Dari Filipina ke Arktik: Migran Asia Tenggara Menjadi Tulang Punggung Ekonomi Greenland
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 1.700 warga Filipina dan Thailand kini menetap di Greenland, menjadikan mereka komunitas asing terbesar di pulau tersebut.
- Gelombang migrasi ini dipicu oleh kekurangan tenaga kerja lokal dan upah rata-rata tahunan yang mencapai US$52.800, jauh di atas standar Asia Tenggara.
- Pemerintah Greenland tengah menyusun kebijakan integrasi untuk mengelola dampak sosial dan ekonomi dari perubahan demografis yang cepat ini.

Di tengah lanskap es yang membentang luas, sebuah fenomena migrasi baru tengah mengubah wajah Greenland. Ribuan pekerja dari Asia Tenggara, terutama Filipina dan Thailand, kini menjadi komunitas asing terbesar di pulau terbesar di dunia tersebut, mengisi kekosongan tenaga kerja yang selama ini menghambat pertumbuhan ekonominya.
Berdasarkan data terkini, sekitar 1.300 warga Filipina dan 460 warga Thailand menetap di Greenland dari total populasi 57.000 jiwa. Angka ini melonjak drastis dalam lima tahun terakhir—jumlah warga Filipina naik hampir lima kali lipat dari 270 orang, sementara populasi Thailand berlipat ganda. Mereka tersebar di berbagai sektor, mulai dari supermarket, hotel, restoran, hingga fasilitas kesehatan dan perusahaan kecil.
Christian Kjeldsen, CEO Asosiasi Bisnis Greenland, menegaskan bahwa ketergantungan pada tenaga kerja asing bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. "Bahkan jika semua penduduk lokal bekerja dua atau tiga pekerjaan sekaligus, kita tetap kekurangan orang," ujarnya. Saat ini, 12-13 persen tenaga kerja di wilayah otonom Denmark itu berasal dari luar Greenland, mencerminkan ekonomi yang semakin bergantung pada kontribusi migran.
Fenomena ini tidak lepas dari kebijakan ekspansi ekonomi yang digencarkan pemerintah setempat, terutama di sektor pariwisata, jasa, pertambangan, dan energi. Di sisi lain, perhatian global yang mengarah ke Greenland—termasuk minat Presiden AS Donald Trump untuk menguasai pulau tersebut—justru mempercepat laju pembangunan dan kebutuhan akan tenaga kerja tambahan.
Bagi para migran, Greenland menawarkan lebih dari sekadar upah tinggi. Rid Mondejar, seorang ibu asal Cebu yang telah tinggal di Sisimiut selama 11 tahun, mengaku menemukan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan di kampung halamannya. "Di sini, anak saya bisa bermain di alam terbuka, bukan hanya duduk di depan televisi," katanya. Namun, ia juga mengakui tantangan berat: musim dingin yang gelap gulita, suhu ekstrem, dan rasa terasing dari hiruk-pikuk kehidupan modern.
Jalur migrasi ini sebagian besar terbangun melalui jaringan keluarga. Annabelle Cruz, 39 tahun, adalah salah satu contohnya. Setelah kakaknya pindah ke Nuuk 16 tahun lalu, kini 31 anggota keluarganya bekerja di ibu kota Greenland. Ia bekerja sebagai pimpinan penjualan di jaringan supermarket lokal dan menguasai tiga bahasa—Inggris, Denmark, dan Greenland—dalam waktu dua tahun. "Gaji di sini jauh lebih tinggi, dan saya penasaran dengan kehidupan di Arktik," ujarnya.
Kehadiran migran Asia juga melahirkan ekosistem bisnis baru. Merlyn Mejala, yang datang dari Mindanao pada 2010, kini memiliki toko kelontong yang menjual produk-produk Asia. Tokonya menjadi pusat berkumpulnya para ekspatriat yang merindukan rasa kampung halaman. Namun, seiring bertambahnya jumlah migran, ia mengakui rasa kebersamaan mulai memudar. "Dulu komunitasnya kecil dan mudah berkumpul, sekarang semakin besar dan sulit berkomunikasi," katanya.
Di sisi lain, integrasi tidak selalu berjalan mulus. Steven Arnfjord, profesor madya di Universitas Greenland, menyoroti adanya ketegangan kecil ketika warga lokal harus dilayani dalam bahasa yang bukan bahasa ibu mereka. "Ini menjadi tantangan yang harus kita kelola agar tidak berubah menjadi cerita buruk," ujarnya. Kasus-kasus rasisme terisolasi juga masih terjadi, seperti keluhan bahwa pekerjaan lokal "diambil alih" oleh orang Filipina.
Meski demikian, banyak migran yang berhasil melebur dengan budaya setempat. GP Dupitas, perawat asal Mindanao, bahkan mendalami tradisi berburu—kegiatan sakral bagi masyarakat Inuit. Ia mengisi freezer dengan daging rusa kutub dan lembu kesturi untuk bertahan selama musim dingin, sambil tetap memasak hidangan Filipina seperti adobo untuk anak-anaknya. "Mereka lahir di sini, makan paus dan anjing laut di sekolah, tapi di rumah saya masak makanan Filipina," katanya.
Bagi Greenland, gelombang migrasi ini adalah keniscayaan sejarah. Pemerintah setempat kini tengah menyusun kebijakan integrasi yang lebih cepat untuk mempermudah perusahaan merekrut pekerja asing. Namun, seperti diingatkan oleh Tillie Martinussen, mantan anggota parlemen, narasi politik yang mengadu domba warga lokal dan pendatang harus dihindari. "Kita butuh tenaga mereka untuk membangun ekonomi dan cara hidup kita," tegasnya.
Pertanyaannya kini: dapatkah Greenland menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan pelestarian identitas budayanya? Atau akankah gelombang migrasi ini justru menjadi katalis bagi transformasi sosial yang lebih besar di wilayah paling terpencil di Bumi?



