Pramono Anung Incar Jakarta Masuk 50 Besar Global Cities Index 2030, Andalkan Reformasi Perizinan
Baca dalam 60 detik
- Pemprov DKI menargetkan Jakarta menembus jajaran 50 besar Global Cities Index pada 2030 dengan mempercepat perizinan KLB dan SLF menjadi maksimal 15 hari kerja.
- Realisasi investasi di Jakarta melonjak dari Rp103 triliun (2021) menjadi Rp270 triliun (2025), dan sudah mencapai Rp173 triliun hingga kuartal II 2026.
- Apindo menekankan perlunya ekosistem investasi yang lebih terprediksi, kompetitif, dan produktif, termasuk reformasi perpajakan dan penurunan biaya energi.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan Jakarta masuk dalam jajaran 50 besar Global Cities Index pada 2030. Target ambisius itu dicanangkan sebagai bagian dari transformasi Jakarta menuju kota global, hijau, dan tangguh, dengan fondasi utama berupa penguatan kepercayaan publik dan kepastian iklim investasi.
Dalam acara Jakarta Investment Awards (JIA) 2026 bertema "Investing in a Global, Green, and Resilient Jakarta" di Hotel The Westin Jakarta, Senin (14/9/2026), Pramono menegaskan bahwa perbaikan birokrasi menjadi kunci. Salah satu langkah konkret adalah pemangkasan waktu pengurusan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) yang kini hanya membutuhkan maksimal 15 hari kerja. "Dengan menyongsong 500 tahun ini, mari kita buat Jakarta menjadi kota yang lebih baik, lebih aman, lebih nyaman, dan sekaligus membangun kepercayaan dunia untuk mereka datang berinvestasi di Jakarta," ujarnya.
Perbaikan perizinan tersebut diklaim telah mendorong peningkatan pembangunan di Jakarta tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pramono menyebut pembiayaan proyek-proyek strategis, termasuk penataan Taman Semanggi, berasal dari strategic partner berkat kepercayaan yang terbangun. "Sama sekali tidak menggunakan dana APBD. Dari mana? Strategic partner. Kenapa bisa? Kepercayaan yang dibangun, trust," kata dia.
Data Pemprov DKI menunjukkan realisasi investasi di Jakarta melesat dari sekitar Rp103 triliun pada 2021 menjadi Rp270 triliun pada 2025. Tren positif berlanjut hingga kuartal II 2026 yang telah mencapai Rp173 triliun. Investasi di Jakarta kini berkontribusi sekitar 17,2% terhadap investasi nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 5,52%.
Pramono juga menyoroti dampak kepercayaan publik terhadap sektor pariwisata dan penyelenggaraan event internasional. Ia mencontohkan konser BTS yang digelar tiga hari pada 26, 27, dan 29 Desember, serta penampilan The Weeknd di Jakarta International Stadium (JIS) dua minggu mendatang. "Untuk mengukur kepercayaan publik itu sederhana. Enggak mungkin yang namanya BTS tanggal 26, 27, 29 Desember main tiga hari, kalau Jakarta enggak aman, nyaman, enggak mungkin," ucapnya.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, mengapresiasi penyelenggaraan JIA 2026 sebagai bentuk penghargaan bagi pelaku usaha yang berkontribusi pada pembangunan Jakarta. Menurutnya, investasi berkualitas adalah modal yang terus menggandakan nilai, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, menghidupkan pemasok lokal, serta membawa teknologi dan inovasi. "Investasi yang berkualitas adalah capital yang compounds. Modal yang terus menggandakan nilai, yang menciptakan pekerjaan, yang meningkatkan produktivitas, menghidupkan pemasok lokal, membawa teknologi dan inovasi, dan pada akhirnya membuat sebuah kota semakin kuat menghadapi perubahan," jelasnya.
Shinta menambahkan bahwa Jakarta memiliki posisi unik sebagai tempat bertemunya capital, technology, talent, finance, dan ideas. Namun, ia menekankan perlunya penyederhanaan perizinan, kepastian hukum, reformasi perpajakan, dan penurunan biaya energi agar ekosistem investasi lebih terprediksi, kompetitif, dan produktif. "Ini bukan berarti dunia usaha kehilangan appetite untuk berinvestasi. Kami sedang menanti ekosistem yang membuat investasi lebih predictable, more competitive, and more productive," katanya.
"Kami percaya Jakarta tidak perlu memilih antara global, green, atau resilient. Jakarta harus menjadi ketiganya at the same time." โ Shinta Kamdani, Ketua Umum Apindo
Bagi pembaca di Indonesia, khususnya investor dan profesional, langkah Pemprov DKI ini menandakan arah kebijakan yang semakin pro-investasi. Perbaikan perizinan dan kepastian hukum dapat menjadi sinyal positif bagi pelaku pasar modal dan dunia usaha. Namun, tantangan tetap ada: konsistensi implementasi di lapangan, koordinasi lintas instansi, serta stabilitas regulasi jangka panjang akan menentukan apakah target 50 besar Global Cities Index dapat tercapai. Jika berhasil, Jakarta tidak hanya menjadi magnet investasi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam peta ekonomi global.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah reformasi birokrasi ini akan berlanjut dan diperluas ke sektor lain, serta bagaimana pemerintah menjaga momentum kepercayaan publik yang sudah terbangun. Tanpa perbaikan struktural yang berkelanjutan, target kota global hanya akan menjadi retorika.



