Desa Lizu: Ketika Anak Muda Tiongkok Memilih Pulang Kampung dan Mengubah Wajah Pedesaan
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari separuh penduduk Desa Lizu di Zhejiang kini berusia di bawah 35 tahun, dengan 340 pengusaha muda mengelola sekitar 100 usaha yang meraup pendapatan tahunan 70 juta yuan.
- Fenomena ini mencerminkan pergeseran pola pikir generasi muda Tiongkok yang tidak lagi menganggap kota besar sebagai satu-satunya ladang peluang, melainkan melihat potensi di daerah asal.
- Keberhasilan revitalisasi desa di Tiongkok menawarkan pelajaran bagi Indonesia dalam merancang kebijakan pembangunan pedesaan yang berkelanjutan dan inklusif.

Di sebuah desa berusia berabad-abad di Provinsi Zhejiang, Tiongkok, sekitar separuh penduduknya kini berusia di bawah 35 tahun. Mereka bukan sekadar tinggal, tetapi membuka kafe, toko kerajinan, dan berbagai usaha lain yang mengubah wajah desa yang dulu nyaris mati. Desa Lizu, yang pernah dijuluki "desa tanduk kerbau air" karena dianggap buntu, kini menjadi model revitalisasi pedesaan yang digadang-gadang mampu menjembatani kesenjangan kota-desa.
Transformasi Lizu tidak terjadi dalam semalam. Dimulai pada 2003 dengan perbaikan infrastruktur dasar, desa ini perlahan-lahan mengembangkan sektor komersial. Kini, sekitar 340 pengusaha muda menjalankan sekitar 100 bisnis, mulai dari kerajinan tradisional hingga toko serba ada, dengan pendapatan tahunan mencapai 70 juta yuan atau sekitar Rp150 miliar. Angka ini menjadi bukti bahwa desa tidak lagi menjadi tempat untuk ditinggalkan, melainkan lahan subur bagi inovasi dan kewirausahaan.
Salah satu motor penggerak perubahan ini adalah Jin Liu Yun Yi, mantan guru sekolah di Hangzhou yang memutuskan kembali ke kampung halamannya di Yiwu. Setelah lima bulan merenovasi, ia membuka Coeur Et, kafe bergaya Prancis yang juga menjadi pusat kegiatan komunitas. "Pekerjaan mengajar itu stabil, tapi kamu bisa melihat persis bagaimana hidupmu akan berjalan," ujarnya. "Saya sekarang 30 tahun dan berpikir masih punya 10 tahun untuk mencoba hal-hal berbeda. Mungkin salah, mungkin benar, tidak ada jaminan. Saya hanya suka perasaan itu."
Kisah serupa datang dari Grace Fang, lulusan universitas yang sebelumnya bekerja dengan jadwal "996"โdari pukul 9 pagi hingga 9 malam, enam hari semingguโdi sebuah perusahaan internet di Beijing. Kini ia mengelola toko dupa dari rumah neneknya, membuat liontin dan aksesori dari herbal Tiongkok. "Saya pindah ke kota besar dan bertemu berbagai macam orang dengan kehidupan yang berbeda. Bahkan di Beijing, kamu masih bisa menemukan desa," katanya. "Intinya, saya menemukan jalan alternatif untuk hidup saya. Jika tidak berhasil, saya bisa kembali ke cara hidup lama."
Fenomena ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah Tiongkok yang gencar mendorong revitalisasi pedesaan. Strategi ini pertama kali diperkenalkan pada Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok ke-19 pada 2017, dan tahun lalu diluncurkan rencana komprehensif yang berjalan hingga 2027. Namun, menurut Zhao Deyu, profesor di Sekolah Pembangunan Sosial dan Kebijakan Publik Universitas Fudan, kunci keberhasilan setiap desa terletak pada keunikan masing-masing. "Kekuatan pendorong di balik kesuksesan mereka adalah setiap desa memiliki ciri khasnya sendiri," jelasnya. Ada desa yang fokus pada homestay, musik, baseball, tembikar, atau pendidikan.
Meski demikian, revitalisasi desa bukan tanpa tantangan. Di banyak desa, terdapat aturan tidak tertulis yang mengatur penggunaan ruang publik. Pembuat kebijakan harus memastikan pendapatan dari ruang bersama didistribusikan secara adil. Selain itu, muncul tanda-tanda persaingan tidak sehat antar desa, di mana satu desa meniru model bisnis desa lain yang terbukti sukses. "Jika turis datang ke satu desa dan melihat desa berikutnya punya fitur yang sama, bisnis akan tersebar dan semua orang kesulitan mendapat untung," kata Zhao. Untuk mengatasinya, pemerintah memperkenalkan kerangka perencanaan yang mendorong desa mengembangkan penawaran yang berbeda.
Bagi Indonesia, fenomena ini menawarkan pelajaran berharga. Dengan ribuan desa yang tersebar di seluruh nusantara, pemerintah Indonesia tengah berupaya mendorong pembangunan dari pinggiran. Program seperti Dana Desa dan pengembangan desa wisata bisa belajar dari pendekatan Tiongkok yang menekankan keunikan lokal dan partisipasi anak muda. Namun, perlu diingat bahwa konteks sosial-ekonomi Indonesia berbeda, sehingga adopsi kebijakan harus disesuaikan dengan kondisi setempat.
Kembali ke Lizu, Fang Hao Tong, pensiunan guru berusia 77 tahun, menyaksikan sendiri perubahan dramatis desanya. Rumah lamanya kini menjadi kafe modern dengan lantai berkarpet dan karya seni. "Saya pikir anak muda datang ke pedesaan untuk memulai bisnis adalah hal yang sangat baik," katanya. "Ini menunjukkan mereka tidak bergantung pada orang lain, menunggu gaji." Ia berharap suatu hari bangunan-bangunan tua yang pernah menjadi bagian masa kecilnya dapat dibangun kembali.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah model revitalisasi seperti Lizu dapat direplikasi secara luas tanpa kehilangan keunikan masing-masing desa. Dengan 260.000 desa yang menunggu perbaikan, Tiongkok masih menghadapi pekerjaan rumah besar. Sementara itu, bagi anak muda Indonesia yang merindukan kampung halaman, kisah Lizu mungkin menjadi inspirasi bahwa pulang kampung bukanlah kemunduran, melainkan awal dari petualangan baru yang penuh makna.



