Wales Tarik Dukungan untuk Infantino, Tekanan terhadap Presiden FIFA Makin Menguat
Baca dalam 60 detik
- FAW secara resmi mencabut dukungan untuk Gianni Infantino pada pemilihan presiden FIFA 2027-2031, menjadikan Wales negara pertama yang melakukannya.
- Langkah ini dipicu oleh rencana kontroversial Infantino menjual saham kompetisi FIFA kepada investor swasta, yang memicu ancaman boikot dari UEFA dan Concacaf.
- Keputusan Wales menandai krisis kepercayaan yang lebih luas terhadap kepemimpinan Infantino, dengan potensi dampak pada tata kelola sepak bola global dan posisi Indonesia di kancah internasional.

Asosiasi Sepak Bola Wales (FAW) secara resmi menarik dukungannya terhadap Gianni Infantino untuk periode kepresidenan FIFA 2027-2031. Langkah ini menjadikan Wales sebagai negara pertama yang secara terbuka memutuskan dukungan, menyusul kekacauan yang dipicu oleh rencana Infantino untuk menjual saham kompetisi FIFA kepada perusahaan investasi swasta.
Keputusan FAW diumumkan setelah Infantino membatalkan rencana ambisiusnya yang memicu kemarahan global. UEFA, sebagai induk sepak bola Eropa, bahkan mengancam akan memboikot seluruh kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia. Concacaf, yang menaungi sepak bola di Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, juga mengeluarkan pernyataan kritis pada Sabtu lalu, menyoroti kegagalan tata kelola di bawah kepemimpinan Infantino.
Dalam pernyataannya, FAW menegaskan bahwa kegagalan dalam tata kelola, proses, kepemimpinan, nilai-nilai, manajemen pemangku kepentingan, komunikasi, dan penilaian yang baik telah membuat Infantino kehilangan kepercayaan mereka. "Gagal mengutamakan kepentingan terbaik sepak bola adalah kegagalan yang tidak bisa kami terima," demikian bunyi pernyataan resmi FAW.
Krisis ini menandai babak baru dalam hubungan antara FIFA dan federasi-federasi anggotanya. Sejak menjabat pada 2016, Infantino memang dikenal dengan gaya kepemimpinan yang kontroversial, termasuk upayanya untuk memperluas kompetisi dan meningkatkan pendapatan FIFA. Namun, langkah terakhirnya dinilai melampaui batas etika dan transparansi, sehingga memicu reaksi keras dari berbagai pihak.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam tata kelola FIFA yang bersih dan akuntabel. PSSI, sebagai federasi nasional, perlu mencermati dinamika ini dan memastikan bahwa suara Indonesia tetap sejalan dengan prinsip-prinsip integritas dalam sepak bola global.
Para analis memperkirakan bahwa langkah Wales ini bisa menjadi katalis bagi federasi lain untuk menyusul. Jika semakin banyak negara yang menarik dukungan, posisi Infantino akan semakin terancam. Namun, Infantino masih memiliki basis dukungan yang kuat, terutama dari federasi-federasi di Afrika dan Asia yang telah merasakan manfaat finansial dari program pengembangan FIFA.
Pertanyaan besarnya kini adalah: akankah langkah Wales memicu efek domino yang lebih luas, atau justru menjadi isolasi bagi Infantino? Yang jelas, tekanan terhadap presiden FIFA ini tidak akan mereda dalam waktu dekat. Dengan pemilihan yang tinggal beberapa bulan lagi, keputusan Wales ini bisa menjadi titik balik dalam sejarah tata kelola sepak bola dunia.



