Waratahs Rekrut Duo Legendaris Foley-Phipps: Kembalinya 'Masa Depan' Rugby New South Wales
Baca dalam 60 detik
- Duet Foley-Phipps, arsitek gelar Super Rugby 2014, kembali memperkuat Waratahs pada musim 2027.
- Kepulangan dua pemain senior ini diharapkan menjadi katalis kebangkitan tim yang tengah kehilangan pelatih.
- Langkah ini juga membuka opsi segar bagi pelatih anyar Wallabies, Les Kiss, menjelang Piala Dunia 2027 di Australia.

New South Wales Waratahs secara resmi mengumumkan kembalinya dua pilar lama mereka, Bernard Foley dan Nick Phipps, untuk mengarungi musim 2027. Keputusan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan langkah strategis untuk membangkitkan kejayaan tim yang terakhir kali merasakan gelar juara Super Rugby pada 2014, ketika duet tersebut menjadi arsitek kemenangan dramatis atas Canterbury Crusaders.
Foley, yang dijuluki "Iceman" berkat tendangan penalti penentu di final 2014, akan kembali ke Sydney setelah menghabiskan tujuh tahun berkarier di Jepang bersama Kubota Spears. Di usia 36 tahun, pengalamannya di panggung internasional diharapkan menjadi mentor bagi para pemain muda Waratahs. Sementara itu, Phipps, yang setahun lebih tua, juga kembali dari Green Rockets, klub Jepang yang ia bela sejak 2022. Sebelumnya, ia sempat merumput di London Irish, Inggris, selama beberapa musim.
Kembalinya kedua pemain ini tidak hanya berdampak pada level klub. Keduanya merupakan bagian dari skuad Australia yang menembus final Piala Dunia 2015. Dengan Piala Dunia 2027 yang akan digelar di tanah air, kehadiran mereka memberikan opsi berharga bagi pelatih baru Wallabies, Les Kiss. Foley, yang terakhir tampil untuk timnas pada 2022, masih dianggap sebagai salah satu playmaker terbaik Australia, sementara Phipps, meski caps terakhirnya diraih pada 2019, membawa ketenangan dan jam terbang tinggi di lini belakang.
Langkah ini diambil di tengah situasi yang kurang ideal bagi Waratahs. Pada musim lalu, mereka finis di peringkat kedelapan dari sebelas tim di Super Rugby Pacific. Lebih parah lagi, kursi pelatih masih kosong setelah Dan McKellar mengundurkan diri pada Juni lalu. Kondisi ini membuat rekrutan dua pemain senior menjadi sinyal bahwa manajemen berusaha membangun kembali fondasi tim, meski tanpa sosok pelatih kepala.
Direktur performa tinggi Waratahs, Barrie-Jon Mather, menyambut antusiasme kedua pemain. Menurutnya, Foley dan Phipps memiliki pemahaman mendalam tentang budaya klub dan tahu persis apa yang dibutuhkan untuk membangun lingkungan yang kompetitif. "Yang jelas dari percakapan saya dengan Bernard dan Nick adalah hasrat mereka untuk berkontribusi dan keinginan kuat untuk mendorong tim ini maju," ujarnya.
Foley sendiri mengaku bersyukur bisa kembali ke klub yang menjadi awal kariernya. "Saya merasa sangat beruntung memiliki kesempatan untuk menyelesaikan karier di klub tempat semuanya dimulai. Saya tidak sabar untuk bertemu dengan para pemain dan semua orang yang terlibat, dan mulai bekerja," tuturnya dalam rilis resmi.
Bagi pengamat rugby, keputusan ini menarik karena menunjukkan pergeseran strategi klub-klub Super Rugby yang mulai melirik kembali pemain senior berpengalaman di tengah gempuran kompetisi domestik yang semakin ketat. Di Indonesia, meski rugby bukan olahraga arus utama, perkembangan ini bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya manajemen karier atlet dan regenerasi tim. Kehadiran pemain senior yang matang secara mental kerap menjadi kunci sukses tim muda, sebuah pola yang juga relevan dalam pengembangan olahraga di tanah air.
Dengan kontrak yang mulai berlaku untuk musim 2027, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Waratahs akan mengisi kursi pelatih yang kosong dan apakah duet senior ini masih mampu tampil kompetitif di usia yang tidak muda lagi. Namun, satu hal yang pasti: kembalinya Foley dan Phipps memberi harapan baru bagi para penggemar Waratahs yang haus akan kejayaan.



