Hampir 60% Penerima Tawas di Selangor Belum Klaim Dana RM1.500: Apa Kendalanya?
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 12.626 dari 21.268 anggota Tawas yang berusia 18 tahun pada 2026 belum mengajukan klaim dana tabungan RM1.500, menurut data resmi Selangor.
- Kesulitan melacak penerima karena banyak yang pindah domisili atau mengganti nomor telepon menjadi tantangan utama penyaluran manfaat.
- Pemerintah Selangor berencana melibatkan aparatur desa dan dewan kota untuk mempercepat proses klaim, sementara skema pengganti Anas menawarkan potensi manfaat serupa.

Sebanyak 59,4 persen anggota Tabung Warisan Anak Selangor (Tawas) yang kini berusia 18 tahun belum juga mencairkan dana tabungan senilai RM1.500 yang dijanjikan pemerintah negara bagian. Dari total 21.268 penerima yang memenuhi syarat pada tahun ini, baru 8.642 orang atau 40,6 persen yang mengajukan klaim, sementara 12.626 lainnya masih belum mengambil haknya.
Ini adalah tahun pertama Tawas, skema tabungan anak yang diluncurkan Selangor, memasuki tahap pencairan dana. Namun, antusiasme awal justru diiringi persoalan administratif yang tidak sederhana. Menteri Besar Selangor, Datuk Seri Amirudin Shari, mengakui bahwa pemerintah kesulitan menghubungi para penerima karena banyak di antara mereka yang telah pindah ke luar negeri atau ke negara bagian lain, sekaligus berganti nomor telepon.
"Kami memiliki nomor kontak, tetapi informasinya sudah tidak lagi mutakhir," ujarnya saat menjawab pertanyaan Datuk Dr Ahmad Yunus Hairi dari Perikatan Nasional di sidang Dewan Negeri Selangor, Selasa (4/8). Pernyataan ini menggarisbawahi tantangan klasik dalam penyaluran bantuan sosial: data yang cepat usang di tengah mobilitas penduduk yang tinggi.
Untuk mengatasi kebuntuan ini, Amirudin mengatakan pemerintah akan memperketat upaya pelacakan dengan menggandeng ketua kampung dan anggota dewan kota setempat. Langkah ini dinilai penting mengingat dana yang mengendap bukan hanya soal administrasi, tetapi juga menyangkut masa depan pendidikan anak-anak yang berhak menerimanya.
- 21.268 anggota Tawas berusia 18 tahun pada 2026; baru 8.642 (40,6%) yang klaim.
- 12.626 penerima belum mencairkan dana RM1.500.
- Skema pengganti Tawas, Anas, memberikan kontribusi tahunan RM100 selama 5 tahun (total RM500) plus insentif SSPN.
- Dana Anas disimpan di rekening Simpan SSPN dan baru bisa dicairkan saat anak berusia 18 tahun.
Di sisi lain, anggota dewan Ahmad Yunus juga menyoroti kelompok anak yang tidak tercakup dalam Tawas karena program ini ditutup untuk pendaftaran baru pada 2018. Sebagai gantinya, pemerintah Selangor memperkenalkan Iltizam Anak Selangor (Anas) pada 2022. Anas memberikan kontribusi tahunan RM100 selama lima tahun bagi anak yang lahir di Selangor mulai 2022, dengan total RM500. Dana tersebut didepositokan ke rekening Skim Simpanan Pendidikan Nasional (Simpan SSPN) dan hanya bisa ditarik ketika anak mencapai usia 18 tahun.
Menjawab pertanyaan lanjutan tentang nominal yang akan diterima peserta Anas, Amirudin memperkirakan mereka bisa mendapatkan sekitar RM1.500 saat berusia 18 tahun. Jumlah itu merupakan akumulasi dari kontribusi negara bagian sebesar RM500 ditambah insentif yang tersedia melalui program Simpan SSPN. Dengan demikian, meskipun skema berbeda, manfaat akhir yang diterima peserta Anas hampir setara dengan Tawas.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi cermin penting dalam pengelolaan program tabungan pendidikan berbasis negara. Tingginya angka klaim yang belum diambil menunjukkan bahwa sosialisasi dan pemutakhiran data penerima merupakan kunci keberhasilan. Jika tidak dikelola dengan baik, dana yang seharusnya menjadi modal pendidikan bisa mengendap tanpa manfaat, persis seperti yang terjadi pada sebagian penerima Tawas.
Ke depan, pemerintah Selangor perlu memastikan tidak ada penerima yang terlewat, terutama mereka yang berada di luar negeri. Pertanyaannya, akankah kolaborasi dengan aparatur desa cukup efektif untuk menjangkau mereka yang telah berpindah domisili? Atau justru perlu pendekatan digital yang lebih masif, seperti integrasi data kependudukan dengan layanan perbankan? Jawabannya akan menentukan apakah program tabungan pendidikan ini benar-benar mencapai tujuannya atau hanya menjadi janji yang menggantung.



