BOJ Tahan Suku Bunga di 1 Persen, Ueda Waspadai Dampak Pelemahan Yen terhadap Inflasi
Baca dalam 60 detik
- Bank of Japan mempertahankan suku bunga acuan 1,0% dalam rapat Juli 2026, di tengah kekhawatiran fluktuasi yen yang kian mempengaruhi laju inflasi.
- Gubernur Kazuo Ueda menegaskan bahwa dampak nilai tukar terhadap harga kini lebih besar, mendorong bank sentral untuk memantau secara ketat risiko kenaikan inflasi.
- Keputusan ini berimplikasi pada arus modal global, termasuk pasar Asia dan Indonesia, di mana selisih suku bunga dengan Jepang masih cukup lebar.

Bank of Japan (BOJ) kembali memilih sikap hati-hati dengan menahan suku bunga acuan pada kisaran 1,0 persen setelah menggelar pertemuan kebijakan dua hari yang berakhir Jumat (31/7). Di tengah tekanan pelemahan yen yang berkepanjangan, Gubernur Kazuo Ueda menyatakan bank sentral akan memantau secara cermat pengaruh pergerakan mata uang terhadap ekonomi dan inflasi, sebuah sinyal bahwa stabilitas harga masih menjadi prioritas utama.
Dalam konferensi pers usai pengumuman, Ueda menggarisbawahi bahwa transmisi fluktuasi nilai tukar ke harga domestik kini semakin kuat dibanding periode-periode sebelumnya. "Dampak pergerakan kurs terhadap harga telah tumbuh lebih besar dari sebelumnya," ujarnya, seraya menambahkan bahwa pelemahan yen menjadi faktor penting dalam menilai risiko kenaikan inflasi ke depan. Pernyataan ini muncul di tengah ekspektasi pasar yang terbelah antara kebutuhan menopang pertumbuhan dan menjaga daya beli masyarakat.
Keputusan BOJ ini sejalan dengan revisi proyeksi ekonomi untuk tahun fiskal 2026 yang dirilis pada hari yang sama. Bank sentral menaikkan perkiraan pertumbuhan, namun tetap mewaspadai tekanan harga yang berasal dari impor. Langkah ini juga diambil hanya beberapa hari setelah Jepang dilaporkan melakukan intervensi valuta asing untuk menahan laju depresiasi yen terhadap dolar AS, sebuah langkah yang jarang terjadi dan menandakan kekhawatiran serius pemerintah terhadap stabilitas mata uang.
Bagi Indonesia, sikap BOJ yang cenderung dovish ini memiliki resonansi tersendiri. Selisih suku bunga antara Jepang dan Indonesia yang masih lebar berpotensi mempengaruhi arus modal asing ke pasar obligasi dan saham domestik. Pelaku pasar di Jakarta perlu mencermati bahwa kebijakan BOJ yang longgar dapat memperkuat daya tarik aset berdenominasi rupiah, meski di sisi lain pelemahan yen juga dapat memicu pergeseran rantai pasok dan investasi di kawasan Asia Tenggara.
Analis menilai bahwa sikap BOJ yang menahan diri mencerminkan dilema klasik bank sentral: menyeimbangkan antara kebutuhan mendorong pertumbuhan melalui ekspor yang kompetitif dan risiko inflasi yang diimpor dari depresiasi mata uang. Dengan inflasi inti yang masih berada di atas target 2 persen, tekanan terhadap Ueda untuk menaikkan suku bunga kemungkinan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang, terutama jika yen terus melemah.
Ke depan, pasar akan mencermati sinyal dari pertemuan BOJ berikutnya, termasuk apakah bank sentral akan mengubah bahasa kebijakannya menjadi lebih hawkish. Pertanyaan yang menggantung: berapa lama lagi BOJ dapat bertahan dengan suku bunga rendah di tengah gejolak nilai tukar yang semakin tidak menentu? Jawabannya tidak hanya akan menentukan arah yen, tetapi juga stabilitas ekonomi kawasan, termasuk Indonesia yang tengah berupaya menarik investasi asing.



