FIFA Minta Maaf ke 211 Asosiasi Anggota: Krisis Kepemimpinan Infantino Makin Dalam
Baca dalam 60 detik
- FIFA secara resmi meminta maaf atas kegagalan komunikasi dalam rencana penjualan hak komersial Piala Dunia yang menuai kritik luas.
- Dukungan terhadap Gianni Infantino mulai goyah, termasuk dari Perdana Menteri Kanada dan sejumlah federasi Eropa, menjelang pemilihan presiden Maret.
- Langkah FIFA berikutnya akan menentukan arah kepemimpinan organisasi, dengan potensi kongres luar biasa jika 43 asosiasi mengajukan permintaan.

FIFA secara resmi menyampaikan permintaan maaf kepada 211 asosiasi anggotanya atas kegagalan komunikasi dalam rencana penjualan hak komersial Piala Dunia yang akhirnya ditarik kembali. Langkah ini diambil setelah pertemuan darurat di Rabat, Maroko, yang dihadiri Presiden Gianni Infantino dan Sekretaris Jenderal Mattias Grafstrom, sebagai upaya meredam gelombang kritik yang mengancam posisi Infantino menjelang pemilihan presiden tahun depan.
Krisis ini bermula dari usulan pembentukan entitas komersial baru yang menawarkan 20 persen saham kepada investor swasta, dengan target pendanaan sekitar US$4,2 miliar untuk pengembangan sepak bola. Namun, keterlibatan perusahaan yang memiliki kaitan keluarga dengan Presiden AS Donald Trump memicu kecurigaan dan kecaman tajam, terutama dari UEFA yang menuduh FIFA melakukan tata kelola buruk tanpa konsultasi yang memadai.
Dalam pernyataan resminya, FIFA menegaskan kembali dukungan penuh terhadap Infantino, namun mengakui bahwa penanganan proposal tersebut seharusnya dilakukan dengan cara berbeda. Surat terpisah juga telah dikirim kepada Dewan FIFA dan seluruh asosiasi anggota, berisi permintaan maaf dan janji untuk melakukan evaluasi menyeluruh. FIFA juga menyatakan tidak akan lagi mentolerir serangan terhadap integritas dan tata kelola organisasi.
Kritik terhadap Infantino tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam tubuh FIFA. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, secara terbuka menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Infantino setelah mengetahui bahwa penasihat senior tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting tersebut. Carney menilai kegagalan menginformasikan eksekutif dan anggota dewan seharusnya menjadi akhir bagi kepemimpinan siapa pun. Sekretaris Jenderal Grafstrom, dalam memo internal, menyebut rangkaian peristiwa ini sebagai "menyedihkan dan tercela", meskipun tidak menyebut nama Infantino secara langsung.
Sejumlah tokoh sepak bola dunia juga angkat bicara. Legenda Portugal, Luis Figo, menyerukan Infantino untuk mundur, sementara Wakil Presiden UEFA, Laura McAllister, menyebut kontroversi ini telah membawa kepemimpinan Infantino ke titik krisis. Bahkan, beberapa federasi Eropa telah menarik dukungan mereka, dan Arsene Wenger, Direktur Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, mengaku tidak terlibat dalam penyusunan proposal dan menyebut penarikannya sebagai langkah yang "sangat diperlukan".
Di tengah badai ini, Infantino masih mendapat dukungan dari sejumlah negara, termasuk Qatar, Kuwait, Lebanon, Sri Lanka, Indonesia, dan Filipina. Dukungan juga datang dari beberapa administrator sepak bola Afrika, yang melihat Infantino sebagai sumber pendanaan penting bagi asosiasi yang kekurangan dana. Namun, konfederasi Afrika (CAF) belum mengambil sikap resmi, dan Oseania akan membahas sikap mereka dalam pertemuan pekan depan.
Bagi Indonesia, situasi ini memiliki relevansi langsung. Sebagai salah satu negara yang menyatakan loyalitas kepada Infantino, Indonesia perlu mencermati dinamika ini. Dukungan yang diberikan harus selaras dengan kepentingan jangka panjang pengembangan sepak bola nasional, terutama dalam hal akses pendanaan dan program pengembangan dari FIFA. Jika krisis ini berlarut, ada potensi perubahan arah kebijakan FIFA yang dapat memengaruhi alokasi dana untuk negara berkembang seperti Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Infantino mampu bertahan dan memenangkan pemilihan kembali untuk periode keempat. Meskipun belum ada kandidat kuat yang muncul, kritik yang terus berlanjut dapat menggerus dukungannya. UEFA dan European Leagues, yang mewakili lebih dari 1.300 klub, menuntut FIFA untuk tidak lagi mengambil keputusan sepihak yang mengganggu klub, pemain, dan penggemar. Mereka juga mengkritik tenggat waktu yang terlalu singkat untuk mempelajari rencana perluasan Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim.
Dengan tekanan yang semakin besar, Infantino harus segera memulihkan kepercayaan, baik dari internal maupun eksternal. Jika tidak, masa depannya sebagai presiden FIFA akan semakin tidak pasti, dan hal ini akan berdampak pada tata kelola sepak bola global secara keseluruhan.



