Cedera Kambuh, Emma Raducanu Diprediksi Absen Hingga Akhir Musim: Ranking Terancam Anjlok
Baca dalam 60 detik
- Emma Raducanu memutuskan mundur dari US Open akibat retak tulang stres di kaki kanan, menyusul cedera yang sama saat Wimbledon.
- Analis tenis Annabel Croft menilai penghentian musim lebih awal bisa menjadi langkah strategis untuk pemulihan total dan memanfaatkan aturan protected ranking.
- Absen panjang berpotensi membuat peringkat Raducanu turun drastis, mengingat banyak poin yang harus dipertahankan dari turnamen Amerika Utara tahun lalu.

Emma Raducanu dipastikan absen dari US Open 2026 setelah mengalami retak tulang stres (stress fracture) pada kaki kanan bawah. Keputusan ini diumumkan setelah konsultasi dengan tim medis, menyusul cedera serupa yang memaksanya mundur dari Wimbledon. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa petenis Inggris berusia 23 tahun itu bisa menutup musimnya lebih awal demi pemulihan total.
Mantan petenis nomor satu Inggris, Annabel Croft, menilai langkah tersebut justru bisa menjadi keputusan bijak. Menurutnya, Raducanu perlu fokus pada penyembuhan dan memanfaatkan aturan protected ranking untuk melindungi peringkatnya saat kembali bertanding. "Dia sangat tidak beruntung dengan cedera," ujar Croft, yang juga analis di Sky Sports. "Sepertinya dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk tampil konsisten tanpa gangguan fisik."
Raducanu sebenarnya baru saja menunjukkan performa impresif dengan mencapai final turnamen Queen's Club pada Juni laluโfinal terbesarnya sejak menjuarai US Open 2021. Namun, justru dari turnamen itulah cedera kambuh. Sebelumnya, ia juga sempat absen dua setengah bulan karena penyakit pasca-virus yang menyerangnya sejak awal Februari, setelah masalah kaki menghambat persiapan pramusim.
Keputusan mundur dari US Open menambah daftar panjang masalah fisik yang membelit karier Raducanu dalam 12 bulan terakhir. Ia juga tidak masuk dalam skuad Inggris untuk Billie Jean King Cup Finals akhir September. Dengan peringkat yang kini di posisi 49, Raducanu berisiko kehilangan banyak poin karena harus mempertahankan hasil dari turnamen Amerika Utara tahun lalu, termasuk Washington, Kanada, Cincinnati, dan US Open.
Croft, yang pensiun di usia 21 tahun, memahami betul dilema yang dihadapi Raducanu. "Tidak akan mengejutkan jika dia memutuskan mengakhiri musim," katanya. "Itu bukan keputusan buruk karena dia bisa pulih total, beristirahat, dan kembali dengan kondisi prima di awal tahun depan." Namun, ia juga mengingatkan bahwa penurunan peringkat bisa terjadi jika terlalu lama absen, meski protected ranking bisa menjadi penyelamat.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, kabar ini menjadi pengingat betapa rentannya atlet terhadap cedera, terutama di tengah padatnya kalender turnamen. Raducanu, yang pernah menjadi sensasi dunia dengan kemenangan di Flushing Meadows, kini harus berjuang melawan waktu dan kondisi fisiknya. Pertanyaannya, mampukah ia kembali ke puncak performa seperti saat merebut gelar grand slam pertamanya? Atau justru cedera ini menjadi titik balik yang mengubah arah kariernya?



