UN Desak Israel Hentikan Penghancuran di Lebanon Selatan: Ancaman Nyata bagi Warisan Dunia
Baca dalam 60 detik
- Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam aksi demolisi Israel di Lebanon selatan yang dinilai menghancurkan infrastruktur sipil dan situs warisan budaya.
- Ledakan besar di dekat Kastil Beaufort yang masuk daftar warisan dunia UNESCO memicu kecaman keras dari Presiden Lebanon dan mengancam proses perdamaian.
- Insiden ini terjadi menjelang putaran negosiasi baru di Roma, meningkatkan ketegangan dan merusak upaya stabilisasi kawasan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Sabtu (1/8) menyuarakan keprihatinan mendalam atas aksi pembongkaran dan ledakan yang terus dilakukan militer Israel di Lebanon selatan, meskipun gencatan senjata dengan Hizbullah telah disepakati. Kantor Koordinator Khusus PBB untuk Lebanon menyebut skala ledakan dan penghancuran tersebut "sangat memprihatinkan" karena berdampak buruk pada infrastruktur sipil, warisan budaya, dan memori kolektif masyarakat setempat.
Pernyataan ini muncul sehari setelah militer Israel melakukan serangkaian ledakan besar pada malam hari di dekat Kastil Beaufort, sebuah situs bersejarah yang baru saja masuk dalam Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya UNESCO. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz mengklaim aksi tersebut menghancurkan "terowongan teror" di kawasan Beaufort dengan menggunakan sekitar 700 ton bahan peledak. Namun, Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam keras tindakan itu sebagai "eskalasi yang sangat berbahaya" dan "ancaman langsung terhadap proses perdamaian" yang tengah berjalan.
Ledakan ini terjadi di tengah upaya negosiasi yang difasilitasi Amerika Serikat bulan lalu, yang menghasilkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Berdasarkan kesepakatan tersebut, tentara Lebanon diwajibkan melucuti senjata Hizbullah, sementara militer Israel harus menarik diri dari "zona percontohan" yang kemudian akan dijaga oleh pasukan Lebanon. Aoun menilai waktu peledakan yang berdekatan dengan putaran perundingan berikutnya di Roma pekan depan "mengirim pesan negatif dan melemahkan upaya internasional untuk mengonsolidasikan stabilitas".
Badan Berita Nasional Lebanon melaporkan sejumlah ledakan lain di berbagai wilayah selatan sejak insiden tersebut, beberapa di antaranya terdengar hingga ke area yang luas. Selain itu, setidaknya satu serangan udara Israel pada Sabtu melukai dua orang. PBB menegaskan bahwa "pola penghancuran yang meningkat ini harus dihentikan, karena jalur diplomatik masih tersedia untuk menyelesaikan masalah yang belum tuntas". Sementara itu, militer Israel mengklaim telah menewaskan sejumlah pejuang Hizbullah di dalam apa yang mereka sebut sebagai "zona keamanan" di Lebanon, dan seorang tentara Israel mengalami luka sedang dalam insiden terpisah.
Kepala Staf Angkatan Darat Lebanon, Jenderal Rodolphe Haykal, dalam pidatonya memperingati Hari Tentara Lebanon, menegaskan penolakan terhadap pendudukan Israel di wilayah Lebanon. "Kami menolak kelanjutan pendudukan Israel di bagian mana pun dari wilayah kami," ujarnya. Konflik ini berawal ketika Hizbullah yang didukung Iran melancarkan serangan ke Israel pada 2 Maret, memicu respons militer besar-besaran dari Israel yang menurut otoritas Lebanon telah menewaskan lebih dari 4.300 orang.
Bagi Indonesia, konflik ini menyoroti pentingnya perlindungan warisan budaya di zona konflik, sejalan dengan komitmen Indonesia dalam misi perdamaian PBB. Selain itu, situasi ini mengingatkan bahwa stabilitas Timur Tengah berdampak langsung pada harga minyak dan pasar keuangan global, yang turut memengaruhi ekonomi Indonesia. Dengan negosiasi yang akan datang, pertanyaannya adalah: akankah Israel mematuhi tekanan internasional, atau justru semakin memperdalam krisis kemanusiaan dan budaya di Lebanon?



