Serangan Beruang di Muratara: Dua Petani Terluka, Warga Diimbau Waspada
Baca dalam 60 detik
- Dua petani di Musi Rawas Utara dilarikan ke puskesmas setelah diserang beruang saat bekerja di kebun sawit.
- Insiden ini menyoroti meningkatnya konflik manusia-satwa liar akibat menyempitnya habitat alami di Sumatera Selatan.
- Pihak berwenang tengah melakukan pemantauan dan mengimbau warga untuk tidak beraktivitas sendirian di area rawan.

Dua petani di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, harus dilarikan ke puskesmas setempat setelah diserang beruang saat tengah bekerja di kebun sawit, Selasa (3/12/2024). Peristiwa ini menjadi pengingat akan meningkatnya risiko konflik antara manusia dan satwa liar di tengah menyempitnya habitat alami.
Menurut informasi yang dihimpun, korban adalah tiga orang petani yang sedang beraktivitas di area perkebunan. Dua di antaranya mengalami luka cukup serius akibat cakaran dan gigitan, sementara satu lainnya berhasil melarikan diri tanpa cedera berarti. Korban yang terluka segera mendapatkan perawatan medis, dan kondisinya dilaporkan stabil.
Serangan ini diduga terjadi karena para petani secara tidak sengaja memasuki wilayah jelajah beruang yang sedang mencari makan. Beruang madu (Helarctos malayanus), spesies yang dilindungi, kerap terdorong keluar dari habitatnya akibat alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan. Wilayah Muratara sendiri dikenal sebagai salah satu kantong populasi beruang madu di Sumatera.
Konflik manusia-satwa liar di Indonesia, khususnya di Sumatera, terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Data dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menunjukkan puluhan kasus serangan beruang, harimau, dan gajah terjadi setiap tahun, sering kali berujung pada kerugian ekonomi dan korban jiwa. Para ahli menilai perluasan perkebunan sawit dan pembangunan infrastruktur tanpa koridor satwa menjadi pemicu utama.
Menanggapi kejadian ini, pihak kepolisian dan BKSDA setempat telah melakukan koordinasi untuk memantau pergerakan beruang. Warga diimbau untuk tidak beraktivitas sendirian di area perkebunan, terutama pada pagi dan sore hari saat satwa lebih aktif. Selain itu, warga diminta segera melapor jika melihat keberadaan satwa liar di dekat permukiman.
Insiden ini juga menyoroti pentingnya pengelolaan lanskap yang lebih ramah satwa. Beberapa organisasi lingkungan telah mendesak pemerintah daerah untuk membuat koridor satwa dan melakukan sosialisasi mitigasi konflik. Namun, upaya tersebut masih terkendala oleh minimnya anggaran dan koordinasi lintas sektor.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah pemerintah akan mengambil langkah konkret untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Tanpa adanya solusi jangka panjang yang melibatkan masyarakat, petani, dan pihak konservasi, konflik manusia-satwa liar di Sumatera dikhawatirkan akan terus berulang, bahkan meningkat seiring laju deforestasi yang masih tinggi.



