Pelatih Cape Verde Bubista Pindah ke Klub Maroko, RS Berkane
Baca dalam 60 detik
- Arsitek debut Piala Dunia Cape Verde, Bubista, resmi menukangi RS Berkane, klub juara Liga Maroko 2025.
- Kepindahan ini mengakhiri spekulasi tentang kemungkinan Bubista merangkap dua posisi sekaligus.
- Langkah ini menandai babak baru bagi karier pelatih berusia 56 tahun yang baru saja dinobatkan sebagai Pelatih Afrika Terbaik 2025.

Bubista, pelatih yang membawa Cape Verde lolos ke babak 32 besar Piala Dunia untuk pertama kalinya, resmi ditunjuk sebagai pelatih Renaissance Berkane (RS Berkane), klub asal Maroko. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh klub pada Selasa (4/8) waktu setempat, menandai babak baru dalam karier pelatih berusia 56 tahun tersebut.
Keputusan ini diambil setelah negosiasi panjang yang sempat membuka peluang bagi Bubista untuk tetap memimpin tim nasional Cape Verde sambil menangani RS Berkane. Namun, menurut laporan media, Bubista diperkirakan akan melepas jabatannya sebagai pelatih Cape Verde dalam beberapa hari ke depan. Hal ini mengakhiri spekulasi tentang kemungkinan peran ganda yang sebelumnya mengemuka.
RS Berkane sendiri bukanlah klub sembarangan. Mereka berhasil merebut gelar juara Liga Maroko pada 2025 dan menjadi runner-up pada musim ini. Selain itu, klub yang bermarkas di kota Berkane ini juga menembus semifinal Liga Champions Afrika musim lalu dan akan kembali berpartisipasi dalam kompetisi antarklub tertinggi di Benua Afrika tersebut pada musim baru. Dengan demikian, Bubista akan langsung dihadapkan pada tantangan besar di level kompetisi tertinggi Afrika.
Bubista, yang memiliki nama asli Pedro Leitao Brito, baru saja dinobatkan sebagai Pelatih Afrika Terbaik 2025 setelah sukses membawa Cape Verde lolos ke Piala Dunia. Prestasi ini menjadi puncak karier yang luar biasa bagi pelatih asal Portugal tersebut. Di bawah arahannya, Cape Verde tampil mengejutkan dengan menahan imbang Spanyol dan Uruguay di fase grup Piala Dunia yang digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Meski akhirnya harus tersingkir setelah kalah dari Argentina di babak 32 besar, penampilan Cape Verde telah mengukir sejarah dan mengundang decak kagum banyak pihak.
Kepindahan Bubista ke RS Berkane tentu menjadi sorotan, tidak hanya di Afrika tetapi juga di kancah sepak bola internasional. Langkah ini juga berpotensi berdampak pada perkembangan sepak bola di kawasan Afrika Utara, yang semakin kompetitif dengan kehadiran pelatih-pelatih berkualitas. Bagi Indonesia, fenomena ini bisa menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah negara kecil mampu bersaing di level tertinggi dengan strategi yang matang dan pembinaan yang konsisten.
Keputusan Bubista untuk meninggalkan tim nasional demi klub tentu menjadi pertimbangan yang matang. Di usianya yang tidak lagi muda, peluang untuk menangani klub sekelas RS Berkane dengan ambisi besar di kompetisi Afrika merupakan tawaran yang sulit ditolak. Apalagi, RS Berkane dikenal sebagai klub yang ambisius dan memiliki dukungan finansial yang kuat. Namun, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Bubista mengulang kesuksesan yang ia raih bersama Cape Verde di level klub? Atau justru langkah ini akan menjadi tantangan terbesar dalam karier kepelatihannya? Hanya waktu yang bisa menjawab.


