Usman Nurmagomedov Bebas Transfer: UFC atau PFL? Keputusan dalam Sebulan
Baca dalam 60 detik
- Usman Nurmagomedov, jagoan PFL yang tak terkalahkan, akan menentukan masa depannya dalam sebulan setelah kontraknya usai.
- Khabib Nurmagomedov, pelatih sekaligus sepupunya, mengonfirmasi negosiasi dengan beberapa promotor akan segera dimulai.
- Keputusan ini berpotensi mengubah peta persaingan MMA global, terutama dengan merger PFL dan MVP yang baru saja terjadi.

Usman Nurmagomedov, raja kelas ringan PFL yang belum pernah menelan kekalahan, tengah berada di persimpangan karier. Setelah kontraknya dengan PFL berakhir, petarung berusia 28 tahun itu dipastikan akan menentukan masa depannya dalam waktu dekat. Kabar ini disampaikan langsung oleh Khabib Nurmagomedov, sepupu sekaligus pelatihnya, melalui pernyataan di media sosial.
Nurmagomedov baru saja mempertahankan gelar juara dunia PFL dengan mengalahkan Archie Colgan di New York pekan lalu. Kemenangan knockout di ronde pertama itu menjadi pembelaan gelar keduanya, sekaligus pertarungan terakhir dalam kontraknya. Dengan status bebas transfer, nama Nurmagomedov langsung dikaitkan dengan UFC, promotor terbesar di dunia, yang selama ini menjadi incaran banyak petarung.
Momen ini menjadi semakin menarik karena PFL baru saja merger dengan Most Valuable Promotions (MVP), perusahaan milik Jake Paul. Langkah ini diyakini akan mengubah lanskap MMA global, terutama dalam hal daya saing dan kesejahteraan petarung. Khabib, dalam unggahannya, menyebut bahwa negosiasi akan berlangsung dalam sebulan ke depan, dan publik akan segera tahu ke mana langkah Usman selanjutnya.
Khabib membandingkan Usman dengan Islam Makhachev, rekan setim yang kini menjadi juara kelas welter UFC. Menurutnya, Usman telah membuktikan diri sebagai petarung kelas ringan terbaik di luar UFC, bukan lewat kata-kata, melainkan lewat performa di atas oktagon. "Ada level dalam permainan ini," ujarnya, mengingatkan bahwa kritik yang pernah dialamatkan padanya soal Makhachev terbukti keliru.
Keputusan Usman tidak hanya soal gengsi, tetapi juga soal finansial. Dalam wawancara usai pertarungan, ia secara blak-blakan menyebut bahwa uang menjadi prioritasnya. Hal ini menjadi sorotan karena UFC dikenal hanya membagikan sekitar 20 persen pendapatan kepada petarung, sebuah kebijakan yang kerap dikritik. Sementara itu, struktur pembayaran di PFL pasca-merger dengan MVP masih menjadi tanda tanya.
Di sisi lain, peluang bergabung dengan UFC membuka pintu menuju laga-laga besar yang selama ini diimpikan. Nama-nama seperti Islam Makhachev atau petarung top lainnya bisa menjadi lawan yang menarik. Namun, risiko dan tantangan juga lebih besar, mengingat persaingan di UFC jauh lebih ketat. Usman sendiri pernah diuji oleh Paul Hughes dalam dua pertarungan sengit pada 2025, yang menunjukkan bahwa ia tidak selalu dominan.
Menariknya, Dana White, presiden UFC, merespons dengan senyum ketika ditanya soal kemungkinan merekrut Usman. "Tentu," jawabnya singkat, memberi sinyal bahwa UFC serius mengincarnya. Sementara itu, Jake Paul, yang kerap mengkritik kebijakan gaji UFC, justru berjanji akan membelikan mobil jika Usman berhasil melakukan knockout di laga berikutnya. Usman pun sempat melontarkan sindiran tajam, "MVP selalu bicara soal Dana yang pelit, sekarang kita lihat bagaimana mereka membayar."
Bagi penggemar MMA di Indonesia, perkembangan ini patut disimak. Meski tidak ada petarung Indonesia yang terlibat langsung, dinamika antara UFC dan PFL bisa berdampak pada industri olahraga secara global, termasuk potensi hadirnya event-event besar di Asia. Jika Usman memilih UFC, popularitasnya akan melonjak, dan pertarungannya akan semakin mudah diakses oleh penggemar di tanah air.
Keputusan Usman Nurmagomedov dalam sebulan ke depan akan menjadi penentu arah kariernya. Apakah ia akan mengikuti jejak sepupunya yang legendaris di UFC, atau justru menjadi bintang di PFL yang sedang bangkit? Yang jelas, pilihan ini tidak hanya akan menentukan masa depannya, tetapi juga peta persaingan MMA dunia dalam beberapa tahun ke depan.



