Pembatasan Gula pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan Terkait dengan Penurunan Risiko Demensia dan Depresi di Usia Dewasa
Baca dalam 60 detik
- Studi terhadap lebih dari 60.000 partisipan menunjukkan bahwa pembatasan asupan gula pada awal kehidupan dapat menurunkan risiko Alzheimer hingga 46%.
- Analisis data historis dari Inggris mengungkap bahwa paparan gula yang rendah pada masa kanak-kanak juga berhubungan dengan penurunan risiko depresi dan kecemasan.
- Temuan ini menekankan pentingnya kebijakan gizi pada ibu hamil dan anak sebagai investasi jangka panjang untuk kesehatan otak.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal npj Aging mengungkap bahwa pembatasan asupan gula pada periode emas 1.000 hari pertama kehidupan—sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun—dikaitkan dengan penurunan risiko Alzheimer, demensia, serta gangguan mental seperti depresi dan kecemasan di kemudian hari. Temuan ini memperkuat bukti bahwa nutrisi dini memiliki dampak jangka panjang yang signifikan terhadap kesehatan otak.
Para peneliti memanfaatkan fenomena unik berakhirnya penjatahan gula di Inggris pada tahun 1953 sebagai eksperimen alami. Mereka menganalisis data kesehatan lebih dari 60.000 partisipan dari U.K. Biobank yang lahir antara 1951 dan 1956. Mereka yang dikandung dan dilahirkan pada masa penjatahan mengonsumsi gula jauh lebih sedikit dibandingkan mereka yang lahir setelahnya, sehingga memungkinkan perbandingan yang lebih bersih dari faktor sosial-ekonomi yang biasanya mengganggu studi nutrisi.
Hasilnya, orang dewasa yang terpapar pembatasan gula pada awal kehidupan memiliki risiko Alzheimer 46% lebih rendah dan risiko demensia secara umum 27% lebih rendah. Selain itu, risiko depresi turun 11% dan kecemasan 20%. Menariknya, pemindaian otak menunjukkan bahwa otak partisipan yang terpapar pembatasan gula tampak lebih muda 0,39 tahun dari usia kronologisnya, dengan volume lebih besar di area seperti hipokampus dan talamus—wilayah yang berperan penting dalam memori dan sering terdampak pada Alzheimer.
Penulis senior studi, Bing Zhang, PhD, dari Guangzhou First People's Hospital, menegaskan bahwa ini adalah bukti pertama pada manusia yang menunjukkan bahwa pembatasan gula pada awal kehidupan memberikan perlindungan jangka panjang terhadap gangguan neurodegeneratif dan psikiatrik. “Temuan ini menyoroti bahwa paparan diet selama kehamilan dan masa bayi dapat berdampak seumur hidup pada kesehatan otak,” ujarnya. Namun, para ahli lain mengingatkan untuk tidak menafsirkan hasil secara berlebihan. Peter Gliebus, MD, dari Marcus Neuroscience Institute, mencatat bahwa jumlah kasus Alzheimer dalam studi ini relatif kecil dan partisipan belum mencapai usia di mana Alzheimer paling umum terjadi.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan dengan tingginya prevalensi diabetes dan obesitas yang terus meningkat. Kebijakan pembatasan gula pada makanan pendamping ASI dan produk bayi menjadi langkah preventif yang penting. Dung Trinh, MD, dari Healthy Brain Clinic, menekankan bahwa tujuan bukanlah menghilangkan semua gula, terutama dari buah utuh, melainkan membatasi gula tambahan. “Kita perlu fokus pada pola makan seimbang, olahraga, tidur yang cukup, serta kontrol tekanan darah dan gula darah,” katanya. Rehan Aziz, MD, dari Hackensack Meridian School of Medicine, berharap penelitian selanjutnya mengkaji apakah pembatasan gula pada usia pertengahan juga memberikan manfaat serupa, serta membedakan dampak berbagai jenis gula, seperti gula cair atau sirup jagung fruktosa tinggi.
Studi ini membuka jalan bagi rekomendasi gizi yang lebih ketat pada ibu hamil dan anak, sekaligus menyoroti pentingnya intervensi dini sebagai strategi pencegahan demensia yang belum ada obatnya. Pertanyaan yang muncul: apakah kebijakan serupa—seperti pajak gula atau label peringatan—dapat diadopsi di Indonesia untuk melindungi generasi mendatang? Dengan meningkatnya konsumsi makanan olahan di kalangan anak muda, urgensi untuk bertindak kini semakin nyata.



