Menjelang HUT Ke-81 RI, Anggota DPR Ajak Warga Kibarkan Merah Putih: Simbol Syukur dan Ketahanan Bangsa
Baca dalam 60 detik
- Anggota Komisi XIII DPR Maruli Siahaan mengimbau masyarakat memasang bendera merah putih sepanjang Agustus 2026 untuk memperingati kemerdekaan ke-81.
- Seruan ini dinilai sebagai upaya memperkuat persatuan nasional di tengah keberagaman, sekaligus menanamkan nilai Pancasila kepada generasi muda.
- Pemerintah menyiapkan Pesta Rakyat di Monas pada 17 Agustus 2026 dengan tema 'Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur' sebagai puncak perayaan.

Menjelang peringatan kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, Anggota Komisi XIII DPR RI Maruli Siahaan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengibarkan Bendera Merah Putih di lingkungan masing-masing sepanjang Agustus 2026. Ajakan ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud syukur atas kemerdekaan sekaligus penghormatan terhadap jasa para pahlawan yang telah mengantarkan bangsa ini terbebas dari belenggu kolonialisme.
Maruli menyampaikan imbauan tersebut di Medan, Jumat (7/8/2026), menekankan bahwa pemasangan bendera di permukiman, perkantoran, sekolah, dan ruang publik lainnya menjadi simbol nyata kebersamaan. "Kami meminta kepada seluruh masyarakat agar memasang Bendera Merah Putih di lingkungan permukiman pada Agustus 2026," ujarnya. Lebih dari itu, ia menilai momentum ini relevan untuk merefleksikan perjalanan bangsa yang telah melewati delapan dekade lebih, dengan segala dinamika sosial, politik, dan ekonomi yang menyertainya.
Menurut politisi tersebut, usia kemerdekaan yang hampir satu abad ini membuktikan bahwa Indonesia mampu bertahan sebagai satu kesatuan meski dihuni oleh beragam suku, ras, dan agama. "Kemerdekaan yang sudah berusia 81 tahun itu membuktikan seluruh masyarakat berbagai suku, ras, dan agama tidak terpecah-pecah dan semakin kuat," tegasnya. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran akan menguatnya politik identitas dan polarisasi sosial yang kerap menguji kohesi kebangsaan.
Di sisi lain, Maruli menggarisbawahi pentingnya pengamalan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi ketahanan nasional, terutama bagi generasi muda. Ia berharap generasi penerus tidak hanya menghafal sila-sila Pancasila, tetapi benar-benar menghayati dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. "Kami terus menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi penting dalam membangun ketahanan nasional," katanya. Ini menjadi krusial mengingat survei menunjukkan penurunan pemahaman ideologi di kalangan pelajar dan mahasiswa.
Pemerintah sendiri telah menyiapkan rangkaian acara untuk memeriahkan HUT Ke-81 RI, salah satunya Pesta Rakyat di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada 17 Agustus 2026. Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro mengungkapkan bahwa acara tersebut akan berlangsung sepanjang hari, mulai pagi hingga malam, dengan berbagai hiburan, perlombaan rakyat, dan pembagian makanan gratis. Tema yang diusung tahun ini, "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur", dinilai mencerminkan arah pembangunan nasional yang menekankan kemandirian, pemerataan, dan kesejahteraan.
Bagi masyarakat Indonesia, ajakan ini memiliki makna ganda. Di satu sisi, ini adalah momen untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap bangsa di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang kerap melupakan sejarah. Di sisi lain, pengibaran bendera juga menjadi simbol perlawanan terhadap upaya-upaya yang ingin memecah belah persatuan, baik dari dalam maupun luar negeri. Dalam konteks geopolitik regional yang semakin kompetitif, solidaritas kebangsaan menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tekanan ekonomi global hingga ancaman keamanan siber.
Para pengamat menilai bahwa seruan seperti ini perlu diikuti dengan aksi nyata, bukan hanya seremoni tahunan. Misalnya, pemerintah daerah dapat memfasilitasi pembagian bendera gratis kepada warga kurang mampu, atau sekolah-sekolah mengadakan lomba kreativitas bertema kemerdekaan. Tanpa dukungan infrastruktur dan partisipasi aktif, semangat nasionalisme bisa meredup segera setelah bulan Agustus berakhir.
Menjelang puncak perayaan, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah semangat kebangsaan ini hanya akan hidup sebulan sekali, atau mampu bertransformasi menjadi gerakan kolektif yang memperkuat daya saing bangsa? Jawabannya bergantung pada kesediaan setiap elemen masyarakat untuk tidak hanya mengibarkan bendera, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemerdekaan dalam tindakan sehari-hari.



