PM Thailand Peringatkan ASEAN di Persimpangan Jalan: Pilihan Hari Ini Tentukan Relevansi Kawasan
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan perdana Anutin Charnvirakul ke Sekretariat ASEAN di Jakarta menegaskan urgensi solidaritas kawasan di tengah rivalitas global.
- Integrasi ekonomi, penguatan institusi, dan kemitraan luas disebut sebagai kunci menjaga daya tawar ASEAN menghadapi tekanan eksternal.
- Lawatan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mempercepat agenda konektivitas dan stabilitas rantai pasok regional.

Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menegaskan bahwa ASEAN tengah berada pada titik krusial yang akan menentukan apakah blok regional ini mampu tetap relevan sebagai kekuatan yang dipercaya di tengah gejolak global. Pernyataan itu disampaikan dalam pidatonya di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Selasa (4/8/2026), pada kunjungan kerja perdananya ke Indonesia sejak menjabat pada September 2025.
Anutin menggarisbawahi bahwa lanskap dunia saat ini jauh berbeda dari era 1967 ketika ASEAN didirikan. Jika dulu kawasan diwarnai konflik dan ketidakpercayaan, kini tantangan justru datang dari persaingan strategis antarnegara besar yang berdampak langsung pada perdagangan, investasi, hingga rantai pasok global. Ia menyebut konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan energi, sementara perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang ekonomi sekaligus celah bagi kejahatan lintas batas.
Menurut Anutin, kompleksitas ini menuntut respons kolektif, bukan solusi parsial. "Semua ini merupakan tantangan regional yang membutuhkan jawaban regional," ujarnya. Ia menekankan bahwa ASEAN harus memperkuat fondasi internal agar tidak mudah terombang-ambing oleh tekanan eksternal, sekaligus menjaga fleksibilitas dalam menjalin kemitraan dengan berbagai pihak.
Bagi Indonesia, pernyataan ini datang di saat yang tepat. Sebagai anggota terbesar ASEAN, Jakarta memiliki kepentingan langsung dalam menjaga stabilitas kawasan, terutama terkait arus investasi dan keamanan maritim. Kunjungan Anutin juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan bilateral, mengingat ini merupakan kunjungan perdana menteri Thailand ke Indonesia dalam 15 tahun terakhir. Sebelum ke Sekretariat ASEAN, Anutin telah menghadiri forum bisnis Thailand-Indonesia, menandakan adanya dorongan untuk memperkuat kerja sama ekonomi.
Anutin menegaskan bahwa respons ASEAN harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Ia menilai integrasi yang lebih dalam, institusi yang lebih kuat, dan kemitraan yang lebih luas menjadi prasyarat untuk menjaga kredibilitas blok ini. "Hal itu berarti memperdalam integrasi, memperkuat institusi, dan memperluas kemitraan," tambahnya. Pernyataan ini sejalan dengan kekhawatiran banyak pengamat bahwa ASEAN sering kali lamban dalam mengambil keputusan kolektif di tengah perbedaan kepentingan anggotanya.
Kunjungan Anutin juga menjadi simbol pentingnya diplomasi tatap muka di kawasan. Setelah jeda panjang, kehadiran langsung seorang pemimpin negara anggota di Sekretariat ASEAN diharapkan dapat menghidupkan kembali semangat konsultasi dan musyawarah yang menjadi ciri khas organisasi ini. Bagi Indonesia, ini adalah peluang untuk menunjukkan peran sebagai penyeimbang dan fasilitator dialog di kawasan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah ASEAN mampu menerjemahkan retorika ini menjadi aksi nyata. Dengan rivalitas AS-China yang semakin tajam dan dampak ekonomi yang terasa di semua negara anggota, tekanan untuk bersikap pragmatis akan terus meningkat. Apakah Jakarta dan Bangkok dapat menjadi motor penggerak integrasi yang lebih konkret, atau justru terjebak dalam dinamika politik internal masing-masing? Jawabannya akan menentukan apakah ASEAN tetap menjadi pemain kunci atau sekadar penonton di panggung global.



