UK Sport Putus Aliran Dana ke GB Snowsport, Atlet Tetap Terlindungi
Baca dalam 60 detik
- Lembaga pendanaan olahraga Inggris, UK Sport, menghentikan penyaluran dana melalui GB Snowsport dan akan mencari skema baru untuk mengucurkan £12,5 juta bagi atlet ski dan snowboard.
- Keputusan ini menyusul kesuksesan Team GB di Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina dengan raihan lima medali, termasuk tiga emas, namun juga diwarnai pergantian kepemimpinan di GB Snowsport.
- Dana atlet akan tetap dibayarkan langsung, sementara review independen tata kelola akan dibentuk; investasi total musim dingin naik menjadi £33 juta untuk siklus menuju Olimpiade 2030.

UK Sport, lembaga pendanaan olahraga Inggris, secara resmi menghentikan penyaluran investasi untuk olahraga ski dan snowboard melalui badan pengelola GB Snowsport. Sebagai gantinya, mereka akan merancang mekanisme baru untuk menyalurkan dana sebesar £12,5 juta kepada para atlet dan pelatih menjelang Olimpiade dan Paralimpiade Musim Dingin 2030 di Pegunungan Alpen Prancis.
Keputusan ini diumumkan enam bulan setelah Team GB mencatatkan performa terbaik mereka di Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina. Saat itu, kontingen Inggris membawa pulang lima medali, termasuk tiga emas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Salah satu emas tersebut diraih dari nomor snowboard cross beregu campuran, yang menjadi medali emas pertama Inggris di atas salju sepanjang sejarah.
UK Sport telah mengirimkan surat pemberitahuan kepada seluruh atlet snowsport yang menerima pendanaan, memastikan bahwa hibah akan tetap dibayarkan langsung tanpa melalui GB Snowsport. Selain itu, sebuah tinjauan independen akan dibentuk untuk mengevaluasi tata kelola GB Snowsport. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran tentang stabilitas organisasi, yang telah berganti ketua dua kali dalam tiga tahun terakhir dan saat ini sedang mencari ketua baru. Michael Oesterlin, yang telah menjabat sebagai direktur non-eksekutif selama empat tahun, ditunjuk sebagai ketua sementara.
Keputusan ini merupakan bagian dari investasi rekor senilai lebih dari £33 juta untuk olahraga musim dingin dalam siklus empat tahun, meningkat dari sekitar £32,5 juta pada siklus Olimpiade 2026. Direktur Kinerja dan Personalia UK Sport, Kate Baker, menegaskan bahwa persaingan di olahraga musim dingin semakin ketat, sehingga investasi harus difokuskan pada area yang memberikan dampak terbesar. "Kami tidak takut untuk mendorong perubahan yang diperlukan guna memberikan peluang terbaik bagi atlet kami," ujarnya.
GB Snowsport menyatakan kekecewaannya atas keputusan ini, namun tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan UK Sport. Dalam pernyataannya, mereka menegaskan akan "menjaga semua opsi tetap terbuka untuk memastikan pencapaian empat tahun terakhir tidak hilang". Mereka juga mengklaim telah menyelesaikan tinjauan tata kelola independen yang didanai UK Sport, yang menyimpulkan bahwa standar tata kelola mereka tetap kuat dan sesuai. Organisasi ini siap terlibat penuh dalam tinjauan baru yang akan dibentuk.
Dari total investasi tersebut, sekitar sepertiga atau £10 juta akan dialokasikan untuk bobsleigh dan skeleton, yang berhasil menyumbang dua dari tiga medali emas Team GB di Milan-Cortina. Sementara itu, cabang olahraga lain seperti curling (£6,54 juta), wheelchair curling (£1,93 juta), ice skating (£2 juta), dan ice hockey (£445.000) juga menerima pendanaan. Untuk ice hockey, dana tersebut disebut sebagai 'transition funding' yang akan digunakan untuk membantu organisasi menjadi mandiri secara berkelanjutan, seperti diungkapkan oleh CEO sementara Ice Hockey UK, Tim Bratton.
Mulai 2030, pendanaan untuk program bobsleigh dan skeleton akan dikelola oleh organisasi pengiriman multi-olahraga baru bernama Sport Org, yang akan menjalankan program performa elit atas nama badan pengelola. Sport Org saat ini sudah mengawasi program curling dan wheelchair curling, dan akan mengambil alih dari Asosiasi Bobsleigh & Skeleton Inggris (BBSA) menjelang Olimpiade Utah 2034. Perubahan ini menandai pergeseran signifikan dalam cara pendanaan olahraga musim dingin di Inggris, dengan fokus pada efisiensi dan hasil yang terukur.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran penting tentang tata kelola olahraga. Meski Indonesia tidak memiliki tradisi kuat di olahraga musim dingin, keputusan UK Sport menunjukkan bahwa transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana publik adalah kunci untuk mencapai prestasi. Dengan adanya Olimpiade Musim Dingin 2030 yang akan digelar di Eropa, negara-negara berkembang seperti Indonesia dapat belajar dari model pendanaan langsung ke atlet yang diterapkan Inggris, yang meminimalkan birokrasi dan memastikan dana sampai ke tangan yang tepat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana GB Snowsport akan merespons tinjauan independen dan apakah mereka mampu memulihkan kepercayaan UK Sport. Dengan kepemimpinan baru yang akan segera dipilih, organisasi ini memiliki kesempatan untuk membenahi diri. Namun, jika tidak, bukan tidak mungkin UK Sport akan semakin memperkuat peran Sport Org dalam mengelola olahraga musim dingin Inggris. Sementara itu, para atlet dapat bernapas lega karena pendanaan mereka tetap aman, dan fokus mereka kini tertuju pada persiapan menuju Alpen Prancis 2030.



