Gempa Kumamoto: 36 Tewas, 9.000 Mengungsi, Industri Mulai Bangkit Kembali
Baca dalam 60 detik
- Tiga hari pascagempa berkekuatan 7,1 SR di Kumamoto, 36 orang dipastikan tewas dan lebih dari 9.000 warga masih bertahan di pusat evakuasi.
- Perusahaan seperti Sony dan Toyota bergerak memulihkan operasional pabrik, sementara pasokan air bersih untuk 79.000 rumah tangga belum pulih.
- Pengerahan pesawat Osprey V-22 untuk bantuan bencana menjadi sorotan, mengingat sejarah kecelakaan dan penolakan lokal di Jepang.

Lebih dari 9.000 warga Prefektur Kumamoto masih bertahan di pusat-pusat evakuasi hingga Jumat (31/7), tiga hari setelah gempa bumi berkekuatan 7,1 skala Richter mengguncang kawasan barat daya Jepang. Bencana ini telah merenggut 36 nyawa, sementara enam korban lainnya dalam kondisi kritis, dan ribuan rumah tangga belum menikmati aliran listrik dan air bersih.
Dari total korban jiwa, sembilan orang tewas di pabrik Nippon Paper Industries di Yatsushiro, dan tujuh lainnya di pusat perbelanjaan Aeon di Kashima yang mengalami ledakan setelah guncangan. Tim pencari yang terdiri dari sekitar 230 personel kepolisian dari Hyogo, Osaka, dan Tokyo masih menyisir area pusat perbelanjaan tersebut, satu-satunya lokasi operasi penyelamatan yang belum dinyatakan selesai.
Di tengah upaya pemulihan, pemerintah daerah mulai membuka pendaftaran sertifikat korban bencana di wilayah terdampak parah seperti Uki. Dokumen ini menjadi kunci bagi warga untuk mendapatkan keringanan pajak dan kelayakan hunian sementara. Sementara itu, Perdana Menteri Sanae Takaichi mengungkapkan bahwa 56 negara dan kawasan serta tujuh organisasi internasional telah menyampaikan belasungkawa atau tawaran bantuan.
Pemerintah pusat di bawah arahan Takaichi memerintahkan jajaran terkait untuk terus memasok kebutuhan dasar di tempat pengungsian, termasuk mencegah heatstroke di tengah musim panas. Dalam dua hari pertama pascagempa, lebih dari 40 orang dilarikan ke rumah sakit akibat sengatan panas dan kelelahan, terutama mereka yang terpaksa tidur di dalam mobil.
Di sektor industri, langkah pemulihan mulai terlihat. Sony Semiconductor Manufacturing, anak usaha Sony Group, berencana melanjutkan operasional pabriknya di Kikuyo secara bertahap mulai Selasa (4/8) dan menargetkan kapasitas penuh pada pertengahan Agustus. Sebaliknya, Toyota Motor Kyushu memperpanjang penghentian operasi tiga pabriknya hingga Rabu (5/8) dengan pertimbangan keselamatan, logistik, dan kondisi pemasok, tanpa memberikan kepastian jadwal berikutnya.
Menteri Pertahanan mengonfirmasi pengerahan pesawat angkut V-22 Osprey dari Pangkalan Saga untuk mengirim bantuan ke lokasi bencana. Ini merupakan misi kemanusiaan pertama bagi pesawat tilt-rotor tersebut sejak pangkalan barunya di Kyushu dibuka pada Juli 2025. Namun, pengerahan Osprey selalu memicu kontroversi di Jepang karena catatan kecelakaan yang panjang dan penolakan warga di sejumlah daerah penempatan.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa megathrust. Jepang, yang berada di Cincin Api Pasifik, memiliki sistem mitigasi yang canggih, namun tetap menghadapi tantangan besar dalam logistik dan pemulihan pascabencana. Pelajaran dari Kumamoto—mulai dari manajemen pengungsian hingga koordinasi industri—relevan bagi Indonesia yang juga rawan gempa, terutama dalam mempercepat pemulihan ekonomi daerah terdampak.
Ke depan, pertanyaan krusial adalah seberapa cepat infrastruktur vital dan rantai pasok dapat pulih sepenuhnya. Dengan musim panas yang masih berlanjut dan risiko heatstroke, pemerintah Jepang harus memastikan tidak ada korban tambahan di pengungsian. Sementara itu, dunia akan mengamati apakah Osprey dapat membuktikan keandalannya dalam misi kemanusiaan, atau justru menambah daftar kontroversi yang sudah ada.



