Air Mata Jack Draper di Tengah Kekalahan Comeback: Cedera Bahu Bayangi US Open
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris Jack Draper menangis di tengah pertandingan saat kalah dari Terence Atmane di babak pertama Kanada Terbuka, memunculkan keraguan atas partisipasinya di US Open.
- Cedera bahu yang berkepanjangan telah membuat peringkatnya merosot dari posisi 4 ke 160 dalam setahun, dan kekalahan ini menandai kembalinya yang pahit setelah absen sejak Juni.
- Dengan wildcard untuk Cincinnati Open pekan depan, masa depan Draper di turnamen besar semakin tidak pasti, menyoroti tantangan pemulihan cedera di tenis profesional.

Jack Draper, petenis Inggris berusia 24 tahun, kembali berlaga setelah absen panjang akibat cedera, namun momen comeback-nya di Kanada Terbuka berakhir dramatis. Ia menangis di tengah pertandingan saat kalah dari petenis Prancis, Terence Atmane, dengan skor 6-3, 2-6, 6-2 di babak pertama, Senin (5/8) waktu setempat. Kekalahan ini tidak hanya mengecewakan, tetapi juga menimbulkan tanda tanya besar atas kesiapannya menghadapi US Open yang akan bergulir pada 23 Agustus mendatang.
Draper, yang pernah menjuarai Indian Wells tahun ini, menerima wildcard untuk turnamen di Montreal setelah cedera lengan yang berkepanjangan membuatnya absen sejak Juni. Cedera bahu yang dideritanya sejak US Open tahun lalu, berupa memar tulang, telah membuat peringkatnya merosot tajam dari posisi 4 dunia ke peringkat 160 dalam kurun waktu 12 bulan. Ia bahkan sempat batal tampil di Wimbledon dan Washington Open musim panas ini.
Pertandingan melawan Atmane memperlihatkan sekilas kehebatan Draper yang dulu. Setelah kalah di set pertama, ia tampil dominan di set kedua dengan forehand silang yang memukau, memaksa penonton Montreal bersorak. Namun, set ketiga menjadi saksi kehancurannya. Draper yang kelelahan kehilangan servis di game pembuka, dan saat tertinggal 4-1, ia duduk di kursi pergantian dan tak kuasa menahan air mata. Momen emosional ini terekam jelas, menunjukkan betapa beratnya beban mental dan fisik yang ia pikul.
Kekalahan ini memicu pertanyaan tentang masa depannya di turnamen besar. Draper sebenarnya dijadwalkan tampil di Cincinnati Open pekan depan, tetapi kondisi ini membuat partisipasinya diragukan. Begitu pula dengan US Open, di mana ia sebelumnya mencapai semifinal pada 2024. Cedera yang tak kunjung pulih ini menjadi momok yang menghantui karier petenis muda yang sempat dijuluki sebagai harapan baru tenis Inggris.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah Draper menjadi pengingat betapa rentannya karier atlet top terhadap cedera. Di tengah euforia prestasi, pemulihan fisik dan mental menjadi kunci. Draper sendiri pernah mengungkapkan frustrasinya karena operasi bukanlah solusi untuk cedera bahunya, sehingga ia harus bersabar dengan terapi konservatif. Kondisi ini mirip dengan yang dialami banyak atlet Indonesia yang harus berjuang melawan cedera tanpa jaminan kesembuhan total.
Di sisi lain, kemenangan Atmane membawanya ke babak kedua untuk berhadapan dengan Karen Khachanov dari Rusia. Sementara itu, petenis Inggris lainnya, Jacob Fearnley, sukses melaju setelah mengalahkan Adrian Mannarino 7-6, 6-4, dan akan bertemu Jakub Mensik dari Republik Ceko. Namun, sorotan tetap tertuju pada Draper, yang masa depannya di lapangan kini diselimuti ketidakpastian.
Pertanyaan besarnya: akankah Draper mampu bangkit kembali ke puncak, atau cedera ini akan menjadi akhir dari karier gemilangnya? Dengan Cincinnati Open yang tinggal menghitung hari, keputusan Draper dalam waktu dekat akan menjadi penentu. Jika ia memaksakan diri, risikonya bisa lebih parah; jika mundur, ia kehilangan kesempatan berharga untuk menguji kesiapannya. Pilihan sulit ini akan menentukan arah kariernya ke depan.



