Pengadilan India Bebaskan Eks Ketua Federasi Gulat dari Tuduhan Pelecehan Seksual
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan distrik di India memutuskan bebas Brij Bhushan Sharan Singh, mantan ketua Federasi Gulat India, dari tuduhan pelecehan seksual oleh enam atlet wanita.
- Vonis ini memicu kekecewaan para pegulat, termasuk peraih medali Olimpiade Vinesh Phogat, yang berencana mengajukan banding ke pengadilan tinggi.
- Kasus ini menyoroti dinamika kekuasaan dan politik di India, di mana Singh, tokoh berpengaruh dari partai berkuasa, sempat kehilangan tiket caleg namun anaknya kini duduk di parlemen.

Seorang pengadilan di India pada Senin (19/8) membebaskan Brij Bhushan Sharan Singh, politikus kontroversial yang menjadi tersangka kasus pelecehan seksual yang dilaporkan oleh enam pegulat wanita pada 2023. Vonis ini langsung memicu reaksi beragam, dari perayaan para pendukung Singh hingga kekecewaan mendalam dari para atlet yang menggugat.
Singh, yang pernah menjabat sebagai ketua Federasi Gulat India (WFI) dan anggota parlemen dari Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi, membantah semua tuduhan sejak awal. Pengadilan distrik di Delhi memutuskan bahwa dakwaan tidak terbukti, dan ajudannya, Vinod Tomar, juga dibebaskan dari semua tuntutan.
Kasus ini bermula dari protes panjang para pegulat di ibu kota India pada awal 2023. Mereka menuntut pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap Singh, yang dituduh melakukan pelecehan seksual selama menjabat di WFI. Aksi mereka menarik perhatian global, terutama setelah polisi menahan para atlet saat mereka mencoba berbaris menuju gedung parlemen baru di Delhi. Rekaman video yang memperlihatkan peraih medali Olimpiade Sakshi Malik, Bajrang Punia, dan Vinesh Phogat diseret dan diangkut dengan mobil polisi menjadi viral, memicu kecaman dari atlet-atlet top dan politisi oposisi.
Vinesh Phogat, yang menjadi wajah protes, mengungkapkan kekecewaannya melalui media sosial. Ia menuduh bahwa sejak awal, seluruh sistem, administrasi, dan pemerintah justru melindungi Singh. Para pegulat yang mengajukan kasus ini berencana mengajukan banding ke pengadilan yang lebih tinggi. Sementara itu, Singh menyambut vonis ini dengan pernyataan bahwa ia siap menggantung diri jika tuduhan itu terbukti, namun kini ia bersyukur atas pembebasannya.
Kasus ini tidak hanya menyoroti isu keadilan bagi atlet, tetapi juga mengungkap dinamika politik di India. Saat tuduhan pertama kali muncul, pemerintah Modi dituding lamban dan tidak tegas menangani Singh, yang saat itu masih menjadi anggota parlemen dari BJP. Pemerintah membantah tuduhan tersebut, dengan menyatakan bahwa hukum akan berjalan sebagaimana mestinya. Tekanan publik akhirnya membuat BJP tidak mencalonkan Singh pada pemilu 2024 untuk kursi Kaiserganj di Uttar Pradesh, dan sebagai gantinya, partai tersebut mencalonkan putranya yang kemudian memenangkan kursi tersebut.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan terhadap atlet dari kekuasaan yang tidak seimbang dalam organisasi olahraga. Di Indonesia, kasus serupa juga pernah terjadi di beberapa cabang olahraga, meski tidak sebesar di India. Penguatan mekanisme pengaduan dan independensi federasi olahraga menjadi krusial untuk mencegah penyalahgunaan wewenang. Selain itu, kasus ini menunjukkan bagaimana tekanan publik dan media dapat mempengaruhi proses hukum, meskipun hasil akhirnya tidak selalu memuaskan para korban.
Ke depannya, banding yang diajukan oleh para pegulat akan menjadi ujian bagi sistem peradilan India. Pertanyaannya, apakah pengadilan tinggi akan mempertimbangkan bukti-bukti yang mungkin terabaikan di tingkat distrik? Atau, vonis ini justru akan menjadi preseden yang mempersulit korban pelecehan seksual di lingkungan olahraga untuk mendapatkan keadilan? Publik, terutama para atlet, akan mengawal proses ini dengan saksama.



