?



