Antonelli Juara Dunia Termuda, Mercedes Akui Salah Besar di Mobil Russell
Baca dalam 60 detik
- Andrea Kimi Antonelli resmi menjadi juara dunia F1 termuda dalam sejarah setelah finis ketiga di GP Meksiko, Minggu (26/10/2025).
- Strategi ban soft yang bertahan lebih dari 40 lap menjadi kunci kemenangan Antonelli, sementara kegagalan baterai merusak balapan George Russell.
- Mercedes menyesalkan insiden teknis yang menimpa Russell dan bertekad mengejar gelar konstruktor di Brasil.

Andrea Kimi Antonelli mencetak sejarah sebagai juara dunia Formula 1 termuda setelah menyelesaikan balapan GP Meksiko di posisi ketiga, Minggu (26/10/2025). Prestasi ini sekaligus mengakhiri penantian Mercedes yang sempat dilanda kekecewaan akibat kegagalan teknis yang menimpa George Russell di balapan yang sama.
Di Sirkuit Autodromo Hermanos Rodriguez, tim Mercedes menjalani dua sisi ekstrem: merayakan gelar juara dunia pembalap pertamanya sejak 2020, namun di saat bersamaan harus menelan pil pahit karena masalah mekanis yang membuat Russell kehilangan peluang podium. Direktur Teknik Lintasan Mercedes, Andrew Shovlin, secara terbuka memuji penampilan Antonelli yang dinilainya luar biasa.
“Selamat kepada Kimi atas gelar juara dunianya. Balapan berjalan sangat dinamis, tetapi dia melakukan pekerjaan hebat dalam mengelola ban soft pada stint pertama dan mampu bertahan lebih dari 40 lap,” ujar Shovlin dalam rilis resmi tim.
Strategi ban menjadi pembeda. Antonelli, yang start dari posisi keempat, memilih memulai dengan ban soft dan sukses menjaga performa ban hingga jauh melewati batas normal. Pendekatan ini menciptakan offset strategi yang signifikan terhadap para pesaingnya. Meski periode red flag pada lap 45 sempat menghapus keunggulan tersebut, pembalap berusia 20 tahun itu tetap tenang saat balapan dilanjutkan. Ia langsung menyalip Charles Leclerc dari Ferrari untuk merebut posisi podium dan mengunci gelar juara dunia 2026.
“Dia memulai restart dari P4 tetapi melakukan manuver yang sangat baik terhadap Leclerc untuk kembali ke posisi podium. Setelah itu, dia mengendalikan balapan dengan sangat terkendali hingga finis ketiga dan meraih gelar. Sepanjang musim dia tampil luar biasa, dan cara dia menangani tekanan hari ini menunjukkan kemajuan besar yang telah dia capai,” tambah Shovlin.
Di sisi lain garasi, Russell harus menelan kekecewaan. Start dari posisi kedua, pembalap asal Inggris itu mengalami kegagalan sistem deploy baterai sebelum mencapai zona pengereman pertama. Hilangnya tenaga listrik secara tiba-tiba membuatnya kehilangan banyak posisi di lintasan lurus utama, yang kemudian merusak strategi balapannya secara keseluruhan. Situasi diperparah dengan penalti 10 detik karena memutar mobil Red Bull milik Isack Hadjar di tikungan 6.
“George menjalani sore yang sulit bukan karena kesalahannya sendiri. Masalah deploy pada putaran menuju tikungan 1 membuatnya kehilangan beberapa posisi dan berada dalam posisi bertahan sejak awal. Dari sana, dia harus pulih di tengah lalu lintas, dan kontak dengan Hadjar serta penalti berikutnya membuat tugasnya semakin berat,” jelas Shovlin.
Meski demikian, Russell tetap menunjukkan ketenangan dan berhasil menyelamatkan posisi keenam. Namun, pihak pitwall Mercedes tidak mencari alasan atas gangguan elektrik tersebut. “Ini sangat mengecewakan karena kami tidak memberikan start balapan yang dia butuhkan, dan itu adalah kesalahan kami sebagai tim,” akunya.
Dengan gelar pembalap sudah di tangan, Mercedes tidak berniat mengendurkan tempo. Tim asal Jerman itu langsung mengalihkan fokus ke GP Brasil di Interlagos akhir pekan nanti. “Kami memiliki banyak hal untuk difokuskan menjelang Brasil. Kami ingin menambahkan gelar konstruktor ke gelar pembalap, dan kami tahu kami masih harus tampil maksimal untuk mewujudkannya. Kami akan merayakan hari ini, lalu segera mengalihkan perhatian ke balapan berikutnya,” tutup Shovlin.
Bagi Mercedes, keberhasilan Antonelli menjadi bukti bahwa program pengembangan pembalap muda mereka membuahkan hasil. Namun, insiden yang menimpa Russell menjadi pengingat bahwa keandalan mobil masih menjadi pekerjaan rumah. Akankah Mercedes mampu menyapu bersih gelar pembalap dan konstruktor musim ini? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa seri tersisa.



