Aktor Senior Inggris John Thomson Enam Bulan Tanpa Job: Streaming dan AI Menggerus Industri Televisi
Baca dalam 60 detik
- John Thomson, bintang Cold Feet dan The Fast Show, mengaku belum menerima tawaran akting berbayar selama enam bulan terakhir.
- Pergeseran penonton ke platform streaming disebut menjadi biang keladi merosotnya pendapatan iklan televisi komersial Inggris.
- Kekhawatiran akan penggunaan AI untuk meniru suara dan wajah aktor kian nyata, mendorong diskusi tentang masa depan profesi akting.

John Thomson, aktor Inggris yang namanya melekat lewat serial Cold Feet dan The Fast Show, mengaku sudah enam bulan terakhir tanpa pekerjaan akting berbayar. Pengakuan ini disampaikan dalam podcast Scarred For Life, menyingkap realitas pahit industri hiburan yang sedang berubah drastis.
Pria 57 tahun itu bukan aktor kaleng-kaleng. Ia pernah memerankan Pete Gifford di Cold Feet, Jesse Chadwick di Coronation Street, serta Ken di sitkom Men Behaving Badly. Namun, tahun ini ia mengaku tidak mendapat satu pun peran. Padahal, 2025 lalu ia masih sibuk dengan proyek Art Detectives dan The Madame Blanc Mysteries.
Menurut Thomson, penyebab utamanya adalah perpindahan massal penonton ke platform streaming berbayar. Akibatnya, stasiun televisi komersial seperti ITV dan Channel 4 kehilangan pendapatan iklan yang selama ini menjadi tulang punggung produksi drama dan komedi. "Tahun lalu panen, tahun ini paceklik. Saya belum dapat satu pun job akting selama enam bulan," ujarnya dalam podcast tersebut.
Ia menambahkan, "Sekarang sulit. Tidak ada yang punya uang. Stasiun komersial yang bergantung pada iklan, semua orang sudah pindah ke platform berlangganan. Kalau Anda mau beriklan, mengapa memilih stasiun yang penontonnya sudah kabur? Anda tidak akan dapat views."
Lebih jauh, Thomson juga mengaku pekerjaan voice over-nya mulai mengering. Ia khawatir di era kecerdasan buatan, aktor bisa tergoda menjual hak suara dan kemiripan wajah mereka ke perusahaan AI. "Apakah ada cara mereka bisa membeli Anda? Bayar sejumlah uang, lalu mereka memiliki Anda dan bisa berbuat apa saja. Saya tidak suka ide itu," katanya.
Kekhawatiran ini bukan hal baru. Pada 2025, ia sempat mengungkapkan kegelisahannya di podcast We're Not Getting Any Younger. Saat itu ia menyebut dirinya sebagai "aktor kulit putih, kelas menengah, paruh baya, heteroseksual" yang menurutnya sudah tidak diminati industri. "Sejauh bankability atau castability, saya yang terburuk. Mereka tidak menginginkan kami lagi," ujarnya.
Fenomena yang dialami Thomson sejatinya merupakan cermin dari transformasi besar industri hiburan global. Di Indonesia, gelombang serupa juga terasa. Platform streaming seperti Netflix, Disney+, dan Vidio semakin menguasai pasar, sementara stasiun televisi lokal berjuang mempertahankan pemirsa dan pendapatan iklan. Para aktor Tanah Air pun mulai merasakan dampaknya, terutama mereka yang tidak termasuk dalam kategori "bankable" menurut standar industri.
Pergeseran ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah profesi aktor akan bertahan di tengah gempuran teknologi? Atau justru akan berevolusi menjadi model bisnis baru, seperti penjualan hak digital atas diri sendiri? Yang jelas, masa depan akting tidak lagi sesederhana dulu. Para aktor, baik di Inggris maupun Indonesia, harus berpikir ulang tentang strategi karier mereka.



