Peta Jalan Kemitraan Strategis Indonesia-Thailand 2026–2030 Diteken: Ini Agenda Lima Tahun yang Disepakati
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo dan PM Thailand Anutin Charnvirakul menandatangani dokumen kerja sama bilateral yang menjadi panduan komprehensif hubungan kedua negara hingga 2030.
- Selain peta jalan, kedua pemerintah juga mengikat nota kesepahaman di sektor pendidikan serta sejumlah perjanjian bisnis, termasuk konektivitas penerbangan dan pengelolaan sampah.
- Kesepakatan ini berpotensi memperluas akses pasar dan investasi bagi pelaku usaha Indonesia di kawasan ASEAN, seiring target perdagangan yang terus dikejar.

Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul resmi mengesahkan Peta Jalan Kemitraan Strategis Indonesia-Thailand 2026–2030 dalam pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta, Senin. Dokumen ini menjadi tonggak baru hubungan kedua negara setelah status kemitraan strategis dinaikkan tahun lalu, sekaligus menjabarkan prioritas kerja sama selama lima tahun ke depan.
Pengesahan tersebut diumumkan dalam konferensi pers bersama, di mana Prabowo menekankan bahwa peta jalan ini merupakan panduan kolektif untuk memperdalam kolaborasi di berbagai sektor. "Pertemuan hari ini menghasilkan sejumlah capaian konkret, yaitu adopsi Peta Jalan Kemitraan Strategis Indonesia dan Thailand 2026–2030 sebagai panduan bersama untuk memperkuat kerja sama bilateral ke depan," ujarnya. Dokumen itu kemudian diperlihatkan oleh Menteri Luar Negeri Sugiono bersama Wakil PM sekaligus Menlu Thailand Sihasak Phuangketkeow di hadapan delegasi kedua negara.
Di luar kerangka besar tersebut, sejumlah perjanjian turut ditandatangani. Di bidang pendidikan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti dan Menteri Pendidikan Thailand Prasert Jantararuangtong membubuhkan tanda tangan pada nota kesepahaman yang dirancang untuk mendorong pertukaran pelajar, dosen, dan riset. Anutin menyebutkan bahwa lebih dari 800 mahasiswa Thailand saat ini menempuh pendidikan di Indonesia, menjadikan negeri ini tujuan favorit, terutama bagi pelajar dari provinsi perbatasan selatan Thailand. Angka itu dinilai akan terus bertumbuh seiring dengan penguatan kerja sama akademik.
Pada sisi bisnis, Prabowo menyambut baik sejumlah nota kesepahaman antarpelaku usaha, termasuk kolaborasi antara Badan Pariwisata Thailand dan maskapai TransNusa untuk meningkatkan konektivitas penerbangan serta promosi pariwisata. Ada pula kerja sama pengolahan sampah organik yang menyasar isu lingkungan. Langkah ini sejalan dengan dorongan pemerintah untuk menarik investasi hijau dan memperkuat posisi Indonesia sebagai hub ekonomi regional.
Bagi Indonesia, kesepakatan ini bukan sekadar seremoni diplomatik. Thailand merupakan salah satu mitra dagang terbesar di ASEAN, dan peta jalan tersebut memberikan kepastian regulasi serta arah investasi yang lebih jelas bagi pelaku usaha. Sektor-sektor seperti ekonomi digital, pariwisata, dan pendidikan tinggi berpotensi menjadi lokomotif baru kerja sama. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal implementasi di lapangan dan persaingan menarik investasi asing di kawasan.
Anutin menegaskan komitmennya untuk mewujudkan kerja sama yang saling menguntungkan. "Saya merasa bahagia dua belah pihak menyepakati Peta Jalan Kemitraan Strategis 2026–2030 yang akan menjadi pedoman kerja sama kita pada tahap selanjutnya, untuk menciptakan kesejahteraan dan kerja sama saling menguntungkan bagi rakyat di dua negara," katanya. Pernyataan itu mencerminkan optimisme kedua pemimpin, meski publik menunggu langkah konkret yang akan diambil dalam waktu dekat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana kedua pemerintah menerjemahkan dokumen ini menjadi program yang terukur dan berdampak langsung bagi masyarakat. Dengan target perdagangan yang ambisius, ujian sebenarnya adalah konsistensi politik dan koordinasi antarlembaga. Jika berhasil, kemitraan ini bisa menjadi model kolaborasi intra-ASEAN yang lebih solid di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks.



