Mahkamah Inggris Tolak Gugatan Warga atas Izin Kedutaan Besar China di London: Pertarungan Belum Usai
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan Tinggi Inggris memenangkan pemerintah dan otoritas setempat dalam sengketa izin pembangunan kedutaan besar China di dekat Menara London, namun warga setempat segera mengajukan banding.
- Proyek senilai US$327 juta ini akan menjadi kedutaan China terbesar di Eropa Barat, memicu kekhawatiran soal keamanan dan spionase di kawasan pusat kota London.
- Keputusan ini menjadi ujian bagi hubungan Inggris-China di bawah PM Keir Starmer, yang berupaya menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan tekanan politik domestik.

Pengadilan Tinggi Inggris pada Jumat (31/7) memutuskan untuk menolak gugatan warga yang menentang izin pembangunan "kedutaan raksasa" China di pusat London. Meski demikian, kelompok penentang yang terdiri dari warga dan pelaku usaha setempat menegaskan akan melanjutkan perjuangan hukum mereka hingga ke Mahkamah Agung.
Gugatan yang diajukan ke Pengadilan Tinggi tersebut berargumen bahwa kehadiran kompleks kedutaan baru di dekat Menara London akan meningkatkan risiko serangan teror, spionase, serta intimidasi terhadap para pembangkang dan pengunjuk rasa. Namun, dua hakim yang memeriksa perkara ini memutuskan bahwa klaim para penggugat tidak berdasar, dan menyatakan Menteri Perumahan serta otoritas distrik Tower Hamlets telah bertindak sah ketika memberikan izin perencanaan pada Januari lalu.
Asosiasi Warga Royal Mint Court, yang menjadi motor penolakan, langsung mengumumkan akan mengajukan permohonan izin banding. Mereka juga meluncurkan kembali penggalangan dana untuk membiayai biaya hukum. Luke de Pulford, ketua Aliansi Antar-Parlemen untuk China, menyatakan bahwa keputusan ini bukanlah akhir dari segalanya. "Beijing mengira putusan ini adalah kata final. Padahal tidak. Banding sudah dalam proses," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Proyek ini bermula dari pembelian lahan bekas Royal Mint yang bersejarah, tepat di sebelah Menara London, oleh pemerintah China pada 2018 dengan nilai dilaporkan mencapai US$327 juta. Rencananya, kedutaan besar China akan dipindahkan ke lokasi tersebut, dan izin diplomatik telah diberikan oleh mantan Menteri Luar Negeri Boris Johnson. Dengan luas lahan 20.000 meter persegi, kompleks ini akan menjadi kedutaan terbesar di Inggris berdasarkan luas bangunan.
Penolakan terhadap proyek ini telah berlangsung sengit sejak awal. Warga sekitar, kelompok hak asasi manusia, dan para kritikus Partai Komunis China menilai kedutaan tersebut akan menjadi simbol kekuatan politik Beijing di jantung ibu kota Inggris. Mereka juga khawatir dengan laporan yang menyebutkan adanya rencana pembangunan "ruang rahasia" di bawah gedung, yang diklaim dekat dengan kabel komunikasi bawah tanah yang sensitif. The Daily Telegraph melaporkan telah memperoleh dokumen yang tidak disunting yang menunjukkan rencana tersebut.
Menanggapi kekhawatiran itu, mantan Menteri Keamanan Dan Jarvis pernah menyatakan kepada anggota parlemen bahwa "semua risiko sedang dikelola dengan tepat". Ia mengutip pernyataan kepala badan intelijen yang membantu mengembangkan berbagai langkah pengamanan. Ia juga menambahkan bahwa pemusatan tujuh lokasi kedutaan menjadi satu justru akan memberikan keuntungan keamanan yang jelas.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin bagaimana negara-negara demokratis menghadapi pengaruh China yang semakin ekspansif. Meski Indonesia tidak memiliki proyek kedutaan sebesar ini, keputusan pengadilan Inggris menunjukkan bahwa keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan keamanan nasional adalah isu yang kompleks. Indonesia, yang juga menjalin hubungan erat dengan China, dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya transparansi dan partisipasi publik dalam proyek-proyek strategis yang melibatkan negara asing.
Dengan banding yang akan diajukan, kasus ini masih panjang. Pertanyaannya, apakah Mahkamah Agung Inggris akan menerima banding tersebut dan mengabulkan permohonan warga? Atau, apakah proyek ini akan terus berjalan meski dihantui kontroversi? Keputusan ini tidak hanya akan menentukan wajah kawasan Tower of London, tetapi juga menjadi barometer hubungan Inggris-China di masa depan.



