AS Optimistis Kesepakatan Selat Hormuz Tuntas Hari Ini atau Besok
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan AS menyatakan kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz berpotensi tercapai dalam hitungan jam.
- Serangan terbaru terhadap kapal kargo di perairan tersebut menambah urgensi negosiasi yang masih alot.
- Jika tercapai, kesepakatan ini akan memulihkan arus minyak global dan meredakan ketegangan geopolitik yang berdampak pada harga energi.

Washington mengisyaratkan bahwa kebuntuan diplomatik dengan Teheran mengenai Selat Hormuz dapat segera berakhir. Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan kepada CNBC bahwa ada peluang kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut akan tercapai "hari ini atau besok". Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam setelah sebuah kapal kargo kembali menjadi sasaran serangan di perairan yang sama, menambah urgensi penyelesaian konflik yang telah berlangsung lebih dari lima bulan.
Sejak perang pecah pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran, Selat Hormuz telah menjadi titik api yang berulang kali memicu eskalasi. Meskipun gencatan senjata dan kesepakatan awal telah disepakati, diplomasi belum mampu mengakhiri permusuhan. Iran, yang sebelumnya tidak pernah mengendalikan selat tersebut, kini menuntut hak untuk mengatur lalu lintas kapal dan memungut biayaโsebuah tuntutan yang ditolak keras oleh Washington.
Presiden Donald Trump, dalam pernyataannya dari Gedung Putih, kembali memadukan nada optimisme dan ancaman. Ia menyebut ini sebagai "kesempatan terakhir sebelum pemenggalan" bagi Iran, sambil mengklaim bahwa negosiasi sedang berlangsung. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya perundingan langsung dengan AS. Qatar, yang bertindak sebagai mediator, mengonfirmasi bahwa upaya diplomatik masih berjalan, tetapi tidak ada rencana pertemuan langsung antara kedua negara.
Fokus utama negosiasi adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, yang menurut Trump bisa terjadi "secara harfiah besok", serta denuklirisasi Iran yang diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama. Trump juga menekankan blokade balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada yang bisa masuk atau keluar dari Iran tanpa persetujuan AS, kecuali ada kesepakatan atau penyerahan total.
Di tengah ketidakpastian ini, Iran terus memberlakukan blokade efektif di selat tersebut dan meminta kapal-kapal untuk berkoordinasi serta mengambil rute yang dekat dengan pantai Iran. Banyak kapal justru memilih jalur selatan yang lebih dekat dengan Oman untuk menghindari kendali Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa Teheran sedang merundingkan rute baru dengan Muscat, namun menegaskan bahwa hal itu tidak terkait dengan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Bagi Indonesia, ketegangan di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung terhadap harga energi dan stabilitas pasokan minyak. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan di jalur tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri dan menekan anggaran subsidi. Selain itu, ketidakpastian geopolitik ini juga dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah dan iklim investasi di kawasan.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Trump benar-benar dapat mewujudkan kesepakatan dalam waktu dekat, atau apakah ini hanya manuver politik untuk menunjukkan kekuatan. Jika kesepakatan tercapai, dunia dapat bernapas lega, tetapi jika gagal, risiko eskalasi militer dan gangguan pasokan energi global akan semakin besar. Yang jelas, setiap perkembangan di Selat Hormuz akan terus dipantau ketat oleh pasar dan pemerintah di seluruh dunia, termasuk Indonesia.



