Kebakaran Gunung Bromo Meluas, Taman Nasional Ditutup: Ancaman El Nino dan Dampaknya bagi Pariwisata Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru telah menghanguskan 127 hektare lahan, memaksa penutupan kawasan wisata ikonik di Jawa Timur.
- Kondisi kering akibat El Nino memperparah musim kebakaran, dengan total lahan terbakar di Indonesia mencapai 107.000 hektare pada semester pertama tahun ini.
- Penutupan Bromo berpotensi mengganggu sektor pariwisata lokal dan menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan pemerintah menghadapi bencana serupa di masa depan.

Kebakaran hutan yang melanda Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur terus meluas, memaksa otoritas setempat menutup kawasan wisata ikonik tersebut hingga waktu yang belum ditentukan. Dua helikopter water bombing dikerahkan untuk menjinakkan api yang telah menghanguskan sedikitnya 127 hektare lahan, setara dengan 180 lapangan sepak bola, sejak api pertama kali muncul pada awal pekan ini.
Petugas pemadam kebakaran menghadapi medan yang sulit karena titik api berada di area tebing curam, seperti diungkapkan oleh pejabat taman nasional Rudijanta Tjahja Nugraha. Kondisi ini membuat upaya pemadaman dari darat hampir mustahil dilakukan. "Kami sangat bergantung pada arah angin," kata pejabat pemadam kebakaran Bambang Setyo Antoko, menggambarkan ketidakpastian dalam pengendalian api.
Peristiwa ini terjadi di tengah peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa musim kemarau tahun ini akan lebih kering dan berkepanjangan akibat fenomena El Nino. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan lebih dari 107.000 hektare lahan terbakar di Indonesia sepanjang Januari hingga Juni, lebih dari dua kali lipat luas kebakaran pada periode yang sama tahun lalu. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa dampak El Nino tidak bisa dianggap remeh.
Bagi Indonesia, kebakaran Bromo bukan sekadar bencana ekologis, tetapi juga pukulan telak bagi sektor pariwisata. Gunung Bromo adalah salah satu destinasi paling populer di tanah air, menarik ribuan wisatawan domestik dan mancanegara setiap tahun. Penutupan kawasan ini berpotensi merugikan ekonomi lokal yang bergantung pada jasa wisata, mulai dari penginapan, transportasi, hingga pedagang oleh-oleh. Pertanyaannya, apakah pemerintah daerah memiliki rencana kontingensi untuk memulihkan sektor ini setelah api padam?
Sejarah mencatat, kebakaran besar di Bromo pada 2023 dipicu oleh kelalaian manusiaโsepasang pengantin menyalakan flare untuk foto prewedding. Meski penyebab kebakaran kali ini belum diketahui, kondisi kekeringan ekstrem jelas menjadi faktor pemicu utama. Bambang menegaskan bahwa taman nasional dalam kondisi sangat kering, membuat percikan api sekecil apa pun dapat dengan mudah membesar menjadi kobaran.
El Nino, fenomena iklim alami yang memicu kekeringan di Asia Tenggara, telah terbukti berkontribusi pada rekor suhu panas global pada 2023 dan 2024. Tahun ini, dampaknya kembali terasa dengan musim kemarau yang lebih awal dan lebih kering. BMKG memperkirakan risiko kebakaran hutan dan kekeringan akan meningkat signifikan, tidak hanya di Jawa Timur tetapi juga di wilayah lain seperti Kalimantan dan Sumatera yang rawan karhutla.
Pemerintah pusat dan daerah perlu bergerak cepat tidak hanya untuk memadamkan api, tetapi juga untuk memperkuat sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang masih panjang. Apakah insiden ini akan menjadi katalis bagi reformasi pengelolaan kawasan konservasi dan mitigasi bencana di Indonesia? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, Bromo mengirimkan pesan nyaring tentang urgensi adaptasi terhadap perubahan iklim.



