Olivia Dean Menangis Seharian Sebelum Tampil di Lollapalooza, Raih Rekor Chart Inggris
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Olivia Dean mengaku menangis sepanjang hari sebelum menjadi headline act pertamanya di Lollapalooza Chicago, di hadapan 97.000 penonton.
- Duetnya dengan Sam Fender, 'Rein Me In', memecahkan rekor 73 tahun sebagai single nomor satu terlama di tangga lagu Inggris dengan 19 minggu non-berturut-turut.
- Pencapaian ini menandai kebangkitan musik Inggris di panggung global, sekaligus membuka peluang bagi musisi Indonesia untuk menembus pasar internasional.

Penyanyi Inggris Olivia Dean mengaku menangis sepanjang hari sebelum akhirnya tampil sebagai bintang utama untuk pertama kalinya di festival musik Lollapalooza, Chicago, pada Sabtu malam (02/08/26). Dalam unggahan Instagram-nya, pelantun 'Rein Me In' itu membagikan video penampilannya di hadapan 97.000 penonton, seraya menuliskan bahwa ia mencoba memahami bagaimana perjalanan kariernya bisa sampai ke titik tersebut.
Momen ini menjadi tonggak penting bagi Dean yang baru berusia 27 tahun. Ia bukan hanya berhasil menguasai panggung festival bergengsi di Amerika Serikat, tetapi juga mencetak sejarah di industri musik Inggris. Pada Jumat (31/07/26), duetnya bersama Sam Fender berjudul 'Rein Me In' resmi memecahkan rekor sebagai single nomor satu terlama dalam sejarah tangga lagu Inggris, dengan total 19 minggu non-berturut-turut di puncak. Rekor sebelumnya dipegang oleh Frankie Laine lewat lagu 'I Believe' sejak 1953.
Lagu yang pertama kali masuk chart pada Juni 2025 ini membutuhkan waktu hampir delapan bulan untuk mencapai posisi puncak, tepatnya pada 20 Februari tahun ini. Namun, popularitasnya tidak surut; lagu tersebut kembali merajai chart dan menggeser rekor yang telah bertahan selama 73 tahun. Pencapaian ini mendapat apresiasi luas, termasuk dari penyelenggara Lollapalooza yang berkomentar, "You are a STAR. Thank you for giving us EVERYTHING." Sam Fender, rekan duet Dean, juga menambahkan komentar singkat "Legend!" di unggahan Dean.
Dalam sambutannya saat menerima Official Chart Record Breaker Award dari Official Charts Company, Sam Fender mengaku kehilangan kata-kata. Ia berterima kasih kepada Dean dan para penggemar yang telah menjadikan lagu tersebut fenomena. Sementara itu, Becca Monahan dan Chris Austin, Co-Managing Director sementara Official Charts, menyebut pencapaian ini luar biasa dan bersejarah. Mereka menekankan bahwa memecahkan rekor yang bertahan 73 tahun adalah hal yang luar biasa, terlebih dilakukan oleh dua musisi asal Inggris yang tumbuh bersama di industri musik domestik.
Keberhasilan 'Rein Me In' tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Dean dan Fender, tetapi juga menjadi simbol kekuatan musik Inggris di tengah persaingan global. Monahan dan Austin menilai bahwa koneksi yang dibangun lagu ini dengan pendengar menunjukkan ambisi dan kualitas musik Inggris saat ini. Mereka juga menyoroti momen ini sebagai perayaan kreativitas Inggris yang patut dibanggakan, terutama ketika musisi lokal harus bersaing di panggung dunia.
Bagi industri musik Indonesia, pencapaian ini memberikan pelajaran berharga. Kolaborasi antar musisi lintas genre dan generasi terbukti mampu menghasilkan karya yang tidak hanya populer di dalam negeri, tetapi juga menembus pasar internasional. Selain itu, kesabaran dalam membangun popularitas—seperti yang dilakukan 'Rein Me In' yang butuh delapan bulan untuk mencapai puncak—menjadi catatan penting bagi para musisi Tanah Air yang kerap mengejar popularitas instan. Pertanyaannya, akankah ada musisi Indonesia yang mampu meniru jejak Dean dan Fender dengan membawa musik lokal ke panggung dunia?



