Komisaris Baru MLS Larry Berg: Kualitas Lapangan dan Pembinaan Muda Jadi Prioritas Pasca Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Larry Berg, eksekutif private equity dan pemilik LAFC, ditunjuk sebagai komisaris MLS menggantikan Don Garber, dengan fokus pada peningkatan kualitas kompetisi dan pengembangan pemain muda.
- Berg menekankan pentingnya mengubah minat pasca-Piala Dunia 2026 menjadi dukungan jangka panjang, termasuk melalui investasi di akademi dan MLS Next Pro.
- Pengalaman Berg di bidang investasi diharapkan membantu MLS memanfaatkan modal swasta secara selektif, dengan 16 dari 30 klub telah memiliki investor private equity.

Major League Soccer (MLS) menunjuk Larry Berg, eksekutif private equity dan pemilik Los Angeles FC, sebagai komisaris baru yang akan menggantikan Don Garber mulai tahun depan. Penunjukan ini diumumkan Senin (4/8) dan langsung menempatkan peningkatan kualitas permainan serta pengembangan pemain muda sebagai agenda utama, seiring upaya liga memanfaatkan euforia Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Utara.
Berg, yang juga pendiri 26North, menggarisbawahi bahwa prioritas jangka pendek MLS adalah mengonversi lonjakan minat pasca-turnamen menjadi basis penggemar yang loyal. Ia menilai kualitas di lapangan menjadi fondasi utama: semakin baik performa tim, semakin besar daya tarik bagi penonton, yang pada gilirannya mendatangkan lebih banyak sumber daya untuk meningkatkan standar kompetisi. "Kualitas di lapangan jelas nomor satu," ujarnya, seraya menambahkan bahwa siklus positif ini akan menentukan pertumbuhan liga dalam beberapa tahun ke depan.
Langkah ini tidak lepas dari kesuksesan Piala Dunia 2026 yang berhasil membuka mata publik Amerika terhadap sepak bola global. MLS melaporkan lonjakan penjualan tiket dan rating televisi setelah turnamen, dengan stadion penuh dan festival penggemar di berbagai kota. Namun, Berg menyadari bahwa euforia semacam itu bisa memudar jika tidak diimbangi dengan perbaikan berkelanjutan. Ia pun menyoroti pentingnya akademi dan MLS Next Pro, kompetisi pengembangan liga, sebagai jalur utama bagi pemain muda untuk menembus tim utama.
Menurut Berg, MLS memiliki peluang untuk membedakan diri dari liga olahraga Amerika Utara lainnya dengan memberikan menit bermain reguler bagi remaja. Hal ini tidak hanya memperkuat tim nasional AS dan Kanada, tetapi juga menciptakan identitas kompetisi yang khas. "Saya ingin melihat akademi dan MLS Next Pro menjadi lebih produktif," tegasnya, menekankan bahwa pembinaan usia dini adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditawar.
Di sisi lain, latar belakang Berg di dunia investasi menjadi sorotan. Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di Apollo Global Management, ia diharapkan mampu menyeimbangkan peran modal swasta dalam olahraga. Saat ini, 16 dari 30 klub MLS telah memiliki investor private equity, dan Berg menilai kemitraan seperti dengan KKR di divisi kedua bisa menjadi model untuk mendukung klub di pasar kecil, termasuk pembangunan stadion dan kerja sama dengan pemerintah kota. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tidak semua investasi cocok untuk sepak bola, dan pengalamannya akan membantu liga memilih mana yang benar-benar aditif.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, penunjukan Berg mencerminkan tren global di mana liga-liga besar mulai serius membangun ekosistem pembinaan usia muda. MLS, yang selama ini sering dianggap sebagai liga "pensiunan" pemain bintang, kini berusaha mengubah citra tersebut dengan memprioritaskan akademi. Pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya investasi jangka panjang dalam pengembangan pemain, bukan hanya mendatangkan bintang asing. Indonesia, yang tengah menggenjot pembinaan usia muda melalui berbagai program, bisa menjadikan model MLS sebagai referensi, terutama dalam hal kolaborasi antara liga, klub, dan pemerintah.
Berg juga menyentuh aspek keterlibatan penggemar, sebuah nilai yang ia pelajari dari pengalamannya di LAFC. Ia mencontohkan bagaimana klub tersebut membangun identitas bersama suporter, mulai dari desain tribun hingga inisiatif komunitas. "Kami menciptakannya bersama penggemar sejak awal," katanya, menegaskan bahwa suporter bukan sekadar penonton, melainkan mitra dalam pertumbuhan klub. Filosofi ini diharapkan bisa diterapkan di seluruh MLS untuk memperkuat ikatan emosional dengan komunitas lokal.
Don Garber, yang akan beralih peran menjadi chairman, menilai penunjukan Berg sebagai tanda evolusi sepak bola Amerika. "Tiga puluh tahun lalu, hanya segelintir anak yang bermain, tetapi kini para pemimpin politik, bisnis, dan investor tumbuh bersama permainan ini," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bagaimana sepak bola telah menjadi bagian dari arus utama budaya Amerika, dan Berg diharapkan mampu membawa MLS ke level berikutnya.
Ke depan, tantangan terbesar Berg adalah menjaga momentum pasca-Piala Dunia sambil memastikan kualitas kompetisi terus meningkat. Pertanyaannya, mampukah ia menyeimbangkan kepentingan investor dengan kebutuhan pengembangan jangka panjang? Dengan pengalaman dan visinya, publik sepak bola Amerika menantikan langkah konkret yang akan diambilnya dalam beberapa bulan pertama kepemimpinan.



