Atlet Lempar Indonesia Bisa Meniru Strategi Sarah Mitton: Personal Branding di Media Sosial
Baca dalam 60 detik
- Atlet lempar seperti Sarah Mitton memanfaatkan media sosial untuk membangun komunitas penggemar, mengisi celah eksposur yang minim dari media arus utama.
- Sponsor dan pendanaan menjadi tantangan utama bagi atlet lempar, dan kehadiran digital membantu mereka mendapatkan dukungan finansial untuk karier.
- Strategi personal branding ini relevan bagi atlet Indonesia untuk meningkatkan profil dan menarik minat publik serta sponsor di tengah dominasi cabang olahraga populer.

Di tengah hiruk-pikuk sorotan media yang kerap berpihak pada cabang olahraga glamor seperti lari cepat, para atlet lempar justru menemukan panggung alternatif: media sosial. Sarah Mitton, peraih medali emas Commonwealth Games 2022 untuk Kanada, adalah salah satu contoh bagaimana atlet lempar membangun basis penggemar setia melalui platform seperti Instagram, sebuah strategi yang relevan untuk direplikasi oleh atlet Indonesia.
Mitton, yang berkompetisi di nomor tolak peluru, mengakui bahwa olahraga lempar adalah niche yang tidak banyak dikenal publik. "Lempar adalah olahraga yang sangat spesifik. Tidak semua orang pernah memegang tolak peluru," ujarnya. Namun, melalui media sosial, ia dan rekan-rekannya mampu menjembatani kesenjangan antara atlet dan masyarakat awam. Mereka tidak hanya membagikan teknik dan rutinitas latihan, tetapi juga momen-momen santai yang membuat mereka terlihat manusiawi dan dekat.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Kanada. Di India, pelempar lembing Neeraj Chopra memiliki sembilan juta pengikut di Instagram, sementara atlet tolak peluru Amerika Serikat, Ryan Crouser, memiliki lebih dari 200 ribu pengikut. Namun, mayoritas atlet lempar memiliki basis penggemar yang jauh lebih kecil, berkisar puluhan ribu, tetapi komunitas ini dianggap vital untuk memperluas profil publik mereka. Mitton menekankan bahwa koneksi personal adalah kunci: "Orang terhubung dengan pribadinya dulu. Mereka bertemu saya, mengikuti saya, lalu menjadi penggemar tolak peluru karena ingin mendukung saya."
Di balik popularitas yang perlahan tumbuh, tantangan finansial tetap membayangi. Atlet lempar sering kesulitan mendapatkan sponsor senilai atlet cabang olahraga populer. Tanpa dukungan dana, sulit untuk mempertahankan kualitas pelatihan, perjalanan, dan kebebasan finansial yang diperlukan untuk tampil maksimal. Media sosial, menurut Mitton, membantu mengisi celah tersebut. "Ini membantu saya mendanai olahraga dan mencari nafkah," katanya, yang telah mendapatkan dukungan dari perusahaan korporat dan merek olahraga.
Bagi Indonesia, strategi ini menawarkan pelajaran berharga. Cabang olahraga atletik, khususnya nomor lempar, seringkali kurang mendapat sorotan dibandingkan bulu tangkis atau sepak bola. Padahal, Indonesia memiliki potensi atlet lempar yang belum tergali maksimal. Dengan mengadopsi pendekatan personal branding seperti Mitton, atlet Indonesia dapat membangun koneksi emosional dengan publik, menarik minat sponsor, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas pembinaan. Kehadiran media sosial juga dapat menjadi sarana untuk mengedukasi masyarakat tentang olahraga lempar, yang mungkin selama ini dianggap asing.
Mitton sendiri mengaku senang ketika menerima komentar dari penonton yang baru pertama kali menonton siaran langsung tolak peluru wanita. "Mereka bilang, 'Astaga, saya tidak pernah berpikir akan duduk di depan TV pada Jumat malam untuk menonton wanita tolak peluru,'" tuturnya. "Itu keren. Saya punya kantong-kantong kecil penggemar di seluruh dunia... Mereka terhubung dengan Anda di media sosial secara personal, mereka berinvestasi pada Anda, lalu mereka mulai mengikuti olahraga ini."
Ke depan, pertanyaannya adalah: akankah atlet lempar Indonesia berani melangkah keluar dari zona nyaman dan memanfaatkan media sosial sebagai senjata untuk mendongkrak popularitas dan karier mereka? Dengan semakin mudahnya akses digital, peluang itu terbuka lebar. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk berbagi cerita, membangun komunitas, dan percaya bahwa setiap atlet berhak atas sorotan.



