Ekspor Menguat, PMI Manufaktur Korea Selatan Tembus Level Tertinggi dalam Empat Tahun
Baca dalam 60 detik
- Indeks PMI manufaktur Korea Selatan naik ke 53,1 pada Juli, menandai ekspansi delapan bulan beruntun, didorong lonjakan permintaan ekspor.
- Pertumbuhan ekspor baru tercatat tercepat sejak April 2021, dengan sektor semikonduktor dan otomotif menjadi pendorong utama.
- Kinerja ini menegaskan ketahanan ekonomi Korea Selatan di tengah perlambatan global, sekaligus memberi sinyal positif bagi rantai pasok elektronik di Asia, termasuk Indonesia.

Aktivitas pabrik di Korea Selatan menunjukkan akselerasi signifikan pada Juli lalu, ditopang oleh melonjaknya permintaan ekspor yang menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Survei terbaru dari S&P Global mengungkapkan indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur Negeri Ginseng berada di angka 53,1, naik dari 52,1 pada Juni.
Angka tersebut menandai ekspansi delapan bulan berturut-turut, sekaligus menggarisbawahi daya saing industri manufaktur Korea Selatan di tengah gejolak ekonomi global. PMI yang berada di atas 50 menunjukkan adanya pertumbuhan, sementara di bawah level itu mengindikasikan kontraksi.
Usamah Bhatti, ekonom di S&P Global Market Intelligence, menilai kinerja ini tidak lepas dari kontribusi sektor semikonduktor dan otomotif. "Volume produksi dan pesanan baru kembali meningkat, dengan kekuatan khusus terlihat di sektor semikonduktor dan otomotif," ujarnya. Pertumbuhan pesanan ekspor baru bahkan tercatat untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, dengan laju tercepat sejak April 2021.
Lonjakan permintaan ini menjadi angin segar bagi perekonomian Korea Selatan yang sebelumnya sempat dibayangi pelemahan investasi konstruksi. Pada kuartal kedua, ekonomi terbesar keempat di Asia ini tumbuh melampaui ekspektasi pasar, ditopang oleh ledakan ekspor semikonduktor. Data resmi yang dirilis Jumat lalu juga menunjukkan output pabrik pada Juni melampaui perkiraan analis.
Bagi Indonesia, kabar ini memiliki relevansi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai salah satu importir utama produk elektronik dan komponen semikonduktor dari Korea Selatan, permintaan yang kuat di negara tersebut dapat memengaruhi harga dan pasokan komponen di pasar domestik. Di sisi lain, penguatan industri manufaktur Korea Selatan juga membuka peluang bagi peningkatan investasi asing langsung di sektor hilirisasi, mengingat banyak perusahaan Korea yang telah menanamkan modalnya di Indonesia.
Namun, para analis mengingatkan bahwa ketergantungan yang tinggi pada ekspor semikonduktor membuat ekonomi Korea Selatan rentan terhadap fluktuasi siklus global. Jika permintaan global melambat, terutama dari mitra dagang utama seperti China dan Amerika Serikat, momentum pertumbuhan ini bisa meredup. Pertanyaannya, mampukah Korea Selatan mempertahankan laju ekspansi ini di tengah ketidakpastian kebijakan moneter global dan tensi geopolitik yang masih memanas?



