Buffon: Keputusan FIGC soal Conte dan Guardiola Pertaruhkan Kredibilitas Sepak Bola Italia
Baca dalam 60 detik
- Legenda kiper Italia, Gianluigi Buffon, mengkritik kebijakan FIGC yang mengabaikan Antonio Conte sebagai kandidat pelatih, sementara tampak berani mengejar Pep Guardiola.
- Kekacauan di federasi, termasuk mundurnya Paolo Maldini dan Leonardo, memunculkan pertanyaan tentang arah strategis timnas Italia.
- Buffon juga merekomendasikan Guglielmo Vicario sebagai kiper masa depan Juventus, menyoroti pengalamannya di Premier League dan level internasional.

Gianluigi Buffon, ikon sepak bola Italia, angkat bicara mengenai hiruk-pikuk yang melanda federasi sepak bola Italia (FIGC) dalam beberapa pekan terakhir. Dalam wawancara dengan Sky Sport, pria yang pernah menjadi kepala delegasi timnas ini menyiratkan kekecewaan halus terhadap proses seleksi pelatih yang dinilainya tidak konsisten, terutama ketika membandingkan perlakuan terhadap Antonio Conte dan Pep Guardiola.
Kekacauan dimulai ketika Paolo Maldini dan Leonardo, dua sosok yang ditunjuk untuk merombak federasi, justru hengkang secara mendadak. Keduanya sempat mencoba membujuk Buffon untuk membatalkan keputusan mundur dari perannya. "Mereka membuat saya berada dalam posisi sulit atas keputusan resmi yang sudah saya ambil," ujar Buffon, "tetapi saya ingin tetap teguh pada apa yang saya rasakan dan butuhkan." Meski demikian, ia berterima kasih atas kehangatan yang diberikan, termasuk dari presiden FIGC, Giovanni Malagรฒ.
Ketika disinggung apakah Italia telah menyia-nyiakan peluang besar di tengah penolakan Guardiola, kisruh Andrea Pirlo, dan keluarnya Maldini-Leonardo, Buffon memilih bersikap hati-hati. "Saya tidak tahu apakah ada peluang yang hilangโitu tergantung pada tujuannya, jadi tidak akan ada yang pernah tahu," katanya. Ia menegaskan bahwa kualitas moral Maldini dan Leonardo tidak perlu diragukan, tetapi ia juga menekankan bahwa pelatih seperti Claudio Ranieri dan Roberto Mancini memiliki kapasitas yang setara.
Namun, kritik paling tajam Buffon tertuju pada alasan mengapa Antonio Conte tidak pernah dipertimbangkan serius. "Saya tidak bertanya-tanya mengapa ia tidak dipertimbangkan; tampaknya, bagi mereka yang membuat keputusan, Conte bukanlah rencana A," ujarnya. Ia juga menyoroti inkonsistensi dalam pengelolaan anggaran: "Ada masalah anggaran, tetapi untuk Guardiola tampaknya mereka bisa melangkah lebih jauh. Evaluasi harus dibuat berdasarkan sumber daya yang tersedia." Pernyataan ini menggarisbawahi keganjilan dalam pengambilan keputusan FIGC yang dinilai kurang transparan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika ini menarik karena Indonesia sendiri tengah giat membenahi federasi sepak bolanya. Kasus FIGC menjadi pelajaran bahwa stabilitas organisasi dan kejelasan arah sangat menentukan performa timnas. Ketika federasi dilanda gejolak internal, para pemain dan pelatih kehilangan fokus, yang pada akhirnya berdampak pada hasil di lapangan. Indonesia, yang sedang dalam proses naturalisasi pemain dan pembinaan usia muda, perlu memastikan bahwa keputusan strategis tidak didasari kepentingan jangka pendek atau tekanan eksternal.
Selain membahas timnas, Buffon juga memberi masukan untuk Juventus yang tengah mencari kiper baru. Ia dengan tegas merekomendasikan Guglielmo Vicario, yang pernah menjadi bagian dari tim nasional Italia selama tiga hingga empat tahun. "Dia memenangkan Liga Europa bersama Tottenham dan memiliki pengalaman penting di Premier League. Dia memberikan jaminan yang luas," puji Buffon. Sementara itu, mengenai Zion Suzuki, kiper muda yang juga dikaitkan dengan Juventus, Buffon enggan berkomentar banyak: "Ada perbedaan usia, dan perbedaan lain yang saya tahu tetapi tidak pantas untuk diungkapkan ke publik."
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah FIGC mampu keluar dari pusaran konflik dan kembali membangun fondasi yang kokoh. Dengan kualifikasi Piala Dunia 2026 yang semakin dekat, Italia tidak punya banyak waktu untuk berbenah. Apakah keputusan kontroversial ini akan menghantui mereka, atau justru menjadi cambuk untuk bangkit? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: stabilitas di dalam federasi adalah prasyarat mutlak untuk meraih kesuksesan di pentas internasional.



