Pegula dan Eala Bersiap Duel Final Washington Open: Perburuan Gelar Pertama di Ibu Kota AS
Baca dalam 60 detik
- Unggulan teratas Jessica Pegula melaju ke final setelah menaklukkan Diana Shnaider, memperpanjang tren positifnya musim ini.
- Alexandra Eala, petenis muda Filipina, menorehkan sejarah dengan mengalahkan Naomi Osaka dan menembus final pertamanya di level WTA.
- Partai puncak ini menjadi ajang pembuktian bagi Eala melawan pemain top dunia, sekaligus ujian konsistensi Pegula dalam perburuan gelar ketiganya tahun ini.

Washington, 2 Agustus 2025 โ Dua petenis dengan ambisi berbeda akan saling berhadapan di final Washington Open. Jessica Pegula, unggulan teratas asal Amerika Serikat, memastikan tempat di partai puncak setelah menundukkan Diana Shnaider 7-5, 6-4 pada Sabtu (2/8). Ia akan berjumpa Alexandra Eala dari Filipina, yang mengejutkan publik dengan mengalahkan Naomi Osaka 6-4, 6-2 di semifinal.
Bagi Pegula, ini adalah kesempatan emas untuk mengamankan gelar ketiganya musim ini setelah sukses di Dubai dan Charleston. Jika berhasil, ia akan menambah koleksi trofi WTA-nya menjadi 12. Menariknya, Washington menjadi saksi gelar pertamanya pada 2019. Namun, lawan yang dihadapi kali ini bukan sembarang pemain. Eala, yang baru berusia 21 tahun, tampil percaya diri dan belum kehilangan satu set pun sepanjang turnamen.
Jalannya semifinal Pegula tidak mudah. Shnaider, yang musim ini menembus semifinal Prancis Terbuka, sempat unggul 5-2 di set pertama. Namun, Pegula bangkit dengan memenangi empat game beruntun untuk merebut set tersebut. Di set kedua, ia mematahkan servis lawan untuk unggul 3-2 dan terus menjaga keunggulan hingga menutup pertandingan dalam 87 menit. "Saya hanya mencoba memanfaatkan beberapa peluang. Saya mulai mencari ritme pengembalian dan mencoba lebih agresif," ujar Pegula seusai laga.
Sementara itu, Eala menunjukkan kematangan luar biasa. Ia tampil tenang menghadapi Osaka, petenis dengan empat gelar Grand Slam. Eala yang pekan lalu mencapai perempat final Wimbledon, berhasil mematahkan servis Osaka di game kesembilan set pertama setelah kedudukan imbang 4-4. Momentum itu dibawanya ke set kedua dengan dua break cepat. Kemenangan ini menjadi yang keenam kalinya musim ini atas lawan yang berada di peringkat 10 besar dunia, termasuk kemenangan atas Elina Svitolina di babak sebelumnya.
Kemenangan Eala tentu menjadi sorotan, tidak hanya bagi Filipina, tetapi juga kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia, prestasi ini bisa menjadi inspirasi bagi petenis muda, mengingat jarang ada wakil dari regional yang mampu bersaing di papan atas tenis putri. Federasi Tenis Indonesia (Pelti) pun diharapkan bisa memetik pelajaran dari perkembangan Eala yang dibina sejak junior. Keberhasilan Eala membuktikan bahwa talenta Asia Tenggara mampu bersaing di level tertinggi, asalkan mendapat pembinaan dan dukungan yang tepat.
Eala sendiri mengaku percaya diri menghadapi final. "Saya berada di final karena suatu alasan. Saya harus percaya pada diri sendiri. Pegula adalah pemain luar biasa, tetapi saya yakin ini akan menjadi pertandingan yang bagus," katanya. Ia juga menyampaikan rasa hormatnya kepada Osaka. "Sangat senang bisa berbagi lapangan dengan Naomi. Ini pertandingan yang berarti bagi saya."
Partai final nanti akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Eala. Pegula, yang berstatus unggulan pertama dan bermain di kandang sendiri, jelas diunggulkan. Namun, tenis selalu penuh kejutan. Apakah Eala mampu menciptakan sejarah baru bagi tenis Filipina, atau Pegula akan kembali meraih gelar di kota yang menjadi saksi awal kebangkitannya? Jawabannya akan terjawab di lapangan keras Washington.



