Menhan Sjafrie Tegaskan Komitmen Perkuat Kerja Sama Militer dengan Thailand: Dari Pertukaran Pasukan Khusus hingga Patroli Selat Malaka
Baca dalam 60 detik
- Indonesia dan Thailand sepakat memperdalam kerja sama pertahanan melalui pertukaran perwira dan latihan gabungan pasukan khusus, sebagai tindak lanjut Defense Cooperation Agreement (DCA).
- Kedua negara juga akan meningkatkan patroli terkoordinasi di Selat Malaka, sebuah langkah strategis untuk menjaga stabilitas kawasan ASEAN di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.
- Langkah ini memperkuat posisi Indonesia sebagai poros maritim dan membuka peluang bagi industri pertahanan dalam negeri untuk terlibat dalam proyek bersama di masa mendatang.

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan komitmen Indonesia untuk terus memperdalam kerja sama militer dengan Thailand, seiring dengan kunjungan kehormatan Menteri Pertahanan Thailand, Letnan Jenderal Adul Boomthumjareon, di kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta Pusat, Senin (10/2). Pertemuan ini menjadi momentum untuk mengaktualisasikan Defense Cooperation Agreement (DCA) yang telah disepakati kedua negara, mencakup berbagai bidang mulai dari latihan gabungan, pendidikan prajurit, hingga pengembangan industri pertahanan.
Dalam pernyataannya, Sjafrie menggarisbawahi rencana konkret yang akan segera dieksekusi, termasuk pertukaran perwira dan prajurit dari pasukan khusus kedua negara, serta latihan bersama antara pasukan khusus Indonesia dan Thailand. "Sebagai contoh, kita akan melakukan pertukaran perwira, prajurit dari pasukan khusus kedua negara, dan juga kita berencana untuk melakukan latihan antara kedua pasukan khusus Indonesia dan Thailand," ujarnya. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk memperkuat interoperabilitas dan membangun kepercayaan antar kedua angkatan bersenjata.
Selain kerja sama militer konvensional, kedua negara juga sepakat untuk meningkatkan patroli terkoordinasi di Selat Malaka. Sjafrie menegaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas kawasan ASEAN, khususnya di salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia tersebut. "Kita akan melakukan peningkatan patroli terkoordinasi antara masing-masing negara untuk stabilitas di kawasan ASEAN, khususnya di Selat Malaka," jelasnya. Kolaborasi ini menjadi penting mengingat Selat Malaka merupakan urat nadi perdagangan global yang kerap menghadapi tantangan keamanan, seperti perompakan dan penyelundupan.
Bagi Indonesia, penguatan kerja sama dengan Thailand memiliki signifikansi strategis yang lebih luas. Di tengah rivalitas kekuatan besar di Indo-Pasifik, soliditas ASEAN menjadi kunci untuk menjaga netralitas dan stabilitas kawasan. Kerja sama pertahanan bilateral ini tidak hanya memperkuat kapabilitas militer, tetapi juga membangun kepercayaan politik yang dapat menjadi fondasi bagi kolaborasi di bidang lain, seperti ekonomi dan keamanan maritim. Selain itu, keterlibatan industri pertahanan dalam negeri dalam proyek bersama dengan Thailand berpotensi membuka pasar baru dan meningkatkan kapasitas produksi alutsista nasional.
Langkah ini juga sejalan dengan prioritas politik luar negeri Indonesia yang menempatkan ASEAN sebagai pilar utama. Dengan mempererat hubungan pertahanan dengan Thailand, Indonesia berupaya membangun arsitektur keamanan kawasan yang inklusif dan berbasis pada kerja sama, bukan konfrontasi. Hal ini menjadi semakin relevan mengingat dinamika geopolitik yang ditandai dengan meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan dan persaingan pengaruh antara Amerika Serikat dan China.
Meski demikian, implementasi kerja sama ini tidak lepas dari tantangan. Perbedaan kapabilitas dan prioritas pertahanan antara kedua negara dapat menjadi hambatan dalam menyelaraskan agenda bersama. Selain itu, anggaran pertahanan yang terbatas juga dapat mempengaruhi realisasi program-program yang telah direncanakan. Namun, dengan komitmen politik yang kuat dari kedua pemimpin, hambatan-hambatan tersebut diharapkan dapat diatasi.
Ke depan, publik akan mencermati sejauh mana kerja sama ini diterjemahkan dalam aksi nyata di lapangan. Apakah pertukaran perwira dan latihan gabungan akan berjalan sesuai jadwal? Bagaimana pula kontribusi industri pertahanan dalam negeri dalam proyek-proyek bersama? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi indikator keberhasilan komitmen yang telah ditegaskan. Yang jelas, langkah ini menegaskan bahwa Indonesia serius dalam memperkuat pertahanan kawasan, dan kerja sama dengan Thailand merupakan salah satu pilar pentingnya.



