Kekalahan dari Leeds Buka Borok Liverpool: Kedalaman Skuad dan Set Piece Jadi Pekerjaan Rumah Iraola
Baca dalam 60 detik
- Liverpool menutup tur pramusim di Amerika Serikat dengan kekalahan 2-4 dari Leeds, setelah tampil impresif di babak pertama namun kolaps di babak kedua.
- Manajer Andoni Iraola mengakui masalah pertahanan, terutama dari situasi bola mati, dan akan segera bertemu dengan pemain inti yang baru kembali untuk membenahi tim.
- Hasil ini menjadi bahan evaluasi penting bagi Iraola untuk menentukan kebijakan transfer sebelum musim 2026/27 dimulai.

Kekalahan 2-4 dari Leeds United pada laga pamungkas tur pramusim di Amerika Serikat menjadi tamparan telak bagi Liverpool. Bukan sekadar hasil akhir, melainkan cara tim asuhan Andoni Iraola tampil di babak kedua yang menjadi sorotan tajam. Setelah menunjukkan performa terbaiknya di babak pertama, The Reds justru ambruk dan kebobolan empat gol tanpa balas dalam 25 menit, sebuah sinyal bahaya yang tak bisa diabaikan menjelang dimulainya Premier League.
Babak pertama menjadi panggung bagi duet mahal Alexander Isak dan Florian Wirtz yang baru kembali dari liburan. Mereka tampil tajam dan mampu membongkar pertahanan Leeds. Namun, setelah jeda, Iraola melakukan banyak pergantian pemain, dan justru di situlah masalahnya. Skuad pelapis yang diturunkan tidak mampu menjaga ritme permainan, memperlihatkan betapa tipisnya kedalaman skuad Liverpool saat ini. Ketergantungan pada pemain inti menjadi sangat jelas, dan hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Iraola.
Yang lebih memprihatinkan, dua dari empat gol Leeds lahir dari situasi bola mati. Gelandang Dominik Szoboszlai dengan tegas mengakui kelemahan ini. "Kami kebobolan dua gol dari set-piece. Kami harus memperbaiki ini dan memastikan kami bisa menghadapinya dengan lebih baik," ujarnya. Ini bukan sekadar masalah taktis, melainkan juga mentalitas dan konsentrasi, terutama saat menghadapi tekanan di laga resmi nanti.
Kekalahan ini juga membuka mata Iraola mengenai kualitas pemain lapis kedua. Nama-nama seperti Curtis Jones dan Federico Chiesa yang diharapkan bisa menjadi pembeda justru tampil di bawah standar. Sementara itu, lini belakang yang dihuni pemain muda seperti Calvin Ramsay, Ifeanyi Ndukwe, dan Mor Talla Ndiaye memang tidak berpengalaman, tetapi kerapuhan yang ditunjukkan tetap menjadi catatan tersendiri. Iraola tentu tak ingin mengulang kejadian serupa saat kompetisi resmi bergulir.
Di tengah kekhawatiran tersebut, ada secercah harapan dari penampilan pemain muda. Trey Nyoni, gelandang 19 tahun, kembali menunjukkan kualitasnya dengan assist yang indah untuk gol Wirtz. Ia hanya bermain 229 menit musim lalu, tetapi performanya di pramusim ini bisa mengubah rencana Iraola. Jika terus konsisten, bukan tidak mungkin Nyoni akan bertahan di skuad utama dan mendapatkan lebih banyak menit bermain musim ini, alih-alih dipinjamkan.
Iraola sendiri telah mengakui bahwa ia membenci ketidakpastian di bulan Agustus, terutama terkait keluar masuknya pemain. Dalam beberapa hari ke depan, ia akan bertemu dengan Virgil van Dijk, Cody Gakpo, Alisson Becker, dan rekrutan anyar Victor Munoz di AXA Training Centre. Satu-satunya pemain yang belum ditemuinya adalah Alexis Mac Allister yang mendapat libur ekstra setelah Argentina tampil di final Piala Dunia. Pertemuan ini akan menjadi momen penting untuk menyatukan visi dan mematangkan persiapan tim.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kekalahan ini menjadi pengingat bahwa persiapan pramusim yang baik tidak menjamin kesuksesan di musim kompetisi. Liverpool, dengan segala reputasinya, masih memiliki pekerjaan rumah yang jelas: memperkuat lini belakang, meningkatkan koordinasi dalam bertahan dari situasi bola mati, dan memastikan kedalaman skuad yang memadai. Pertanyaannya, akankah Iraola bergerak cepat di bursa transfer yang masih terbuka? Atau akankah ia bertahan dengan skuad yang ada dan memperbaiki masalah internal? Jawabannya akan menentukan apakah Liverpool siap bersaing di papan atas Premier League musim ini.



