Saham Asia Terkoreksi, Minyak Stabil: Pasar Menimbang Dampak Kesepakatan Iran dan Data Tenaga Kerja AS
Baca dalam 60 detik
- Indeks MSCI Asia-Pasifik turun 0,69% setelah reli AI, dengan saham teknologi seperti Samsung dan SK Hynix memimpin pelemahan.
- Harga minyak mentah bergerak stabil di kisaran US$70-an, sementara pasar mencermati potensi kesepakatan Iran-Oman yang bisa membuka kembali Selat Hormuz.
- Pelaku pasar kini fokus pada rilis data nonfarm payrolls AS Jumat ini, yang bisa mempengaruhi keputusan suku bunga The Fed pada September.

Bursa saham Asia melemah pada Kamis (6/8) setelah reli yang digerakkan oleh sektor kecerdasan buatan (AI) meredup. Indeks MSCI untuk Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,69%, dipimpin oleh penurunan saham-saham teknologi. Koreksi ini terjadi setelah Wall Street melemah semalam, di mana Nasdaq mengakhiri rentetan kenaikan berhari-hari akibat kinerja kuartalan SpaceX dan Advanced Micro Devices (AMD) yang mengecewakan investor.
Di Seoul, Samsung Electronics terkoreksi 2,44% dan SK Hynix ambles 6,95%. Sementara di Tokyo, Kioxia jatuh 9,61% dan Tokyo Electron melemah 4,61%. Pelemahan ini menunjukkan bahwa investor mulai mempertanyakan valuasi saham teknologi yang melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir, terutama setelah laporan keuangan sejumlah perusahaan besar tidak memenuhi ekspektasi pasar.
SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, memang mencatatkan pengembalian investasi AI yang lebih cepat dari perkiraan. Namun, kekhawatiran muncul mengenai kemampuan bisnis Starlink yang menguntungkan untuk terus mendanai investasi besar di pusat data. Sementara itu, AMD berhasil melampaui estimasi analis, tetapi hasil tersebut masih di bawah target ambisius investor.
Di sisi lain, pasar komoditas masih dibayangi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Seorang sumber senior Iran dan dua pejabat regional mengungkapkan kepada Reuters bahwa proposal kesepakatan antara Iran dan Oman untuk mengakhiri perang lima bulan dengan Amerika Serikat akan memberikan kendali kepada Teheran atas kapal-kapal yang memasuki Teluk melalui Selat Hormuz. Ini merupakan salah satu konsesi terbesar yang pernah diberikan kepada Iran.
Harga minyak mentah bergerak stabil di kisaran US$70 per barel. Brent turun tipis 0,18% ke US$79,31, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,35% ke US$74,96. Madison Cartwright, analis geo-ekonomi senior di Commonwealth Bank of Australia, memperkirakan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz bisa tercapai pada awal September, meski ia skeptis bahwa kesepakatan akan segera terwujud. "Iran masih memiliki daya tawar lebih dan akan menarik konsesi tambahan dari AS dalam kesepakatan baru," tulis Cartwright dalam catatannya.
Koreksi di pasar Asia juga dipengaruhi oleh data ketenagakerjaan AS yang dirilis ADP pada Rabu. Sektor swasta AS hanya menambah 44.000 pekerja pada Juli, melambat dari 95.000 pada Juni dan sekitar 25.000 di bawah perkiraan. Data ini menjadi sinyal perlambatan pasar tenaga kerja, yang dapat mempengaruhi keputusan Federal Reserve. Para ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan laporan resmi nonfarm payrolls akan menunjukkan penambahan 80.000 pekerjaan pada Juli, setelah 57.000 pada Juni, dengan tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 4,2%.
Menariknya, pasar futures kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 54%, turun dari 58% sehari sebelumnya. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun turun 1,04 basis poin ke 4,607%. Sementara itu, dolar AS stabil di level 157,66 yen setelah intervensi mata uang bersejarah yang dilakukan Jepang dan AS pekan lalu. Intervensi bersama untuk membeli yen ini merupakan langkah langka, dan kedua negara berjanji untuk mengambil tindakan lebih lanjut jika diperlukan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Pelemahan saham teknologi global dapat berdampak pada indeks IDX Technology, sementara ketidakpastian suku bunga AS mempengaruhi nilai tukar rupiah dan arus modal asing. Namun, harga minyak yang stabil memberikan sedikit ruang bagi anggaran energi nasional. "Investor akan tetap berada di sela-sela menunggu laporan pekerjaan AS," kata Juntaro Morimoto, analis senior Sony Financial Group. Harga emas spot naik 1,06% ke US$4.290,26 per ons, sementara perak naik 0,65% ke US$62,48.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah koreksi ini hanya sementara atau awal dari tren penurunan yang lebih dalam. Dengan data tenaga kerja AS yang akan dirilis Jumat, pasar akan mendapatkan petunjuk arah yang lebih jelas. Jika data menunjukkan pelemahan signifikan, The Fed mungkin menahan diri untuk menaikkan suku bunga, yang bisa menjadi angin segar bagi pasar emerging market, termasuk Indonesia. Namun, jika inflasi masih tinggi, kekhawatiran akan kebijakan moneter ketat dapat kembali menekan aset berisiko.



