Dukungan Afrika Mengalir untuk Infantino di Tengah Krisis Kepemimpinan FIFA
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah petinggi sepak bola Afrika menyatakan dukungan terbuka untuk Gianni Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA Maret mendatang.
- Langkah mundur Infantino dari rencana penjualan hak komersial Piala Dunia senilai $4,2 miliar dinilai sebagai upaya meredam konflik dengan asosiasi anggota.
- Ketergantungan finansial asosiasi Afrika pada dana FIFA menjadi kunci utama solidaritas kawasan terhadap kepemimpinan Infantino.

Menjelang pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung Maret tahun depan, dukungan dari benua Afrika menjadi tameng politik yang signifikan bagi Gianni Infantino. Lima tokoh kunci sepak bola Afrika secara terang-terangan menyatakan dukungan mereka kepada presiden FIFA yang tengah tertekan, sekaligus menyambut baik keputusan Infantino membatalkan rencana kontroversial untuk menjual sebagian hak pendapatan Piala Dunia.
Langkah mundur tersebut diambil setelah mendapat tekanan intensif dari berbagai pihak, termasuk asosiasi sepak bola Eropa, Asia, dan CONCACAF yang sebelumnya menyatakan hilangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino. Namun, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) justru menunjukkan sikap berbeda. Dalam pertemuan komite eksekutif yang dijadwalkan berlangsung Kamis (4/8), CAF masih akan membahas rencana yang telah ditinggalkan itu, meskipun belum ada kepastian apakah mereka akan secara resmi mengambil posisi terkait masa depan Infantino.
Dukungan tersebut datang dari sejumlah tokoh berpengaruh, antara lain Wakil Presiden CAF asal Maroko, Fouzi Lekjaa, serta anggota Dewan FIFA dari Mesir, Niger, dan Mauritania. Veron Mosengo-Omba, presiden federasi sepak bola Republik Demokratik Kongo yang baru terpilih, juga ikut menyatakan dukungan. Menariknya, Mosengo-Omba merupakan mantan sekretaris jenderal CAF yang pernah menempuh pendidikan di Swiss bersama Infantino. Pernyataan mereka dirilis dengan nada yang hampir seragam: menyambut keputusan Infantino membatalkan proyek tersebut, kemudian memuji kepemimpinannya.
Dukungan Afrika ini bukan tanpa alasan. Sejak terpilih pada 2016, Infantino berjanji melipatgandakan dana pembangunan untuk asosiasi anggota FIFA. Janji itu terbukti menjadi magnet kuat bagi negara-negara Afrika yang secara finansial kesulitan untuk bersaing di pentas internasional. Presiden Federasi Sepak Bola Komoro, Saรฏd Ali Athouman, menggambarkan dilema yang dihadapi banyak negara Afrika: "Masalah kami adalah bagaimana mendapatkan uang. Saat ini, kami tidak punya sponsor. Jadi bagaimana kami bisa bersaing? Negara-negara terkaya bisa melatih pemain, punya infrastruktur dan peralatan, dan bukan kebetulan mereka kemudian meraih hasil. Kebanyakan negara Eropa tidak punya masalah seperti ini."
Senada dengan itu, Presiden Asosiasi Sepak Bola Malawi, Fleetwood Haiya, menegaskan bahwa pemerintahnya tidak mampu memenuhi kebutuhan medis rumah sakit sekaligus membiayai sepak bola. "Malawi butuh uang. Malawi butuh stadion," ujarnya. Pernyataan-pernyataan ini mencerminkan ketergantungan mendalam asosiasi Afrika pada dana FIFA. FIFA menjamin dana dasar sebesar $8 juta untuk setiap asosiasi anggota dalam siklus empat tahun, ditambah hibah tahunan dari CAF. Skema ini, yang pertama kali digagas oleh pendahulu Infantino, Sepp Blatter, pada 1998, telah menjadi instrumen politik yang efektif untuk mengamankan dukungan dari benua Afrika.
Presiden CAF, Patrice Motsepe, yang sebelumnya dikenal dekat dengan Infantino, juga memberikan pujian yang tidak biasa. "Saya secara pribadi mendukung Gianni Infantino. Dia bukan hanya teman baik. Dia teman yang setia. Dia setia pada Afrika. Saya berasal dari latar belakang di mana ketika orang setia kepada Anda, Anda tidak pernah menusuk dari belakang," ujarnya beberapa hari sebelum skandal penjualan hak siar Piala Dunia mencuat.
Bagi Indonesia, dinamika politik FIFA ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia kerap menjadi sorotan dalam berbagai agenda FIFA, termasuk potensi menjadi tuan rumah turnamen internasional. Ketergantungan finansial pada FIFA juga dialami oleh PSSI, yang dalam beberapa tahun terakhir mengandalkan dana hibah untuk pengembangan sepak bola nasional. Keputusan FIFA terkait alokasi dana dan kebijakan komersial akan berdampak langsung pada program-program pembinaan usia muda dan infrastruktur di tanah air.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah dukungan Afrika ini cukup untuk mengamankan posisi Infantino dalam pemilihan presiden FIFA. Dengan 54 suara dari Afrika, blok ini menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di FIFA. Namun, tekanan dari Eropa dan kawasan lain yang menuntut transparansi dan tata kelola yang lebih baik tidak bisa diabaikan. Apakah Infantino akan mampu mempertahankan koalisi Afrika-nya, atau justru gelombang perubahan akan semakin kuat? Jawabannya akan menentukan arah sepak bola global dalam beberapa tahun ke depan.



