Krisis FIFA: Selandia Baru Desak Oseania Bersatu, Soroti Tata Kelola yang Goyah
Baca dalam 60 detik
- Batalnya proposal investasi swasta senilai US$4,2 miliar memicu krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA.
- Kepala Federasi Sepak Bola Selandia Baru, Andrew Pragnell, mengkritik proses pengambilan keputusan FIFA yang dinilai tidak transparan dan merugikan nilai jangka panjang sepak bola global.
- Sikap Oseania yang belum bulat menjadi penentu arah politik FIFA, dengan potensi dampak signifikan bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Kepala Federasi Sepak Bola Selandia Baru (NZF), Andrew Pragnell, menegaskan bahwa kegagalan FIFA dalam menggalang dana melalui skema private equity telah mengguncang kepercayaan terhadap tata kelola sepak bola dunia. Ia mendesak negara-negara anggota Konfederasi Sepak Bola Oseania (OFC) untuk bersatu menyikapi masa depan kepemimpinan Gianni Infantino, yang kini berada di ujung tanduk setelah sejumlah federasi Eropa menarik dukungan.
Proposal senilai US$4,2 miliar yang dirancang untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia itu resmi dibatalkan setelah memicu perpecahan di internal FIFA. Infantino sendiri telah menyampaikan permintaan maaf atas cara proposal tersebut dikelola, namun tekanan politik semakin nyata. UEFA dan CONCACAF, dua konfederasi besar, telah menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino, membuka peluang munculnya mosi tidak percaya dalam Kongres Luar Biasa yang melibatkan 211 asosiasi anggota.
Pragnell, yang akan mengakhiri masa jabatannya tahun depan, mengakui bahwa Selandia Baru telah menuai manfaat besar dari program-program FIFA di bawah Infantino. Namun, ia menilai cara FIFA menangani proposal investasi tersebut telah mencederai prinsip tata kelola yang baik. "Yang kita lihat dari FIFA adalah pertumbuhan komersial yang luar biasa dan redistribusi kekayaan yang lebih merata, tetapi cara proposal itu disusun dan dikomunikasikan telah meninggalkan bayang-bayang besar," ujarnya kepada Reuters.
Pertanyaan mendasar yang diajukan Pragnell adalah mengapa FIFA, dengan kondisi keuangan yang kuat, perlu mencari dana dari investor swasta. Ia menyoroti isu valuasi yang tidak transparan dan berpotensi menjual aset sepak bola global di bawah harga wajar. "Jika nilai kompetisi diproyeksikan terus naik, maka menjualnya sekarang sama saja dengan melepas masa depan dengan harga murah," tegasnya. Kritik ini menjadi preseden penting bagi federasi-federasi kecil yang kerap bergantung pada dana FIFA.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi strategis. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di Asia Tenggara, Indonesia kerap menjadi sasaran program pengembangan FIFA. Namun, ketidakstabilan politik di puncak FIFA dapat memengaruhi alokasi dana dan prioritas proyek di kawasan Asia. Pengamat sepak bola menilai bahwa sikap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, akan menjadi penentu dalam setiap voting di Kongres FIFA. Jika Oseania dan Asia bersatu, mereka bisa menjadi kekuatan penyeimbang terhadap dominasi Eropa dan Amerika Selatan.
Pragnell sendiri menyadari bahwa persatuan di kawasan Oseania tidak mudah dicapai. "Kekuatan ada pada kebersamaan, tetapi setiap asosiasi memiliki independensi," katanya. Ia mencontohkan bagaimana dalam beberapa pekan terakhir, anggota konfederasi tertentu mengambil sikap berbeda dari rekan-rekannya. Meski demikian, ia berharap OFC dapat berbicara dengan satu suara dalam isu kepemimpinan ini.
Langkah selanjutnya akan menentukan arah sepak bola global. Apakah Infantino mampu mempertahankan kursi presiden untuk periode keempat, atau justru muncul kandidat baru yang membawa agenda reformasi? Bagi federasi-federasi di Asia dan Oseania, momen ini adalah peluang untuk menuntut transparansi dan pemerataan yang lebih nyata. Pertanyaannya, akankah mereka berani mengambil sikap tegas atau kembali terjebak dalam pragmatisme politik?



