Dee Wallace: Kesuksesan E.T. Justru Membuat Saya Ingin Menghilang
Baca dalam 60 detik
- Aktris Dee Wallace mengaku popularitas mendadak setelah E.T. justru memicu krisis kepercayaan diri dan keinginan untuk 'mengecil'.
- Fenomena ini mendorongnya mendalami praktik penyembuhan energi dan mengubah keyakinan tentang uang yang diwariskan keluarganya.
- Kisah Wallace menjadi pengingat bahwa kesuksesan eksternal tak selalu sejalan dengan kebahagiaan batin, relevan bagi publik yang tengah mengejar pencapaian.

Kesuksesan film legendaris E.T. the Extra-Terrestrial (1982) justru membawa pergulatan batin bagi Dee Wallace. Aktris yang memerankan Mary Taylor, ibu dari Elliott, itu mengaku popularitas yang datang begitu cepat membuatnya justru merasa tidak percaya diri dan bertanya-tanya mengapa ia ingin 'mengecil' dari sorotan.
Dalam wawancara dengan People, perempuan 77 tahun itu menuturkan bahwa para pemain dan kru film besutan Steven Spielberg sama-sama terkejut dengan sambutan luar biasa penonton. Mereka sadar sedang membuat sesuatu yang magis saat syuting, tetapi keberhasilan sebesar E.T. menurut Wallace sangat bergantung pada momen yang tepat. Namun, alih-alih menikmati ketenaran, ia justru menarik diri dari pergaulan.
โSetelah E.T. rilis dan saya melesat menjadi perhatian banyak orang serta mulai menghasilkan banyak uang, saya mulai mengurung diri. Saya bertanya, 'Apa yang terjadi? Saya mendapatkan semua yang saya inginkan, tapi kenapa saya malah ingin mengecil?'โ ungkap Wallace. Pengalaman ini menjadi titik balik yang membawanya mendalami praktik penyembuhan dengan saluran energi.
Wallace juga mengungkapkan pergulatannya dengan keyakinan lama yang ditanamkan sejak kecil. Ia mengingat pesan neneknya bahwa orang kaya berbeda dengan 'orang baik' dari keluarga miskin, sebuah doktrin yang kerap mengaitkan uang dengan kejahatan. Namun, Wallace kemudian menyadari bahwa sistem kepercayaan itu tidak lagi relevan. Ia memilih untuk mengarahkan kesadarannya bahwa uang bisa menjadi alat untuk berbuat baik bagi keluarga dan dunia.
Di luar dunia akting, Wallace kini dikenal sebagai praktisi penyembuhan energi. Ia mengajarkan bahwa segala sesuatu pada dasarnya adalah energi, dan hanya sedikit orang yang benar-benar memanfaatkannya secara sadar. Menurutnya, ketika seseorang mampu mengarahkan energi secara konsisten, hidup akan berjalan sesuai keinginan. Ia juga menekankan kekuatan afirmasi, bahwa apa yang dipercaya akan terwujud dalam kehidupan.
Kisah Wallace menyoroti dilema psikologis yang kerap dialami para selebritas, di mana puncak karier justru memicu krisis identitas. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi di kalangan publik figur yang mengalami tekanan mental setelah meraih kesuksesan. Hal ini mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu berbanding lurus dengan pencapaian materi atau popularitas.
Wallace menegaskan bahwa hubungan paling penting adalah hubungan dengan diri sendiri. Ia mengkritik anggapan bahwa mencintai diri sendiri dianggap sebagai sifat sombong. Menurutnya, cinta diri adalah fondasi untuk bisa memberi cinta kepada orang lain. โHal terbaik yang bisa Anda lakukan adalah mencintai diri sendiri, lalu bawa cinta itu untuk diberikan kepada semua orang. Tetapi orang pertama yang perlu kita cintai adalah diri kita sendiri,โ tutupnya.
Pernyataan Wallace ini membuka ruang refleksi bagi banyak orang, terutama di era media sosial yang sering menampilkan kehidupan glamor tanpa menunjukkan sisi gelapnya. Pertanyaannya, apakah kita sudah cukup berdamai dengan diri sendiri sebelum mengejar validasi dari luar?



